Bertemu saat tak sengaja di tempat yang tidak tepat dan waktu yang juga betul betul tidak tepat. Pertemuan yang tergugah kembali. Kenangan dua puluh tahun yang lampau. Nun jauh terpendam puluhan musim.

Saat itu aku menemukanmu terbaring dengan ibumu..bercengkerama entah tentang apa. Ketidaksengajaan menemukanmu dalam bentuk yang paling utuh. Saat itu terbangun impian bahwa kamu adalah takdirku. Dalam ketaksempurnaan matamu memandang aku dan seolah ada yang mengalir cepat di syaraf tubuhku entah yang mana.

Kau menunduk malu, aku remaja yang sedikit nakal juga tak mampu bertahan menatap bola matamu. Sejak itu namamu menggurat kuat di hati. Saat aku kembali dari pertemuan tak sengaja itu, bahkan kita belum sempat kenalan waktu itu, waktu hanya berjalan dan  menimpa setiap kesadaranku tentangmu dengan bunga bunga yang baru.

Kini dua puluh lima tahu sembilan hari kemudian, kita saling bicara bersama dengan nama yang saling berbeda di media sosial dan kenangan keutuhan tubuhmu menggelora bagai ombak laut selatan menerjang karang dadaku.......

Wajah dengan senyuman merekah itu terus berseliweran di beranda media sosialku mengajak pertemanan. Aku masih ragu apakah itu kamu yang pernah mengejutkanku puluhan tahun yang lalu.

Ada satu yang membuatku yakin itu kamu, yaitu mata sebelahmu agak sedikit redup kalau gak bisa dikatakan sipit. Mungkin ciri ini hanya aku yang tahu karena jarang sekali kau berpenampilan seperti itu di keseharianmu.

Selama satu minggu aku terus membiarkan ajakan pertemanan itu. Aku ragu juga sedikit segan untuk menerimamu. Aku intip foto fotomu, ternyata di akun medsosmu kau banyak memposting kegiatanmu sebagai pengajar di sebuah kursus belajar siswa sekolah dasar. 

Kau terlihat keibuan sekali di antara anak didikmu, meski sebenarnya kamu begitu centil dan sedikit manja. Begitu temanmu pernah bercerita bahwa kau itu centil dan sedikit manja.

Saat aku menerima ajakan pertemanan itu. Aku beranikan untuk kirim pesan padamu dan bertanya.

"Kamu itu Mbak Asih yang rumahnya sebelah mushola Hijrah itu. ya..."

Selama dua hari pesanku belum dibacanya. Aku risau juga dibuatnya. di hari ketiga aku mendengar handphoneku berbunyi Kling...dan sebuah pemberitahuan adanya pesan masuk sedang on di hapeku.

"Ya...aku Asih....terima kasih atas konfirmnya," begitu jawabmu di kotak masukku.

"Kok tahu aku Asih..."

"Siapa di kampung kita yang nggak kenal mbak Asih?" Aku menimpali tanyanya sambil ada sedikit harap agar ia nggak bosan dengan tanyaku.

"Kita pernah ketemu, mbak, sudah lama sekali dan mungkin mbak juga gak ingat kapan dan di mana."

"masak..?"

"Sebenarnya akhir akhir ini kita lho sering berpapasan cuma, mbak saja yang gak peduli, tempat mbak memberi les itu sebenarnya dekat dengan  tempatku kerja,"' jelasku.

"lho....kalau begitu tiap kita berpapasan menyapa, ya......."

Tempat mbak Asih mengajar les memang hanya sekitar seratus meter dari perpustakaan umum tempatku bekerja. Sudah hampi tuhuh belas tahun aku berkecimpung dengan buku buku. 

Menyenangkan memang. Menjadi pustakawan adalah impianku sejak es em pe dahulu. Aku yang sangat menggemari bacaan dan menjadi penghuni setia perpustakaan umum sekolah sangat terbantukan dengan menjadi pustakawan.

Dengan menjadi pustakawan, aku sangat mudah memperoleh bacaan tanpa harus membeli. Harga buku yang kelewat mahal tentunya menjadi prioritas kesekian dari kebutuhanku sehari hari untuk aku sisihkan buat membeli buku. 

Dan lagi, bekerja di perpustakaan aku banyak ketemu orang orang dengan berbagai latar belakang mulai dari orang yang bukan siapa siapa sampai yang berprofesi sebagai apa.

Hari itu, tepatnya pagi itu sangat cerah. Aku memutuskan berangkat kerja berjalan kaki dan berharap ketemu Mbak Asih. Seperti biasa aku berjalan tak terburu buru karena aku jarang berangkat kerja mepet waktu sebagaimana orang yang biasa terburu buru. 

Sekitar lima belas menit aku berjalan, aku melihat Mbak Asih menuju ke arahku. Aku heran dan bertanya dalam hati kok ia mengarah ke sini. saat aku berpapasan kusapa dia, "Mbak, mau kemana? lho aku sudah menyapa tho..seperti yang mbak minta di inboxku kemarin."

"Eh kamu si Bagus, kan? Aku hampir lupa. Dulu kamu imut banget."

"Dulu kan masih kecil, ya tentu imut," balasku.

"Betul, aku betul betul lupa. Andai kau nggak menyapa lebih dulu aku nggak tahu lho....sungguh,," jawabnya sambil tersenyum yang sepertinya ada nuansa menggoda, di sana.

Senyuman itu masih sama seperti yang dulu saat aku pertama melihatnya dua puluh tahun lalu.

"Mau kemana?"

"Ini,...mau fotokopi materi."

"Sekarang kamu tambah ganteng, lho, sungguh, lho kamu kerja di mana?" lanjutnya. Sudah kebiasaan mbak asih, memuja muji lelaki yang ia temui dan aku pun biasa menanggapinya.

"lelakiya jelas ganteng,  kalau perempuan ya cantik tentunya. Aku kerja di Perpustakaan Umum. Mampirlah, mbak, kalau ada waktu"

Aku pun mohon diri melanjutkan sambil terus terbayang senyuman dan matanya yang sedikit sipit sebelah.

Sejak pertemuan itu, Mbak asih selalu komen di statusku dan kadang diselingi pesan pesan sedikit menggoda. Aku pun balas menggoda dan bila kurasa agak pribadi bahasannya aku pun pindah ke inboxnya.

"Sudah punya anak berapa, Mbak?"

"Hayo tebak pantasnya punya berapa aku?"

"Dua, ya....."

"Salah,.....aku belum nikah."

"Masa sih,...orang cantik kayak mbak kok belum ada yang nglamar.."

"Nggak... sebenarnya anakkusudah  tiga, suamiku satu, rumahku satu, nanya apa lagi" jawab yang terakhir ini disertai foto keluarganya.

"Sippp..suaminya ganteng anaknya apalagi ganteng ganteng. Sudah dulu, mbak, aku mau lanjut ada yang mau pinjam buku,"

"Yups .....mmmuach!!"

"Mbak tetep nakal ya....." Jawabku yang terakhir tak dibalasnya lagi. Aku agak kaget tadi dapat kiss teks. Tapi lagi lagi aku sadari dia memang begitu orangnya suka ceroboh dalam menggoda.

Setelah beberapa bulan berinboks aku dan mbak asih mulai berbagi nomor hape. Dan dari sinilah semuanya bermula, aku dan dia saling sapa dan kadang kadang saling menggoda...

Seminggu ini aku lelah sekali. Pekerjaan banyak menumpuk banyak buku yang belum diolah dan perlu diselesaikan. Tiba tiba istriku bertanya, "Kok kusut kenapa, Pa?"

"Biasa, lah, banyak kerjaan," jawabku singkat. Malam itu aku agak suntuk saat menjawab tanya istriku. Mungkin aku maunya dipijit itu baru agak lega. tapi ketika ia bertanya kok kusut aku jadi agak berat. Tiba tiba ada pesan masuk di hapeku. Kling klung.......

Agak malas kubuka hapeku dan kulihat pesan dari Mbak asih. aku langsung semangat membuka dan kubaca tertulis singkat di sana, "aku gak bisa tidur."
kujawab dengan agak malas, "kenapa?"

"Ingat kamu, nggak tahu kok tiba tiba ingat kamu."

"lho kok bisa sama," aku jawab saja dengan berbohong agar obrolanku berlanjut.
benar saja ia langsung melanjutkan pesannya.

"masak?"

"bener."

"nggak Percaya,...kan ada istrimu, yang menemani,"

"lho, mbak juga ada suami yang menemani, kok ingat saya?"

Dia agak lama menjawabnya. Dan tak pernah menjawabnya lagi. Mungkin ia sadar dan malu dan aku pun begitu.

Sejak dari itu aku tak pernah lagi ketemu atau membayangkan mbak Asih karena secara usia mbak asih jauh dariku terpaut sekitar 5 tahun. Ia sepantaran dengan kakakku yang tertua. Dan dari ketidaksengajaan itulah aku suka menjadikan mbak asih sebagai standar ukuran paras wanita yang kukagumi bersama teman temanku.

Dari pertemuan itu aku tak pernah lagi bertemu mbak asih, Tapi waktu kadang seperti kembali ke masa lalu. Kini aku bertemu ia lagi dalam kondisi yang sama sama sudah dewasa dan juga berkeluarga. Pertemuan yang akan membuat jalan hidupku berubah. Berubah menjadi lebih sensitif terhadap benda benda yang sering menjadi lambang orang orang yang sedang kasmaran.

Kini aku lebih menghayati Bulan, Hujan, pelangi dan warna jingga pada langit senja. Aku lebih menghayati sepi dan kesepian.

Aku mulai menggeluti dunia sepiku di saat perpustakaan sedang  sepi pengunjung dengan mencoba coba bersyair.

Sejak sekolah aku kurang menggemari pelajaran bahasa indonesia karena terlalu teknis dan njlimet. fungsi ini lah fungsi itulah pokoknya tidak asyik. Tapi aku senang sekali bila ada materi membaca puisi.

Saat menikmati kesepian, sejak mengenal mbak Asih, kegairahanku membuat syair muncul kembali.

Kosakata seolah hadir bertubi tubi untuk kuolah menjadi sajak sajak cinta.
Ada di antara sajak sajak itu kukirimkan ke Mbak Asih agar dikomentari.

Dia lulusan sastra indonesia di Perguruan tinggi negeri di Yogya. tentunya aku berharap dikomentari dan juga berharap dia mengerti isi hatiku.

"He...mana sajaknya kok lama nggak kirim ke sini. Aku kangen..kangen karyanya lho bukan orangnya, hehehe," tiba tiba sms masuk menanyakan sajakku. Pesan itu dari Mbak Asih.

"kebetulan, ini aku baru buat lagi, mbak..." balasku meyakinkan hatinya.
inilah sajakku yang kesekian untuknya.

Asmara Terlambat Kita

Setiap kali kau sapa diriku
sejenak lalu menghilang lama
aku terus mencarimu meski aku tahu
itu jebakan untuk merenggutku pada akhirnya

Saat aku mulai terperangkap jala jala asmaramu
aku berusaha menikmati meski
ketidakpastian akan pemenuhan rindu ini
namun merasa digoda kamu itu lebih menggoda dari pada
diam melamun berkasih kasih mesra

Aku mungkin nakal bagai remaja puber
dan kamu kurasa punya sejuta cara iseng
namun pasti kusemaikan cinta
dalam labirin kesetiaan pada kasihku
kau pun punya kekasih
yang katamu tak mengharu biru seperti aku

Maaf kasih gelapku
kuputuskan menikmati
dirimu sebatas keberanianmu menggoda
karena kita tak lebih
hanya penikmat canda tawa semata
meski ada rasa
mari kita endapkan di sudut asmara terlambat kita 

Sekian lama kita bersapa via online ada kangen juga untuk bertemu muka. Dari saling berkirim puisi, aku dan mbak Asih pun jadi makin berani untuk saling merayu. Terkadang pun ada selingan nakalnya juga. Dan maklumlah kita kan sudah sama dewasa bukan seperti remaja puber yang membabi buta.

Ada saatnya pun aku harus menemuinya. Saat itu ia ingin aku mencarikan kliping puisi dari sapardi Djoko Damono sastrawan senior yang sangat ia kagumi.

"Carikan aku puisi SDD; Sajak kecil tentang cinta," salah satu pesannya melalui inbok di hapeku.

"Aku kirim ke mana ini nanti kalau ketemu," balasku.

"Tolong bawa ke tempat nge les ku, sayang..." jawabnya dengan emoji hati merah menyala.

"Hemmmm, kalau ada maunya manggil sayang.....norak!" jawabku kethus tapi dalam hati sebenarnya aku suka cara dia menggoda.

Satu minggu kucari kutemukan juga puisi itu. ...Mencintaimu harus menjelma aku..... itulah kalimat terakhir pada sajak itu yang kata mbak Asih pernah didengarnya pada salah satu radio. Dan saat ia mendengar itu ia mengingatku bahkan membayangkan.bisa membacakan sajak itu di depanku.

"sudah kutemukan, jam berapa nanti aku ke sana?" kukirimkan pesan via wa nya.

"nanti jam 07.00 sebelum jam mengajar, ya...kutunggu tepat waktu," balasnya.

Pagi itu aku bergegas ke tempat kerja. Sangat pagi sekali.  Aku berangkat pukul enam tiga puluh pagi. Aku mampir ke Lembaga Bimbel Cerdas tempat Mbak Asih mengajar.

Terlihat sepi. Aku memasuki salah satu ruang. Terdengar tawa perempuan, ketika aku masih bingung hendak ke mana. Itu tawa khas Mbak Asih. aku bergegas ke ruang sebelah.

Ia kaget ketika aku tiba tiba ada di depan pintu ruang itu.

Ia menunduk. Diam. tiba tiba lengang karena aku juga terdiam.

"Ini puisinya," kusodorkan kertas kliping puisi itu. Diambilnya dengan tetap menundukkan kepala.

"Terima kasih," jawabnya singkat.

Adakah yang lebih menderita dari orang yang sedang dimabuk asmara yang datang tak terduga. Ada situasi yang membuat ini terjadi. Tapi bukan ini alasan pasti karena semua orang punya gejolak yang sama dan mempunyai pilihan untuk terhanyut atau mengabaikannya. Bagi lelaki mampukah ia mengabaikan pendar pendar cahaya yang begitu banyak gemerlapnya.

Aku dan istriku sudah 17 tahun bersama. Ia seorang perawat di sebuah Rumah Sakit di Kotaku. Istriku ini termasuk wanita yang tegas dan sedikit judes untuk tataran orang jawa. Meski kami menikah lewat berpacaran tapi pacaran kami cuma tiga bulan dan langsung menikah.

Aku hanya mengikuti iramanya aku pun tak perlu perlu amat untuk saling beromantis ria. Kita sibuk bersama soal ngurusi anak dan rumah tangga lainnya. Kita betul betul melupakan kebutuhan hati kita-tanpa kita sadari.

Hingga tibalah saat aku bertemu Mbak Asih. Aku kembali bergairah dalam hidup ini. Dan anehnya, istriku pun bergairah lagi untuk bermesra mesra denganku. Situasi yang seringkali terjadi di dunia ini sebuah kebetulan yang klop dengan situasi baru yang tak terduga.

Aku ada pada situasi sulit. Dua keindahan hadir pada satu momen. Yang satu adalah hakku dan yang satu adalah pilihanku. Keduanya istimewa, luar biasa dan bermakna. Aku terjebak tapi tak hendak menyerah. Aku yakin pasti ada maksud dan tujuan dari semua ini.

Saat aku memberikan puisi yang ia minta, Itulahpertemuan terakhirku dengan Mbak Asih. Sejak itu aku selalu menghindarinya bahkan hanya sekedar bersimpangan di jalan. Dia pun sepertinya begitu, karena aku pun jarang menemukannya baik di jalan atau di tempat kebiasaanya:perpustakaan kotaku.

Lama lama aku,merasakan ada kekosongan dalam hari hariku tanpanya. mungkin ada kebiasaan yang hilang saja kurasa. Aku tak terlalu risau namun kian hari aku semakin terus terbayang wajahnya. apakah ini rindu? Bukan bukan mungkin ini hanya kebiasaan yang hilang tanpa kehadirannya.

Seminggu. sebulan. hingga takterasa sudah tiga bulan aku tak bersapa dengannya baik itu ketemu muka atausekedar chat biasa. 

"Kok terlihat lusuh kamubeberapa bulan ini," Zidan teman kerjaku menyapa pagi itu.

"Ah, nggak..mungkin karena rambutku aja yang acak acakan hingga sepertinyalusuh tak terurus," jawabku dengan tetap menuliskan laporan tahunan akhirtahun.

"Tahu sendiri lah, akhir tahun itu seperti apa?" aku melanjutkan dengan agak kesal.

"hahahahaha....nyantai, Bro...habis ini kita tour." Sambil ngeluyur meninggalkanku ia menjawab seolah itu memberiku semangat kerja.

Aku masih serius dengan apa yang kukerjakan, tiba tiba otakku macet untuk menyusun kalimat laporanku. Aku memegang hape dan kucari kontak mbak Asih. Ada keinginan untuk menelepon hari itu. Lama kupandangi nama dalam hapeku. Ada fotonya separuh wajah dengan senyum yang sedikit menggoda.

Tak berapa lama kupencet nomor dengan gambar separuh wajah wanita paruh baya itu. 'maaf nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar area' suara mesin operator di ujung sana begitu menyesakkan terdengar di telingaku.

Aku bertanya tanya ada apa dengan dirinya. Aku makin gusar dan rasa kosong ini menikamku. Sepi.