Alkisah ketika Gyges sedang  menggembala, badai hujan deras dan gempa bumi terjadi. Tanah dekat Gyges jadi celah terbuka. Turun ke dalamnya, dia menemukan kuda perunggu dan kerangka manusia dengan cincin emas ditangannya. Gyges mengambil dan mengenakan cincin itu ke jarinya. Keluar gua, Gyges memperhatikan bahwa dengan memutar cincin di jarinya, dia seolah hilang.  Orang-orang di sekitarnya tidak lagi bisa melihat dirinya.  

Singkat cerita, Gyges kemudian menggunakan cincin ajaibnya untuk mencuri dan menjadi kaya raya. Dan pada puncaknya, dia pergi ke istana Raja. Sang Ratu dipikat dan diselingkuhinya, diajak makar merebut kekuasaan. Suaminya dibunuh. Gyges jadi Raja.


Dongeng itu ada di kitab Republik karya Plato, Buku ke 2.  Abang Plato, Glaucon, menyatakan pesimismenya pada Socrates, bahwa pada dasarnya, tidak ada manusia yang berbuat  baik dengan tulus. Semua berujung kepentingan diri sendiri. Bila punya cincin wasiat, siapa saja akan melakukan mirip apa yang dilakukan Gyges.  

Soal-soal yang seperti itu dibahas dalam Filsafat Etika. Filsafat yang membahas bagaimana manusia mengambil keputusan untuk berperilaku dalam kehidupannya.  Membahas apa itu baik dan buruk, apa itu moral, apa itu amoral. Apa itu hak, apa itu kewajiban, apa itu salah, apa itu benar.  

Pandangan Glaucon diatas termasuk pandangan segi akibat dari perbuatan (dinamakan sebagai pandangan Consequentialism). Orang melakukan perbuatan itu mempertimbangkan apa akibatnya.  Positif atau negatif, untung atau rugi, atau banyak untungnya, atau banyak ruginya? Juga, apakah perilaku berpahala atau berdosa.  

Yang terkenal adalah Teori Utilitarian dari John Stuart Mill, perilaku itu dilihat dari  kebahagiaan, keuntungan atau kesenangan yang diakibatkannya.

Menganggap moral sebagai bentuk kontrak sosial termasuk dalam pandangan tersebut. Sama-sama tidak mau dicuri , sama-sama tidak mau dilukai dan dibunuh. Maka kita saling janji tidak mau mencuri, tidak mau melukai dan membunuh. Perjanjian itu memberikan sebagian hak kita, imbalan jangka panjangnya, akan didapat keuntungan hidup damai dan tenang.

Kontrak sosial kelihatan rasional, sederhana, dan mudah diterima.  Tapi saya pernah tersentak ketika  membaca buku akhlak dari seorang ulama. Buku itu mengantar saya membaca filsafat moral (Ethics) lebih jauh. 

Ternyata masalah perjanjian sosial dan etika jauh dari sederhana. Dicontohkan, negara besar saat ini bisa berbuat apa saja terhadap negara lain. Juga kezaliman penindasan individu kuat ke yang lemah yang lazim terjadi. 

Artinya, perjanjian sosial ternyata hanya rasional jika pihak-pihak sama kuatnya. Kekuatan yang tidak seimbang seperti juga Cincin Wasiat Gyges, bisa jadi alat berkelit dari moral.

Disamping dari sudut akibat,  moral bisa dilihat dari sudut langkah aksi yang diambil. Benar atau salah, wajib atau sukarela, netral-netral saja atau langkah yang mulia. Masuk di dalamnya, Teori Deontological (dari kata Yunani deon yang artinya tugas, duty) .  Suatu perbuatan dianggap sudah mengandung baik, benar, buruk atau salah.  Berkata jujur dan menepati janji sudah baik dan benar, apapun akibatnya. Sebaliknya, berbohong dan ingkar janji  adalah salah apapun akibatnya.  

Contoh klasik dari prinsip teori tersebut adalah Sepuluh Perintah Tuhan dalam “syariat” agama Nasrani (Ten Commandment ) dan aturan emas Golden Rule:  “Perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan”.  

Syahdan, ketika terjadi krisis moral yang parah, Dostoyevky bertanya gundah dalam The Brothers Karamazov:  “..Kalau Tuhan tidak ada, apakah semuanya jadi boleh?..”. Tanpa Tuhan, apakah moral masih masuk akal ? Kalau tidak ke Tuhan, ke mana lagi moral bisa dicantolkan ? .

