Aku, Papuan, dan nona Korea Selatan bercinta. Namanya Lea Lee. Kisah kencanku dengan nona asal Korea Selatan atau korsel berawal dengan penuh kemesraan saat aku membawakan presentasiku di depan kelas. Aku mengulas satu masalah yang terus terjadi di negaranya.

Di situ, ia buang perasaannya. Kedua pipinya menyebar. Ia malu-malu menertawakanku sembari aku sedang menjelaskan proyekku lewat power point.

Nona Lee, sebangsa dengan raja K-pop BTS berasal itu tergila-gila kepadaku; bukan karena aku mempresentasikan masalah tentang bagaimana kebanyakan selebritas pria dan wanita asal negaranya cari jalan tikus pergi kepada Tuhan sebelum Ugatame* atau Tuhan sendiri belum memanggil mereka; tapi karena aku juga rajin mengajarkan nona Lee cara bermain bola voli di gym. Aku juga mengajar bahasa Indonesia kepadanya.

Soalnya, Lea ingin berliburan ke Bali. Namun, ia sesungguhnya bermimpi hidup di pulau Papua sebagai pekerja misionaris. 

Nona Lee terinspirasi dari seorang pekerja misionaris MAF (Mission Aviation Fellowship) Joyce Lin, pilot sekaligus spesialis IT lulusan MIT AS yang gugur di Sentani, Papua. Pada 12 Mei 2020 adalah hari terakhirnya dalam pelayanan di Papua. Perempuan perkasa Korea-Amerika itu.

Agama Lea adalah Kristen. Orang tuanya tak terlalu kaya raya. Aku kurang tahu ia mau menjadi seorang pekerja di pedalaman seperti di Papua. Lea akan hidup, menetap dan bertugas di Papua. Ia juga memperjuangkan cintanya kepadaku. Ujung-ujungnya, ikut kepala keluarga.

“Di kota besar seperti di negaraku susah mencari Tuhan,” katanya waktu itu saat kami berdua lagi minum kopi hitam di salah satu kedai kopi di Seattle, di mana mabes kedai kopi Starbucks berada.

Ia menghindari postingan-postingan di sosial medianya. Lea menjauhi TikTok, adalah layanan jejaring sosial berbagi video milik Cina. Lea memalukanku ketika aku melihat Lea tak menyukai salah satu grup K-pop korsel, sementara aku adalah salah satu fan terberat BIGBANG. Alasan Lea melupakannya karena seorang raja K-pop kesayangannya membunuh diri. Ia adalah Jonghyun. “Sekarang, aku tak punya penggemar K-pop lagi,” katanya kepadaku.

Ia juga tak terlalu makeup berlebihan selayak teman-teman Korea lainnya. Tatapannya biasa saja. Ia menawan. Kecantikannya natural.

Nona Lee juga pandai menulis kehidupan sehari-harinya. Ia lebih menulis jurnalnya setiap hari. Apa yang terjadi setiap saat, ia menjadikan kata-kata menjadi kalimat di bukunya. Kadang, ia mencatat catatan hariannya di HP Samsung 8+ plus-nya.

Di hari lain, aku bilang, “Nona, note that if you go to Papua, you do not have to do that. Do not write your diary,” kataku kepadanya sementara kami lagi makan di cafe milik orang Indonesia di sekitar Universitas Washington, Seattle. 

“Lalu kenapa Bonnie Etherington menulis sebuah novel tentang Papua?” kata Lea. 

Nona Lee bilang karena dia sebelumnya meminjam sebuah novel The Earth Cries Out dariku. Saat menikmati hidangan, aku meletakan novel The Earth Cries Out yang dikarang oleh perempuan berdarah New Zealand itu di meja makan. Bagiku, hidangan termewah apapun tanpa buku adalah sia-sia.

Bornnie atau akun twitternya @anak_kobakma, bersama kedua orang tuanya pernah hidup di Kobakma (Mamberamo Tengah), Sentani (Jayapura) dan Wamena (Jayawijaya).

Di novel, Bornnie menuliskan betapa mereka hidup di sebuah desa di pegunungan Papua pada tahun-tahun kepemimpinan Soeharto dan kediktatorannya. Pada 1990-an, di masa ketika operasi militer terus terjadi di Papua dan penindasan masih berlangsung. Militer yang bukannya melindungi rakyat, justru sebaliknya militer di Papua kerjanya adalah pagar makan tanaman. Di tengah situasi seperti itulah, Ruth yang Bornnie dikisahkan di novelnya dan orang tuanya berjuang melawan rintihan mereka. Rintihan yang terdengar tiada berkesudahan. Itulah Papua, yang anak Kobakma menulis di buku bergendre fiksi sejarah berlatar Papua itu.

