Indonesia memiliki jumlah kasus korupsi yang cukup memprihatinkan. Bukan hanya pada sektor pembangunan, mengadaan barang, dan seterusnya, namun ternyata kasus korupsi juga terjadi pada sektor lingkungan hidup. 

Bahkan muncul angkapan bahwa menyelamatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sama artinya dengan menyelamatkan keberlangsungan alam.

Sumber daya alam memang merupakan salah satu sektor strategis yang sangat rentan akan terjadinya praktik korupsi. Penyalahgunaan wewenang untuk mengeksploitasi alam dengan cara melakukan penggundulan sampai pembakaran hutan, sehingga menyebabkan terjadinya tragedi ekologi. 

Alam yang seharusnya dapat memberikan manfaat bagi kehidupan kini berbalik arah menjadi sumber malapetaka bagi manusia.

Krisis Moral: Keakuan dan Keserakahan Manusia

Sifat ke-aku-an manusia yang sering kali memosisikan dirinya sebagai subjek, sehingga menganggap apa yang ada di luar dirinya sebagai objek, yang dapat terus dieksploitasi. 

Keserakahan manusia telah menjadikan ia sebagai budak kapitalis yang menghalalkan segala cara hanya untuk mendapat keuntungan materi yang sebesar-besarnya. 

Manusia kini tidak lagi mengindahkan etika lingkungan saat melakukan relasi dengan alam, akibat masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keberlangsungan alam, yang sebenarnya adalah tugas moral bersama.

Krisis moral masyarakat memang seolah-olah sudah mengakar dan sangat sulit untuk dikendalikan. Salah satu bukti terjadinya krisis moral adalah maraknya kasus korupsi yang bahkan telah merambah pada sektor lingkungan hidup.

Banyaknya kasus mafia hutan yang masih beredar bebas dan terus-menerus melakukan eksploitasi terhadap alam. Adapun beberapa contoh kasusnya seperti, terdapatnya mafia kayu yang terus menerus melakukan penggundulan hutan, mafia lahan yang terus melakukan pembakaran hutan untuk dijadikan sebagai lahan pertanian maupun perkebunan, dan seterusnya.

Covid-19 dan Deforestasi

Indonesia mempunyai hutan tropis yang sangat luas, sehingga terkenal sebagai negara dengan megadiversitas. Namun akhir-akhir ini Indonesia telah menjadi pusat perhatian dunia, karena penyalahgunaan hak dan hukum yang dilakukan oleh manusia telah membuat terjadinya deforestasi.

Jutaan hektare hutan di Indonesia saat ini telah terdegradasi, sehingga tak lagi dapat memberikan manfaat atau jasa ekologi karena telah kehilangan keanekaragaman hayati. 

Deforestasi dapat diartikan sebagai hilangnya segala komponen yang berada dalam hutan yang terjadi akibat adanya aktivitas manusia maupun bencana alam.

Enveronmental Research Letters (2019) menyatakan bahwa beberapa kasus yang menyebabkan terjadinya deforestasi di Indonesia adalah karena pengubahan hutan menjadi lahan perkebunan serta pertanian, penebangan pohon, pertambangan, pembangunan, dan seterusnya.

Hutan mempunyai beragam fungsi dan manfaat bagi kehidupan. Selain sebagai tempat tinggal berbagai macam spesies, hutan juga berfungsi sebagai paru-paru bumi, penjaga stabilitas iklim, serta berbagai manfaat lainnya. 

Adapun dampak terjadinya deforestasi adalah hilangnya habitat satwa yang dapat berujung pada kepunahan spesies, terganggunya stabilitas iklim, penurunan jumlah dan kualitas air, menyebabkan berbagai macam bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, erosi tanah dan seterusnya.

Deferostasi bisa menjadi jembatan awal munculnya penyakit zoonosis. Penyakit zoonosis merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan kepada manusia maupun sebaliknya. 

Sehingga apabila eksploitasi terhadap alam masih terus dilakukan, maka tidak dapat dimungkiri akan muncul wabah penyakit baru yang tentunya dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia. 

Penyakit zoonosis sebelumnya telah banyak terjadi, seperti penyakit Malaria, DBD, Antrak, Ebola, SARS, dan termasuk juga penyakit Covid-19 yang menjadi pandemi saat ini.

Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV2. Penyakit ini pertama kali muncul di kota Wuhan, Cina, pada Desember 2019. Para ilmuwan telah sepakat bahwa penyakit Covid-18 merupakan penyakit yang terjadi secara alami dan pertama kali menyerang manusia akibat mengkonsumsi kelelawar liar.

Penyakit Covid-19 merupakan sebuah tragedi ekologi yang terjadi akibat kerakusan dan keserakahan manusia. Tragedi ekologi tentu akan membawa dampak besar bagi kehidupan manusia pada berbagai sendi, tak terkecuali sendi ekonomi. 

Tragedi ekologi mengajarkan kita agar lebih menghargai dan mencintai alam. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya kerusakan alam dengan mengubah paradigma masyarakat yang antroposentris menjadi ekosentris.

Paradigma antroposentris menempatkan manusia sebagai subjek dan yang lain sebagai objek, diubah menjadi paradigma ekosentris yang menganggap bahwa manusia dan alam sama-sama merupakan subjek yang memiliki relasi yang sama. 

Dengan tetap terjaganya kelestarian lingkungan akan dapat menopang pertumbuhan dan perkembangan secara berkelanjutan. Sehingga kelangsungan hidup manusia dapat terjamin pada masa yang akan datang.