Beberapa tahun terakhir, hingga akhir-akhir ini, bahkan sampai detik ini, kehidupan rasa-rasanya penuh dengan kegaduhan. Baik sebagai warga Kota Ternate di Provinsi Maluku Utara, hingga sebagai masyarakat Negara Bangsa Indonesia, bahkan sebagai bagian dari warga dunia. 

Kegaduhan

Kegaduhan terjadi dalam berbagai lapisan, di Kota Ternate beberapa waktu belakangan, media ramai dengan kegaduhan terjadi di pasar oleh sekelompok pedagang yang merasa ada ketidakadilan dari relokasi yang telah dilakukan Pemerintah Kota pada para pedagang di sekitaran pasar higenis, hingga berujung aksi protes yang dilakukan para pedagang. 

Di sebelah selatan Provinsi Maluku Utara juga ada kegaduhan yang ikut ramai di media, tepatnya di Kabupaten Halmahera Selatan, ada baku balas pantun antara akademisi unkhair vs akademisi unkhair & Bupati Halmahera Selatan, soal ambisi Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dalam menggenjot peningkatan PAD pada APBD-P 2021 yang dinilai oleh pihak akademisi lain sebagai keputusan yang berisiko terjadi pelebaran defisit keuangan daerah.

Di wilayah yang lebih luas sebagai suatu bangsa, iklim Negara kita juga penuh dengan kegaduhan, di TV, Instagram, Twitter dan media-media pemberitaan online lainnya ramai dengan saling serang antara politikus. Seperti singgungan Giring mewakili PSI ke Gubernur DKI Jakarta yang dianggap PSI sebagai pembohong, langkah PSI ini dinilai tidak berdasar dan merupakan langkah bodoh oleh sebagian politisi senior dan pengamat. 

Juga ada kabar tentang Luhut Binsar Panjaitan yang diberikan tugas baru lagi oleh Presiden Jokowi, yang dinilai oleh banyak orang sangat tidak masuk akal, bagaimana tidak, Luhut begitu banyak memikul jabatan, seolah-olah dari 272.229.372 jiwa penduduk Indonesia hanya Luhut seorang yang sanggup memikul pekerjaan-pekerjaan itu. 

Juga soal somasi yang dilayangkan Luhut menjawab kritikan Haris Azhar, yang dinilai banyak pihak merupakan tindakan pembungkaman terhadap kritik di dalam Negara demokrasi.

Bahkan dari dunia politik Global, isu Taliban yang berhasil menguasai Afghanistan, hingga determinasi Negara-negara besar dunia, soal ini juga ikut mewarnai kebisingan dari kegaduhan dunia. 

Kegaduhan-kegaduhan yang juga terus mewarnai keseharian kita melalui media-media dunia sejak revolusi industri di dunia dan reformasi di Indonesia seolah menjadi trend yang di pakai sebagai cara main politikus dan media-media hari-hari ini agar laku di pasaran yang menjadi target masing-masing dari mereka.

Dari kegaduhan demi kegaduhan ini saya mengingat tulisannya Budi Purwanto seorang alumni pascasarjana Universitas Persada Indonesia yang menulis TheoriKultivasi : Kegaduhan Politik dan Perilaku Masyarakat.

Teori ini menerangkan tentang perilaku politikus yang ditayangkan media dan disaksikan oleh pemirsa atau publik, akan dipandang sebagai kenyataan, dan diduga akan mempengaruhi mental publik serta akan direplikasi kembali oleh publik dalam kesehariannya, yang pastinya akan berakhir tidak baik. Sehingga dengan begitu dapat dipahami bahwa perilaku gaduh, membuat bibit gaduh, dan kemudian akan memanen kegaduhan.

Benar saja bahwa cepat atau lambat kegaduhan akan pecah dalam skala yang lebih besar sebagai tanda luapan kesesakan sanubari atas ketidak adilan, kerusakan mental akibat buruknya pendidikan dan tauladan politik, serta ledaknya bom waktu atas kesabaran yang menumpuk menjadi kegelisahan dan kemarahan atas perampasan kebebasan demi kebebasan oleh kekuasaan. 

Hal ini akan berlangsung cepat atau lambat, seperti kata Bung Fahri Hamzah beberapa hari lalu pada podcast Dedy Corbuzer, bahwa karakter manusia Indonesia yang dirampas kebebasannya akan menumpuk dan meledak dengan dahsyat pada waktu yang tidak akan lama lagi. 

Benar, hal itu sedang mencari jalan keluar untuk dilalui, sehingga sikap kita yang tengah prihatin akan menentukan apakah ledakan itu semakin cepat sebagai sikap perjuangan, atau surut dalam ketenangan dan keikhlasan sebagai bangsa.

Melawan dan Mendamaikan          

Di tengah-tengah kegaduhan yang semakin berbahaya ini kita dihadapkan pada dua pilihan untuk menjadi, menjadi sosok sejuk dan bijak yang mendamaikan, atau sosok tegas dan keras untuk memimpin perlawanan. 

Ini adalah dua pilihan yang paling krusial, karena diam-diam saja bukanlah jalan untuk menciptakan keselamatan sebagai sebuah bangsa. Sehingga dalam perenungan yang penuh kata prihatin itu, saya dipertemukan dengan Emah Ainun Nadjib yang akrab disapa Cak Nun. 

Dalam pertemuan itu Cak Nun membisikan QS. Al-Hujurat ayat 9, ternyata di sana adalah pesan untuk mereka yang tengah gelisah pada keputusannya di tengah kegaduhan demi kegaduhan.

QS. Al-Hujurat ayat 9 :

وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْافَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰىفَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِ ۖفَاِنْفَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَيُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

“Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Maka pertama-tama lihatlah kezaliman macam apa yang tengah mewarnai kegaduhan kita sebagai bangsa, kemudian berdirilah melawan kezaliman itu, setelah kezaliman telah kalah di atas perjuangan kebenaran, barulah memulai langkah membangun kedamaian dengan seadil-adilnya, dengan menjadi penggerak dan atau pengajak FaAshlihu yang diterangkan Cak Nun sebagai amanah dari surat Al-Hujurat, yaitu mendamaikan.

Mengumandangkan FaAshlihu tentunya tidak mudah, kita harus memulainya dengan keberpihakan pada kaum mustadhafin terlebih dahulu dengan meniatkan sebuah upaya menghancurkan kezaliman serta mengibarkan kesadaran, tentu bukan membunuh atau menghilangkan spirit kebangsaan. 

Hanya dengan begitu barulah kita bisa mendamaikan dan memastikan akan ada kesejukan dan tidak ada lagi kegaduhan dalam kehidupan sebagai suatu bangsa. Yang ada dan tersisa dari upaya Fa Ashlihu adalah kebebasan dari kezaliman dan kenikmatan dalam keyakinan berkebangsaan.

 

Membacot dari sudut kamar di sepertiga malam Jumat 24 September 2021.