“Kami, orang Papua, saja dilabeli musuh negara kalau kami menulis catatan harian kami sepertimu. Walaupun kami menulis tentang kehidupan kami setiap hari. Apalagi nona, bila nona Lee kerja di Papua kemudian hari, negara akan mendeportasimu oleh karena kerajinanmu mencatat diary-mu,” aku menjelaskan ke nona Lee bagaimana negara tak mengabulkan jurnalis asing meliput tentang Papua.

Larangan peliputan sudah tak diizinkan di Papua walau Jokowi pernah berkata wartawan asing bisa coverage di sana. Aku menjelaskannya setelah aku tahu jurusan yang ia ambil di sekolah. Ia belajar double-major, jurnalisme dan IT. Selain ia berjuang mendekatiku tuk menjadi pacar secara resmi, aku ingat punya aturan bagi orang asing di Indonesia. Jika aku pergi membawa nona Lee ke nusantara Papua, ada banyak persyaratan yang aku mempersiapkan untuknya.

Kalau untuk membuat surat kontrak kerja atau membuat surat penduduk tetap, itu gampang. Masalahnya ialah ia berlatar jurnalis. Kalaupun ia tak seorang jurnalis, orang asing saja berhati-hati masuk ke Papua.

Tentu aku tak bisa kerja di provinsi lain di Indonesia. Aku takut orang Indonesia membuang kata-kata rasisme kepadaku. Bukan apa-apa. Tapi pahlawan-pahlawan nasional Papua saja menyamakan dengan monyet. Aku bukan selevel mereka. Aku mudah diserang. Apalagi bila aku membawa kekasihku, nona Lee. Aku tak mau lagi mengajar Lea cara mencegah ucapan rasisme dari orang Indonesia jika Lea menjadi tulang rusukku kelak. Aku sudah cukup melatih dia bahasa dan bola voli.

“It’s hard, man?” pintaku kepada nona korsel.

Selama aku berkomunikasi, hangout bersama-sama, pun melatih dia bahasa dan bola voli, aku menjadikan dia sebagai teman dekatku meski di pikirannya ada kata yang terpampang:

AKU CINTA KAMU, bawalah daku ke pulau Papua, surganya elit-elit Indonesia itu. Tanah firdausnya migran, yang tak ikut menangis dan tak sympathy saat alat negara bunuh manusia Papua itu. Tanah emasnya oprtunis-oportunis Papua itu. Tanah yang penuh dengan ‘schadenfreude‘ atau iri level teratas itu. Tanah yang kalau bicara soal Papua; bicara lain, tindakan lain itu.

Aku membacanya dari semua gayanya. Aku tahu, tapi aku meredamkan itu.

Ucapan di atas ini keluar setelah nona mentelaah betapa tikus dan bunglon-bunglon Papua merajalela di luar dan dalam perkantoran dan sesama orang Papua di seluruh Papua pun luar Papua. Mereka ini pula memasang kaca spion di seluruh tubuhnya.

MABES Repanri 007 di YouTube melagukan dalam bahasa Mee tentang fenomena ini. Khususnya, orang-orang beramai-ramai pasang kaca spion di tubuhnya. Penyanyi memberikan judul Peka-Peka*. Lagu itu umumnya bilang: aku kira kalian adalah kakak dan adikku, tapi kalian sudah meruncingkan gigi dan terlibat dalam menghabisi sesama, orang Papua. Tanah sudah berambut putih, Yesus mau datang segera. Selagi ada waktu, kalian yang bergabung barisan ini, makan makanan dengan segera. Yang belum terlibat, berhati-hatilah.

Nona Lea rupahnya membawakan hasil risetnya di kelas. Mempresentasikan. Ia mempresentasikan tentang kenyataan bahwa di Papua ada orang mati bukan saja karena dibunuh negara, menurut hemat Lea, Lea melihat kematian orang Papua datang justru dari dapur mereka itu sendiri, Papua vs Papua.

Nona Lee tak melihat dari sudut pandang negara terhadap Papua: bila melawan, orang Papua akan berakhir mati atau dipenjara. Lea juga tak melihat dari sikap acuh tak acuh para pendatang terhadap kesengsaraan orang Papua.

Sesudah membawakan presentasinya, aku berterima kasih kepadanya dari luar kelas. Aku tak mengungkapkan cintaku kepadanya karena ia bawa tema Papua. Nanti berbahaya. Tradisi anak-anak muda Papua akan menonjol. Belum sampai menikah, bahkan masih tingkat berpacaran, resletingnya mudah dibuka begitu saja. Rintihan akan bertumbuh dan melebar di Papua jika aku piara kultur ini. Ini bukan budayaku.

Kendatipun Lea membujukku tuk buka levisku, aku tak ingin membebaninya dan orang tuanya. Sejak negaranya, Korea Selatan, menempati tingkat ke-5 pada angka bunuh diri. Bukan mustahil baginya tuk kena depresi jika aku tak teratur menjalani percintaan kami. Habis Lea memandangku bintang kesayangannya. Cinta pertamya. Di negaranya pun, susah dapat kerja. Jika aku menghamilinya, rasanya tak baik bagi kami dan orang tua kami masing-masing. Kami jauh dari ortu kami. Belum dapat pekerjaan. Belum punya rumah.

