Di tengah gempuran kemunculan ragam platform media massa kekinian, media massa cetak menjadi subjek yang makin terpinggirkan. Ibarat pepatah, hidup enggan mati pun tak mau. Tak terkecuali media-media yang sempat beroplah tinggi juga mulai was-was terdampak bencana senjakala ini.

Meski kehadirannya masih dapat dirasakan, media cetak sedikit demi sedikit popularitasnya makin tenggelam. Apalagi dengan kebangkitan trend jurnalisme digital dan media sosial yang menggeser pola perilaku masyarakat mengonsumsi informasi.

Berakhirnya rezim Orde Baru merupakan penanda babak baru pengelolaan media selepas tiga dasawarsa penuh kontrol ketat. Pengganti Soeharto, B.J. Habibie, mengeluarkan Undang-Undang No. 40 tahun 1999, intinya tidak lagi membatasi penerbitan media melalui Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), yang dulu wajib dimiliki perusahaan media.

Media cetak termasuk yang tumbuh paling pesat, mencapai 1.687 unit, dalam wujud surat kabar, tabloid, majalah, hingga buletin. Kerja-kerja jurnalistik pun dibebaskan dengan jaminan tak akan ada lagi intervensi negara. Tapi sekarang persoalannya sudah lain.

Media-media yang mengandalkan keberlangsungan denyut bisnisnya dari oplah cetak dan iklan ini lantas menutup biro-biro daerahnya, atau untuk menekan biaya operasional lewat jalan mempersempit jangkauan. Namun, sejumlah media cetak justru memilih tetap bertahan, meski bernapas empot-empotan.

Ada yang latah dengan bermigrasi ke platform dalam jaringan (daring), juga tak sedikit yang memutuskan melacurkan diri menjadi media partisan. Dewan Pers sendiri menyatakan lebih dari 1.300 penerbitan cetak di seluruh provinsi terpaksa gulung tikar selama 15 tahun terakhir. Mereka limbung digilas teknologi.

Salah satu media cetak yang memilih keukeuh bertahan adalah harian Republika. Republika adalah sebuah koran nasional yang lahir dari kalangan komunitas muslim bagi publik di Indonesia. Berdiri sejak 1992 dan pertama kali menerbitkan koran pada 1993 oleh Yayasan Abdi Bangsa dan didukung oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Kini harian Republika diterbitkan oleh PT. Republika Media Mandiri dan menjadi harian umum. Sejak berdiri dua puluh lima tahun silam dan beberapa kali berganti kepemilikan, harian Republika tak mengalami perubahan visi maupun misi. Yakni surat kabar yang bermisi sebagai koran masyarakat baru yang maju, cerdas, dan beradab. Sedangkan visi Republika adalah modern, moderat, muslim, kebangsaan, dan kerakyatan.

Mendeklarasikan diri sebagai harian beridentitas ideologi tertentu bukannya nir-tantangan. Republika terganjal identitasnya sendiri. Republika dihadapkan pada pilihan sulit untuk mendengar suara hatinya sendiri.

Alih-alih bersikap profesional dengan menjunjung etika jurnalistik, ikhtiar Republika untuk cover both side justru disalahartikan. Curahan hati (curhat) ini disampaikan langsung Pemimpin Redaksi Republika, Irfan Junaidi, saat penulis mengikuti sebuah forum di Malang, Jawa Timur (18/11).    

Misalnya, saat Republika memuat berita tentang penganugerahan penghargaan Kanisius ke Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta terpilih, Anies Baswedan, tempo waktu. Ketika itu acara diwarnai aksi walk out salah seorang penerima penghargaan kepada komposer ternama, Ananda Sukarlan. Setelah dikonfirmasi, Ananda menilai pemberian penghargaan kepada Anies tidak pantas karena terpilih melalui pemanfaatan sentimen agama dan tidak demokratis.

Keesokan harinya Republika lantas memuat berita peristiwa tersebut. Beberapa hari setelahnya, panitia dari Kanisius berinisiatif untuk datang kepada Anies untuk meminta maaf atas kejadian tersebut yang kemudian juga diberitakan Republika. Saat berita itu dimuat, seorang profesor lantas mengirim pesan singkat kepada Irfan.

Isi pesan tersebut kurang lebih menyayangkan keputusan Republika memberikan ruang bagi pihak Kanisius dalam momen permintaan maaf tersebut. Padahal, kata sang Profesor, Republika notabene koran muslim sehingga tidak usah memberi ruang pada pihak yang, dianggap sang profesor, berseberangan dengan muslim. Irfan mengaku syok menerima komplain demikian.

Suara-suara bahwa Republika harus berada di tengah diterjemahkan dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Kira-kira posisinya sama dengan ketika kita melihat bola dunia atau globe. Kita taruh titik di situ yang kita harus memastikan titik itu harus berada di tengah. Akankah memungkinkan untuk memosisikan titik tadi berada di tengah? Kira-kira taruh di mana titik itu? Bagi Republika, posisi tengah mustahil akan pernah ketemu.

