Masyarakat dihebohkan dengan terungkapnya kasus prostitusi daring yang melibatkan beberapa artis. Bahkan, muncul nama-nama baru dari kalangan model dan finalis Puteri Indonesia yang terseret dalam kasus itu. Masyarakat semakin dibuat tercengang dengan tarif fantastis dalam prostitusi itu karena dianggap tak masuk akal.

Kasus serupa sebelumnya pernah terjadi dengan menyeret beberapa nama artis papan atas. Seakan, bisnis haram ini sudah lazim di kalangan dunia hiburan tanah air. 

Apa pun itu, yang jelas kasus prostitusi artis ini selalu menarik perhatian masyarakat dibandingkan kasus prostitusi yang dilakukan kalangan bukan artis. Pasalnya, artis dianggap sebagai tokoh publik. Popularitas mereka membuat banyak orang selalu ingin tahu seluruh aktivitas mereka. 

Selain mengagumi, masyarakat juga meniru gaya hidup artis, baik dari cara berbusana sampai tutur bicara. Pendek kata, artis memiliki pengaruh yang kuat bagi pola perilaku masyarakat.

Beberapa Dampak Buruk

Namun, masyarakat perlu kritis dalam melihat fenomena prostitusi artis. Pasalnya, ini membawa dampak buruk yang tak disadari. 

Pertama, prostitusi artis memengaruhi masyarakat, khususnya kaum muda. Diam-diam, kaum muda bisa meniru pola perilaku artis dalam kasus ini. Kini, sukar ditemukan teladan bagi kaum muda yang notabene sedang dalam masa meraba jati diri.

Bahayanya, akan muncul mentalitas “ikut-ikutan”. Barangkali, banyak orang akan berpikir, “Jika artis yang kaya saja bisa terjun di dunia prostitusi, mengapa aku tidak?”. Bisikan alam bawah sadar ini akan semakin kuat memengaruhi orang, terutama dalam keadaan ekonomi yang terdesak.

Kedua, pandangan tubuh artis sebagai barang komersil akan semakin menguat dengan terungkapnya kasus prostitusi ini. Seolah, artis hanya dihargai sebatas pada kemolekan tubuhnya, alih-alih pada prestasinya. Apalagi, artis dianggap sebagai tokoh publik. Seolah, ini menguatkan prasangka bahwa menjadi artis hanya bermodalkan kemolekan tubuh.

Ketiga, akan muncul pandangan yang mengobjekkan terhadap artis. Tubuh artis yang dipertontonkan di televisi akan sering menjadi objek fantasi liar banyak orang. Hal inilah yang melukai perjuangan para humanis.

Tak heran, Yohanes Paulus II menyebut bahwa dewasa ini sisi personalitas manusia tengah dilukai. Pasalnya, manusia seringkali hanya dihargai sebatas pada tubuhnya.

Keempat, pelecehan pada artis akan masif terjadi. Seolah, artis bisa dibeli dengan uang. Seolah, televisi menjadi layaknya etalase yang “menjual” kemolekan tubuh artis. 

Hal ini mengingatkan kita akan kebun binatang manusia di masa kolonialisme bangsa Eropa terhadap Afrika. Beberapa perempuan dan anak-anak suku pribumi Afrika dipertontonkan di muka umum. Seolah, tubuh mereka adalah barang komersil yang layak dipertontonkan. Sekali lagi, kemanusiaan kita kembali dilukai.

Di sini, pemerintah perlu bersikap tegas dalam mengusut kasus prostitusi artis. Upaya pemberantasan kejahatan prostitusi di dunia maya harus terus dilakukan agar tak semakin memengaruhi masyarakat. Jangan sampai prostitusi ini memakan korban anak di bawah umur!

Sementara itu, masyarakat seyogianya bijak agar tak mudah terpengaruh sentimen penggemar. Artis juga manusia yang bisa bersalah. 

Artis memang sering menjadi panutan dalam berbusana. Namun, tak semua hal dalam diri artis bisa menjadi panutan. Akhirnya, kita perlu menyadari bahwa dunia hiburan bukan sekadar unjuk kemolekan tubuh.

Urusan tubuh artis bukan sekadar untuk dirinya sendiri. Memang, mereka menitih karier dengan keringat sendiri. Namun, mereka hendaknya sadar bahwa mereka menjadi sorotan publik. Langkah dan gerak perilaku sekecil apa pun akan menjadi sorotan masyarakat. 

Syukur apabila artis menjadi teladan. Namun, ini akan menjadi pedang bermata dua ketika mereka malah membawa dampak yang buruk, khususnya untuk remaja.

Di samping itu, realitas ini perlu disadari bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang latah. Tren dan pola hidup mudah memengaruhi kita yang hidup di negara berkembang. 

Tak bisa ditolak bahwa kita tengah digempur psikologi massal. Korbannya bukan hanya masyarakat awam, tapi juga mereka yang berkarya di dunia pendidikan. Artinya, kasus prostitusi artis ini membawa ekor persoalan yang panjang.

Lebih dari itu, perlu dikoreksi bersama bahwa penggunaan term-term yang menyudutkan perempuan harus segera dihentikan. Seolah, perempuan disamakan dengan ikan dalam pengandaian kucing akan tergoda bila diberi ikan. Hal seperti ini tak semestinya didengungkan lagi karena akan semakin mereduksi jati diri perempuan.

Tak perlu kita mencari kambing hitam persoalan ini. Baik perempuan maupun laki-laki telah menjadi korban pelecehan. Kita tak lagi berhadapan dengan masalah pelecehan perempuan, tapi ini merupakan masalah kemanusiaan. 

Pasalnya, kita tengah saling mengobjekkan satu sama lain. Maka, persoalan ini tak bisa sekadar dilihat sebagai gejolak publik sesaat.

Pada akhirnya, setiap artis juga perlu menyadari bahwa dirinya adalah tokoh publik. Mereka harusnya dikenal bukan karena sensasi, tapi prestasi. 

Lebih dari itu, artis juga menjadi teladan, bukan sekadar memanfaatkan ketenaran. Sebagai tokoh publik, artis perlu menjaga segala perangainya agar tak membawa pengaruh buruk bagi masyarakat.