“Nona Lee,” saya menegaskan ke perempuan korsel itu, “aku tahu perasaanmu, tapi maaf, kita sepakat saja. Jalan berpacaran kita ini di jalur: bagai empedu lekat di hati.

Jika Ugatame menghendaki hubungan kita, pasti kita akan bikin satu keluarga, di Papua. Kita tak pantas buat anak dan keluarga selagi kita masih dalam perjalanan menuju tanah perjanjian, tanah yang nona Lee mau menetap itu, di Papua, denganku.

Kali ini, aku jadi Musa bagimu. Nona Lee tahan semua syahwatmu. Kita belum sampai ke Kanaan. Papua, bagimu. Jakarta sebutnya kota emas. Anak-anak Nduga pikirnya kapan tanah perjanjian itu menggenapi di atas tanahnya. Oportunis-oprtunis Papua mengusulkan, “tunggu kita belajar di Raja Firaun dulu.”

Cinta Empedu Terjadi di Kota Malaikat

Cinta tak sepenuhnya dinamis. Ia bisa mati di tengah jalan. Demikian juga dengan kisahku dan Lea. Kemesraan kami pecah di kota malaikat alias Los Angeles, California, pada Desember 2019.

Natal yang direncanakan bersama. Tak seperti yang diharapkan sebelumnya.

Lea salah paham ketika aku berjabat tangan dengan seorang teman perempuan lamaku. Namanya Gabi dari Jakarta. Dia adalah Cina-Indonesia. Dia berkuliah di UCLA. Wajah Lea dan Gabi mirip.

“Anjir, lu dari mana aja? oh iya, baru perempuan ini siapa, Amo***?” kata Gabi.

“Dia temanku, Gab. Perkenalkan, namanya Lea Lee. Asal korsel,” sahutan sambil mengenalkan Lea ke Gabi.

“Gokil! itu pacarmu atau temanmu? aku berdoain ya? biar kalian tetap saling jaga,” katanya. Tapi aku bilang, “ngga, Lea hanya ikut merayakan Natal denganku di kota ini. Dia teman karibku, Gab.”

Aku mencari alasan agar keluar dari percakapan itu lantaran orang Indonesia terlalu basa-basi omongnya.

Aku dan Lea tak bisa menginap satu rumah. Kami cari Airbnb, tapi harga semalamnya mahal. Rumah yang murah, tersedianya jauh dari metropolitan, Los Angeles. Di area perkotaan pun penuh sebab orang ramai selama bulan Desember di LA.

Lea panggil temannya tuk menginap. Kebetulan, aku tinggal di kota Koreatown selama natalan. Penginapan milik KJRI Los Angeles berlokasi di kota yang sama. Lea juga ada di kota kecil julukan nama negaranya itu, tanpa selatan.

Aku tak bisa menemuinya. Lea tak angkat panggilanku. Rencana tuk membawanya ke tempat acara natal tak berjalan mulus. Baju natal yang kami berdua beli tak berfaedah. Harga masing-masing seharga $100. Ia membelikanku. Aku pun demikian. $200, tak bernilai.

Entah apa, nona Lee tak angkat HP. Sampai sekarang, aku bertanya-tanya. Apakah ini kesalahanku? Ataukah nona Lee lama sekali menunggu ungkapanku tentang cinta kepadanya, lalu ia melarikan dariku? sebab aku tak pernah memberitahukan perasaanku kepadanya. Aku mencaritahu jawabannya.

Nona Lee pergi meninggalkanku berarti ia tinggalkan cinta empedunya. Kepahitan cinta tergores di dadaku dan di dadanya. Cinta kita yang berawal dengan kemesrahan itu, kini berakhir dengan empedu.

Bagi nona Lee, aku menari di atas luka hatinya. Lea barang kali menginginkanku tuk kembali kepadanya segera karena akulah penawar obatnya tuk mengores luka goresannya.

Aku pun ingin dia cepat mendapatkanku, agar aku kali ini mau bilang: Lea, kalau nona benar-benar pasang sayapmu kepadaku, tak mustahil bagi kita tuk terbang bersama-sama sampai bisa menetap di Papua.

Kata-kata ini, bagiku, obat baginya kalau kemudian kita baku ketemu di suatu tempat.

Jika tidak, aku hanya merampungkan dari lagu Cinta Empedu oleh Amoye Egeidaby, Gaidap Star Voice.

Koya nauweti, ideidema woka yamema (selamat jalan, bersenang-senanglah dengan laki-laki lain). Aku tak sudi dengar lirik ini.

Notes:
* Peka-peka = spionase
** Ugatame = Tuhan Allah
*** Amo kepanjangan dari Amoye atau anak bungsu.