Video berdurasi 20 menit dan diberi judul Saus Kurma Daging Babi di kanal Youtube milik Tretan Universe sukses membuat para pendakwah kita – sebut saja yang paling getol Felix Siauw dan Teuku Wisnu – Ustadz junjungan santri pondok pesantren Youtoube’iah, turun langit. Dalam kontra wacananya, mereka berargumen bahwa agama pada prinsipnya tidak boleh untuk dijadikan lelucon, atau tidak boleh dijadikan bahan bercandaan.

Fatwa yang mereka keluarkan seolah menjadi angin topan, yang langsung menggiring opini publik, membuat kemarahan publik dan pada muaranya Coki dan Muslim dipersekusi atas nama penistaan agama. Permasalahannya adalah, kalau dulu orang gandrung memberikan label kafir pada seseorang yang liyan yang dianggapnya berbeda, pada konteks sekarang tidak cukup hanya melabeli kafir, tetapi juga penista agama. Implikasi dan konsekuensinya jelas berbeda, penista agama dapat dijerat dengan Pasal 156 KUHP tentang Penodaan Agama.

Sampai pada saat ini, ada tiga video klarifikasi dari Coki dan Muslim dan ketiganya, masih mempertanyakan dimana letak kesalahan dari video saos kurma daging babi tersebut. Saya kira, ini adalah bentuk akumulasi kemarahan yang dipupuk dari video-video sebelumnya tentang jokes Kaum Quraisy, fungsi masjid dan cara penyelesaian konflik pada zaman nabi di Youtube channel Majelis Lucu Indonesia. 

Iusi lIdentitas Tunggal Seorang Muslim

Saya membaca artikel yang menarik dari tulisan mba Kalis Mardiasih, dia mengutip dari tesis nya Sakdiyah Ma’ruf soal comedy jihad. Bahwa pasca tragedi 9/11 pada 2011 silam, kondisi muslim Amerika sangat sulit. Bom waktu yang dipupuk bernama Islamophobia mencapai detik terakhirnya saat tragedi tersebut terjadi. 

Tidak ada ruang publik, untuk melakukan pembelaan terhadap Islam, bahwa Islam dan Terorisme – Al- Qaeda – adalah dua hal yang berlawanan. Dari situ kemudian Amerika memunculkan tokoh Dean Obeidallah, Mayson Zahid dan kawan-kawan melalui show stand up comedy nya untuk melawan kondisi politik dan sosial muslim yang sulit dengan menertawakan keadaannya sendiri.

Amartya Sen dalam bukunya Kekerasan dan Identitas, mencoba menelanjangi akar pertikaian-pertikaian kontemporer. Buku tersebut dibuka dengan prolog Sen kecil melihat dengan mata telanjangnya sendiri pembunuhan yang dilakukan seorang Hindu terhadap Muslim. Padahal, mereka berasal dari kelas yang sama, yaitu kelas buruh. Bagaimana kemudian perbedaan identitas keagamaan – kendatipun kesamaan identitas kelas – mampu menciptakan seorang manusia yang haus darah?

Kecenderungan di Indonesia, identitas keislaman yang dipaksakan bahwa seorang muslim harus membela agamanya dengan cara mereka, dan tidak ada cara lain selain cara mereka. Bahwa Islam perlu dibela dan di netralkan dari serangan dan antek-antek yang di asumsikan berbahaya menurut nafsu birahi mereka, karena akar nalar mereka tumpul maka identitas keislaman selain mereka akan dengan tersendirinya dinyatakan kafir dan penista agama.

“Agama seseorang tidak harus menjadi identitas eksklusif yang melingkupi seluruh diri orang tersebut. Secara khusus, Islam sebagai sebuah agama tidak menampik pilihan bertanggungjawab bagi umatnya dalam berbagai bidang kehidupan.” (Amartya Sen: 2016)

Hal ini memungkinkan bahwa seorang muslim bisa saja dia menyukai dark comedy, berhaluan politik kiri, dan warga Indonesia sekaligus tanpa harus mereduksi bahkan menanggalkan identistas keislamannya.

Komedi Sebagai Komunikasi Perlawanan

Coki Muslim dan ketidaktahuan mereka atas kesalahannya selain di cap penista agama mereka juga di persekusi. Orang-orang terdekatnya, teman-temannya di Majelis Lucu Indonesia tour stand up nya di boikot, keluarganya pun diancam. Darah mereka berdua dihalalkan seketika atas praduga yang direstui perselingkuhan setan dan nafsu.

Mengutip apa yang dikatakan Muhammad Al-Fayyadl dalam bukunya Filsafat Negasi “Di hadapan Tuhan, kita hanya bisa diam. Namun, di hadapan dunia, kita tidak bisa diam.” Kita bukan kerbau yang dungu kendatipun kita Homo Sapiens, apa yang dikatakan oleh ustadz sekalipun kita tidak bisa serta merta menelaahnya menjadi suatu kebenaran tanpa ada proses berpikir dan berkontemplasi terlebih dahulu, tanpa ada pergolakan dalam jiwa dan pikiran kita terlebih dahulu. Adagium ini memberikan pembenaran bahwa dihadapan dunia, kita tidak bisa diam, karena kebenaran bukan soal monopoli suatu kaum. Kaum langit sekalipun.

“Response terhadap fundamentalisme Islam dan Terorisme yang terkait dengannya juga menjadi rancu kala terdapat kesalahpahaman umum dalam membedakan antara sejarah Islam dengan sejarah kaum Muslim. Kaum muslim, sebagaimana orang-orang lain didunia, memiliki banyak tujuan yang berbeda-beda, dan tidak semua prioritas serta nilai-nilai mesti dipahami dalam kerangka identitas tunggal sebagai orang Islam.” (Amartya Sen, 2016)

Ada perbedaan yang signifikan dan kesalahpahaman umum, menyangkut Islam dan Muslim, seperti yang Sen katakan. Bahwa Muslim, sama seperti muslim di berbagai penjuru dunia, tentu memiliki sejarah dan nilai bahkan afiliasi politik tertentu yang berbeda dengan muslim lainnya. Sedangkan Islam, adalah agamanya. 

Yang dikatakan oleh para pemuka agama adalah tafsir nya atas suatu realitas sosial, budaya atau ekonomi tertentu, ini berarti bahwa penghayatan penafsirannya itu muncul dari identitasnya sebagai seorang muslim, bukan Islam itu sendiri. Kebenaran dari penghayatan para pemuka agama tadi bukan kebenaran serta merta yang turun dari langit.

Si Burung Merak dalam Sajak Sebatang Lisong:

Aku bertanya,

tetapi pertanyaanku

membentur jidat penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Barangkali ada yang perlu digarisbawahi, yaitu para penyair salon bisa juga di padankan dengan komedian salon, yang tercerabut dari realitas dan memandang ketidakadilan adalah wajah yang lumrah. Bila kita melihat secara keseluruhan terkait materi stand up comedy yang dibawakan oleh Coki dan Muslim serta rekam jejak show mereka dari materi bahkan sampai gimmick seperti merchandise yang mereka pakai, mereka selalu menyuarakan setidaknya dalam tema besar nya soal pluralisme dan toleransi antar umat beragama.

Penulisan dan show stand up comedy diawali dari keresahan komika. Tidak kurang, bahkan banyak keresahan yang ada disekitar, sudah saatnya komedi kita menjadi alat komunikasi perlawanan. Untuk menyuarakan sekaligus menertawakan kebobrokan moral, budaya, politik dan sosial ekonomi Indonesia. Komedi tidak melulu soal jomblo. Akhir kata, Sekarang ini ketika tertawa pun butuh keberanian lebih, hanya ada satu kalimat; TERTAWA ADALAH MELAWAN!

Video kita bisa ditonton di channel youtube kita:

https://www.youtube.com/watch?v=upX2YTGuN_o