Aurelius Agustinus adalah seorang filsuf sekaligus teolog yang terkenal pada Abad Pertengahan. Ia lahir di sebuah daerah bernama Thagaste sekitar tahun 354. Pemikiran Agustinus bercirikan pembelaan imannya akan Allah (apologetik).

Pemikiran-pemikiran Agustinus sangat mencerahkan, mengingat pada zaman itu (sering disebut sebagai Dark Ages) banyak golongan yang mengkritisi iman Kristiani. 

Salah satu golongan yang “menyerang” iman Kristen adalah golongan Manikheis. Golongan itu memercayai adanya Allah jahat yang dari situ muncul tindakan-tindakan jahat.

Pemikiran Agustinus mengenai etika layak untuk disoroti. Sebab idenya dapat menjadi pegangan bagi orang dalam menjawab berbagai permasalahan etis yang banyak muncul akhir-akhir ini. Dalam konteks etis, Agustinus banyak mengupas keterarahan tindakan kepada sesuatu yang baik.

Pertama-tama, setiap manusia memiliki kehendak bebas. Kehendak belum berarti sebuah tindakan, tapi sebuah keinginan yang muncul dalam hati seseorang. Memang pada akhirnya nanti akan terrealisasi dalam sebuah tindakan konkret.

Sebelum ada sebuah tindakan, kita mengenal adanya sebuah kehendak. Kehendak itu letaknya ada pada hati. Manusia dapat mengarahkan kehendaknya itu terhadap perbuatan yang baik ataupun buruk, sebab ia memiliki kehendak yang bebas.

Mengarahkan suatu tindakan yang baik tidak dapat kosong atau tanpa motivasi. Selalu ada ‘sesuatu’ yang mendorong orang untuk melakukan tindakan menuju yang baik. Menurut Agustinus, tindakan mengarahkan itu seharusnya adalah sebuah cinta terhadap Nilai Tertinggi, yakni Allah. Seseorang yang dalam batinnya punya kecintaan terhadap Allah tentu bertindak selaras dengan inti batinnya itu.

Ada kehendak baik, ada pula kehendak buruk. Jika kehendak baik mencerminkan inti batin yang mencintai Allah, kehendak buruk adalah inti batin yang mencintai diri sendiri. Kecintaan terhadap diri tercermin dari tindakan-tindakan yang mementingkan diri.

Agustinus berpendapat bahwa cinta diri dikuasai oleh nafsu-nafsu daging yang tak teratur. Nafsu-nafsu itu mengarahkan manusia untuk menghendaki ‘sesuatu yang lain’, untuk memuaskan nafsu dan pada akhirnya memuaskan diri. ‘Sesuatu yang lain itu dikenali sebagai materi-materi. Bisa beruapa uang maupun barang.

Dua ekstrem ini terus bergejolak dalam hati manusia dan kedua hal itu pula menentukan kebahagiaan menusia. Bagi Agustinus, materi atau benda-benda fana sebaiknya mempunyai nilai guna dibanding sebagai objek kenikmatan.

Pemikiran Agustinus ini sangat dipengaruhi oleh konsep-konsep Neo-Platonis yang ada pada zaman Yunani Kuno. Salah satunya, andaian tentang manusia yang terdiri dari jiwa dan badan. Untuk mencapai kebahagiaan (surga), manusia harus mengusahakan diri agar tak terjerumus dalam nafsu-nafsu badaniah tetapi memelihara jiwa agar dapat bersatu dengan Yang-Ilahi.

Konsumerisme sebagai Bentuk Cinta-Diri

Pemikiran Agustinus saat zaman itu ternyata masih konkret dalam kehidupan zaman global sekarang. Inti batin manusia terkadang tidak begitu jelas. Hal-hal pokok semakin kabur akibat distraksi hal-hal fana. Nilai-nilai keutamaan tak lagi begitu penting. Sekarang yang penting adalah materi untuk pemuasan nafsu. Sebab dengan materi, manusia memuaskan nafsu dan mendapat kebahagiaan.

Setiap manusia tentu ingin memenuhi kebutuhan primer dalam hidupnya. Manusia perlu materi-materi di luar tubuh untuk memenuhi kebutuhan alamiah seperti papan, pangan, dan sandang. Namun, kebutuhan alamiah itu bisa juga berlebihan. Mulanya manusia ingin memenuhi kebutuhan primer, tapi semakin lama melonjaklah menjadi kebutuhan tersier. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah kenginan untuk memiliki barang-barang mewah.

Zaman semakin berubah dan semakin kompleks. Saat ini, di zaman global, kebutuhan-kebutuhan primer menjadi kebutuhan yang sudah pasti bagi beberapa orang. Konsekuensinya, mereka berbondong-bondong untuk mendapatkan barang-barang mewah.

Konsumerisme pun sudah terlihat di dalam masyarakat. Kebahagiaan tidak lagi terdapat dalam inti batin, tapi dari materi yang didapatkan. Semakin seseorang kaya, maka semakin besar pula kesempatan untuk membahagiakan diri dari materi yang ia dapatkan.

Konteks Hidup Sosial

Keterarahan terhadap Yang-Ilahi dapat disalurkan juga melalui tindakan baik kepada sesama. Sesungguhnya cinta kepada Allah juga mendorong seseorang semakin baik dalam konteks bermasyarakat. Adakah hati bersih yang isinya keterarahan terhadap Yang-Ilahi melahirkan sebuah tindakan buruk?

Dalam hidup sosial, cinta pada diri adalah dasar munculnya tindakan-tindakan yang buruk kepada orang lain. Misalnya ketika seseorang dihadapkan pada pilihan memberi atau menerima, maka pilihan tentu jatuh pada kata menerima. Karena tentu ia lebih mementingkan diri sendiri daripada sesama. Lebih buruk lagi apabila ia bukan hanya menerima tapi meminta atau bahkan merampas.

Kesimpulannya, orang yang rajin mengolah diri menuju Yang-Ilahi tentu bertindak dengan dasar yang selaras dengan olah batinnya. Olah batin dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Salah satunya bisa berupa beribadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing.