Kabar yang menimpa Audrey menambah deretan panjang kasus kekerasan dan perundungan yang menimpa generasi kita. Audrey yang masih SMP dikoryok oleh 12 siswa SMA di Pontianak, Kalimantan Barat. Miris sekali, kekerasan dan perundungan terhadap Audrey dilakukan secara biadab dan brutal.

Penganiayaan pada Audrey dilakukan di dua tempat, di Jalan Sulawesi dan Taman Akcaya. Kepala Audrey dibenturkan pada aspal hingga pengrusakan pada keperawanan. 

Akibat dari tindakan biadab itu, korban mengalami perawatan intensif di rumah sakit. Bahkan, Audrey dikabarkan mengalami trauma yang berat, baik fisik maupun psikologis.

Tidak ada alasan apa pun yang bisa dijadikan pembenar dalam kasus brutal ini. Sadar atau tidak, tindakan kekerasan ini adalah buah dari normalisasi tindakan kekerasan yang berlangsung dalam sosial politik kita. Akibatnya, kekerasan dianggap lazim oleh generasi muda. Dan, ini hanya beberapa saja yang terungkap.

Pengeroyokan yang menimpa Audrey adalah luka kita semua. Bagaimana tidak, kekerasan ini dilakukan oleh sesama pelajar, sesama perempuan pula. Selain itu, tentu ini menjadi sayatan pedih bagi seluruh perempuan di Indonesia dan bagi siapa pun yang anti terhadap segala bentuk kekerasan.

Sebenarnya, kasus Audrey ini terjadi sekitar dua pekan yang lalu, Jumat (29/3/2019). Perbincangan ramai ketika ada pemberitaan bahwa kasus yang menimpa Audrey akan diselesaikan dengan jalan damai. 

Kabar ini tentu memicu emosi publik karena dianggap menjadi jalan mulus terhadap pembiaran-pembiaran kekerasan yang berulang-ulang. Akhirnya tagar Justice For Audrey pun trending topic di lini masa media sosial sebagai bentuk kepedulian publik kepada Audrey.

Hemat penulis, ada beberapa hal yang penting diperhatikan kaitannya dengan kekerasan yang menimpa Audrey. Pertama, ini adalah akibat dari kebiasaan kita selalu menyelesaikan kekerasan di bawah umur dengan jalan damai. 

Saya rasa, ini harus menjadi yang terakhir agar kekerasan serupa tidak terulang di kemudian hari. Artinya, mekanisme hukum bagi anak harus ditegakkan, termasuk penjara anak sebagaimana diatur undang-undang.

Kedua, pengeroyokan terhadap Audrey ini menyangkut moralitas generasi muda kita. Apa pun alasannya, ini harus menjadi pengingat bagi generasi muda untuk berpikir dua kali—bahkan jutaan kali—bahwa kekerasan dan perundungan adalah tindakan biadab yang tidak berperikemanusiaan.

Ketiga, ini menjadi lonceng pengingat atas pola asuh terhadap anak yang selama ini dilakukan oleh orang tua. Dalam hal ini, semua orang tua harus menjadi titik awal untuk menjadi kontrol kejiwaan anak-anaknya. Artinya, orang tua harus lebih berhati-hati agar anak-anaknnya tidak lepas kontrol.

Kasus yang menimpa Audrey ini benar-benar menjadi pukulan telak bagi kita semua. Moralitas generasi muda menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah. 

Bahkan, para pelaku pengeroyokan itu tidak merasa bersalah sama sekali. Mereka masih bisa tersenyum bangga di media sosial atas tindakan biadab yang diperbuatnya. Menyedihkan, tidak ada rasa malu sedikit pun, seolah-olah yang mereka perbuat adalah suatu kewajaran.

Lalu, bagaimana mengakhiri kasus ini?

Saya rasa—jika kita masih merasa sebagai manusia—tentu kita tidak ingin menyaksikan kembali kejadian buruk yang menimpa Audrey. Untuk itu, korban harus mendapat keadilan yang sebenar-benarnya. 

Audrey adalah kita. Dia berhak menikmati masa depannya. Kasus ini harus dikawal. Jangan lagi ada ungkapan bahwa pihak dari korban memilih bungkam karena ada intimidasi dan ancaman dari pelaku.

Artinya, keadilan hukum harus tegak, apa pun alasannya. Karena apa pun yang terjadi, jalan damai justru menjadi lampu hijau untuk kejadian serupa di kemudian hari.

Apa yang menimpa pada Audrey harus menjadi yang terakhir. Kita semua tidak ingin mendengar dan menyaksikan lagi kekerasan terhadap perempuan, terlebih pada anak-anak.

Sekali lagi, damai dan maaf bukan solusi. Pelaku pengeroyokan tetap harus diproses secara pidana atas tindakan biadabnya. Tidak ada alasan di bawah umur, karena undang-undang sudah mengatur hukum yang sesuai untuk pidana anak-anak. Jika tidak, ini akan menjadi pemicu generasi kita untuk berbuat nakal karena merasa tidak ada konsekuesnsi hukum yang serius. Apa pun alasannya, hukum harus berlaku secara konsisten.

Sudah cukup banyak kita menyaksikan kasus-kasus kekerasan yang dilakukan anak di bawah umur dan berakhir dengan damai, tanpa ada hukuman bagi pelakunya. Hasilnya apa? Tidak ada. Justru akan menjadi alat pembenar untuk melakukan tindakan yang serupa. Moralitas generasi muda rusak dan bertindak sesuka hati tanpa berpikir bahwa perbuatannya telah merugikan banyak orang.

Terakhir, kita semua harus sadar bahwa bullying (perundugan) tidak bisa dianggap sepele. Audrey adalah bukti nyata dari sekian banyak kasus bahwa bullying is a crime

Sekali lagi, membiarkan kasus yang menimpa Audrey berjalan damai—bahkan dengan dalih di bawah umur dan masa depan pelaku—sama halnya membiarkan kekerasan di kalangan anak-anak sebagai tindakan kewajaran.