Kisah Cinderella, gadis cantik yang diperbudak saudara tiri dan ibu tirinya tentu sudah tidak asing bagi kita. Pertanyaannya, kenapa Pangeran memilih Cinderella ketimbang saudara tirinya?

Padahal mereka tentu lebih cantik, karena wajah mereka tidak terkana jelaga dapur seperti Cinderella.

Jika Anda ingin tahu alasannya, saya akan memberitahu Anda.

Wajah perempuan di Indonesia saat ini hampir tidak bisa dibedakan. Para kaum laki-laki semakin sulit menemukan perempuan dengan wajah jelek.

Salon-salon kecantikan bagi perempuan telah menjamur sampai ke pelosok desa. Pensil alis mulai laku kembali di pasaran. Gincu bertebaran di sisa sedotan, botol plastik, dan tisu-tisu bekas sentuhan bibir perempuan.

Riasan menor telah kembali menjadi lumrah. Semakin merah bibir perempuan, semakin percaya dirilah mereka untuk bepergian ke seluruh antero dunia

Mungkin novel Cantik Itu Gincu dan Pensil Alis harus segera digarap oleh para sastrawan. Siapa tahu dapat sponsor dari pabrik lipstik ilegal yang menjajakan produknya lewat Facebook dan BBM.

Buku-buku tentang kecantikan juga akan segera ludes dibeli perempuan. Asalkan penulisnya pandai memuji pembacanya yang sudah beralis dan berbibir tebal.

Mungkin di Tahun 2020 ke atas perempuan jelek akan semakin langka. Laki-laki akan mencari perempuan berwajah jelek natural, bukan cantik yang artivisial.

Karena jelek akan menjadi cantik yang baru, sehingga pemilik salon dan Dokter kecantikan akan kalah bersaing dengan salon kejelekan amatiran.

Percayakah Anda bahwa jelek akan menjadi cantik baru?

Jika Anda tidak percaya, silakan mengenang masa kecil Anda yang kurang bahagia.

Tentu Anda tidak akan pernah mau kembali ke masa-masa suram itu. Anda tentu sudah jenuh dan bosan. Begitu juga tentang kecantikan.

Semua manusia, laki-laki maupun perempuan akan mencapai titik bosan. Di mana semua bertumpu pada sifat alamiah manusia yaitu rasa bosan.

Karena perempuan telah cantik secara keseluruhan. Maka manusia akan mencari sesuatu (cantik) yang baru. Jelek adalah cantik baru.

Rasanya sedikit perempuan Indonesia yang masih mempertahankan alis aslinya. Sebagian besar sudah menggunduli alis dan melukisnya dalam berbagai bentuk seperti, parang-celurit-cemeti amarlasuli-jarum-es balok dan lain sebagainya.

Wajah pucat bak zombie menjadi idaman. Bedak dan krim wajah mengandung pemutih pakaian digunakan berkali-kali yang memberikan hasil memuaskan. Wajah putih dengan tangan dan kaki berwarna legam.

Gincu mengandung saus tomat pewarna pakaian melapisi bibir pecah-pecah yang kemudian membuat bibir berwarna merah merekah. Seperti baru tertusuk duri mawar merah.

Wajah putih, seputih panu dengan bibir merah itu kemudian menjadi lebih lengkap dengan lukisan alis seribu rupa.

Tidak ada lagi alis, laki-laki kesulitan membedakan pasangannya. Berhati-hatilah para ibu rumah tangga akan hal ini. Bersegeralah Anda menjelekan rupa. Sebelum suami atau pasangan Anda mengira tetangga adalah Anda.