“Begitu kita mencoba, misalkan, membuka diri saat ada tragedi Syiah di Madura. Serangan tiba-tiba itu datang kepada kami, bahwa Republika sudah Syiah karena membela kelompok Syiah. Begitu kita beritakan yang banyak Sunni-nya, orang Syiah pun akan berteriak bahwa Republika tidak memberikan tempat kepada mereka.”

Padahal, lanjutnya, sesungguhnya Republika memberikan tempat kepada semuanya. Cuma kita belum terbiasa memberikan tempat kepada orang lain.

Sempat suatu waktu Republika pernah membuka ruang bicara dengan yang bergiat di ormas-ormas Islam, baik mereka yang berada di golongan paling kanan, atau di kalangan yang paling kiri. Justru yang dimunculkan adalah sekat-sekat yang ada di antara mereka dan mereka sangat asyik bermain di arena yang berada di sekatnya masing-masing itu. Irfan mengibaratkan bahwa umat Islam sebenarnya mempunyai rumah yang besar sekali.

“Di dalam rumah itu ada kamar-kamar. Ada kamarnya JIL, ada kamarnya HTI, dan ada kamar-kamar yang lainnya. Nah, sementara kita tidak pernah membuka kamar kita masing-masing. Akibatnya yang terasa bahwa kita sebenarnya bukan umat yang memiliki rumah besar tadi. Tapi kita umat yang punya kamar kost yang kecil, padahal kamar kost itu berada di rumah yang besar,” keluhnya.

Memang betul. Berbicara dari segi apa pun, umat Islam menjadi pihak yang menang. Dari sisi jumlah, umat Islam memiliki jumlah yang paling besar. Bahkan di mana-mana kita mengklaim, dan satu-satunya yang paling membanggakan bagi umat muslim Indonesia, yakni sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Itu prestasinya. Tapi apa dengan jumlah yang besar ini kita menjadi besar juga? Itu pertanyaan yang harus kita jawab selanjutnya.

Berbicara manajemen isu, diakui Irfan, media itu lebih enak dan fleksibel kalau tidak ada label ideologi tertentu di dalamnya. Media akan menjadi bebas dan luwes untuk bergerak.

Tapi, ketika sebuah media membawa label ideologi tertentu di dalamnya, pada saat datang ke market, sebagian pasar sudah ada barrier atau penghalang terlebih dahulu. Karena kebanyakan investor maupun pengiklan mengaku tidak terbiasa men-support media dengan label ideologi atau kelompok tertentu.

Pada dasarnya Republika memberitakan isu yang tidak jauh berbeda dengan media-media pada umumnya. Misalnya Republika memberitakan kasus Mega Proyek KTP Elektronik yang menjerat Ketua DPR RI Setya Novanto. Media lain pun memberitakan isu yang sama. Karena memang isu itu dinilai isu yang memiliki news value yang tinggi.

Selain itu, jika ditinjau dari dimensi keislaman, alasan Republika memberitakan Setya Novanto karena menyangkut ajaran Islam yang anti-korupsi. “Sehingga ketika kita memberitakan Setya Novanto, ya bismillah kita sedang berdakwah. Kita-kira seperti itulah,” terangnya. Namun begitu, karena ini merupakan koran berlabel Islam, market memberi respon yang berbeda.

Republika mengaku sempat putus asa membawa media dengan misi ideologi ke-Islaman. Tapi demikian takdir itu menurutnya tidak salah dan tidak patut dipersalahkan. Dalam kondisi ekonomi yang tengah mengalami turbulensi seperti saat ini, Republika berani mengklaim satu-satunya media cetak yang secara oplah terus tumbuh. Meskipun tidak melompat.

Karena menurutnya, Republika memiliki pembaca yang loyal. Jika diprosentasekan, 95 persen pembaca Republika adalah yang berlangganan. Serta dari 50 persen yang berlangganan itu sudah berlangganan sejak awal berdirinya Republika sampai sekarang menginjak usinya ke-25 tahun.

“Sehingga dalam kondisi ekonomi yang goncang seperti ini, teman-teman yang lain sudah mulai menutup kantor bironya di daerah. Sudah mulai membatasi peredarannya di seputaran Jabodetabek saja. Sudah mulai ada yang bayar gaji karyawannya nyicil. Kami alhamdulillah. Hanya saja tantangan pembaca loyal, ya, demikian, cenderung sensitif. Ada yang terasa berbeda sedikit dengan keinginan hatinya, komplainnya bisa bertubi-tubi. Ngamuknya bisa berlipat-lipat,” ungkapnya.

Demikianlah Republika berjuang menolak senjakala. Meski memiliki basis massa pembaca yang loyal, Republika tak lantas berbesar hati. Tantangan justru hadir dari identitas yang diusungnya sendiri. Senjakala nampaknya juga jadi mimpi buruk yang terus membayangi Republika. Akankah media yang digadang sebagai suara yang merepresentasikan umat Islam Indonesia akan mampu selamanya bertahan? Semoga.