Bagi seorang ateis atau sekular,  pertanyaan itu bukan cuma sensitif, tapi bisa dianggap berbahaya.  Mungkin sisa trauma Jaman Pertengahan yang disusul Renaisans. Agama waktu itu banyak disalah-gunakan. Tidak heran Simon Blackburn membuka bukunya “Ethics: A Very Short Introduction”( 2003, Oxford University) ,  dengan bab “ Tujuh ancaman terhadap Moral” . Ancaman pertama adalah mengacu moral dengan agama. Diungkapkan kemudian puluhan ayat dalam Bible yang amoral.

Keberatan asal syariat juga terdengar  di sini

“….Gerakan anti-miras yang mengacu pada agama memiliki argumen yang sama lemahnya dengan argument parlemen Amerika Serikat yang sempat melarang miras sepanjang 1920-1933 silam. Logika konyol yang tidak memiliki reasoning memadai: dampak kriminal yang ditimbulkan dari miras akan selesai dengan aturan pelarangan. Sama tidak memadainya alasan bahwa angka pemerkosaan terhadap perempuan akan berkurang melalui pelarangan busana yang tidak islami.

Logika ngawur ini akan luput menangkap faktual di lapangan bahwa kejahatan bukan berangkat dari tubuh yang telanjang, melainkan karena otak kotor yang diumbar. Maka, logika pelarangan miras seperti di atas akan selalu luput menangkap secara faktual bahwa maraknya kejahatan bukan karena mudahnya akses mendapatkan miras, tapi lantaran manusianya sendiri yang berwatak jahat…..”

Yang mau dikatakan, moral tidak mesti mencantol pada Tuhan, namun cantolan seharusnya  berada di diri manusia itu sendiri, manusia yang berbudi pekerti.  Pandangan terakhir ini dinamakan Teori Kebajikan atau “Virtue Theory”.  Virtues adalah sifat-sifat mulia dalam diri seseorang. Sifat itu didapat dari pelatihan yang kemudian jadi kebiasaan hidup. 

Sifat-sifat tersebut seperti kejujuran, baik-hati, kontrol diri, kesabaran,  adil, sikap syukur, welas-asih, hati-hati, ulet, rasional, dan lain-lain. Maka yang memilikinya akan punya kecenderungan perilaku moral tertentu. Perilaku itu, yang menurut Aristoteles misalnya,  berhubungan erat dengan sukses-tidaknya manusia mencapai kehidupan yang bahagia .

Perilaku moral di situ tidak lagi memerlukan “penugasan” atau “pemaksaan” dari luar. Dari syariat Tuhan atau dari KUHP misalnya. Tidak karena takut dosa pingin pahala,  tidak pula memandang untung rugi. Dia akan lahir wajar dari seorang bijak pemilik virtue. Bukan pula cuma reflek, tapi perbuatan yang sepenuhnya   dirasakan dengan kesadaran.

Teori ini bisa dipandang sebagai berasal dari keberatan mencantolkan etika pada Tuhan seperti pandangan agama. Tapi sebetulnya di sana terdapat pertemuan antara keduanya.  Agama pun sebenarnya melihat perbuatan moral karena urusan dosa dan pahala, adalah cara beragama tingkat pemula. 

Bedanya agama tidak nyinyir pada manusia tingkat pemula, apalagi meninggalkannya. Justru “Tugas utamaku adalah untuk meningkatkan akhlak manusia” kata Nabi Muhammad S.A.W.  

Perkembangan manusia ke jenjang lain perlu waktu dan usaha gigih. Selama cantolan belum terbentuk sempurna,  mungkin masih diperlukan cantolan lain : Tuhan, adat, KUHP, atau yang lain. Sampai suatu saat, pada tingkat yang tertinggi, perempuan sufi Rabiah Al-Adawiyyah berbisik ke langit: “Ya Allah ! Kalau aku beribadah karena takut nerakaMu, maka bakarlah ke dalamnya. Kalau karena pingin surgaMU, jauhkan aku darinya. Tapi semua ini cuma karenaMU, maka jangan halangi aku dari keindahanMu”.  

Dalam istilah tasawwuf Islam, itu perilaku Lillahi Taala. Mandella pun keluar dari  penjara yang merenggut 25 tahun masa mudanya dengan tersenyum dan penuh maaf. Tanpa dendam sama-sekali.

Persamaan yang lain, adalah soal bagaimana menjadi seorang bijak. Kebanyakan dari kita belajar dari mengamati dan meniru orang lain. Ini pokok penting dari teori kebajikan dan juga agama. Pendidikan lebih dititik beratkan lewat teladan, bukan dari aturan. 

Aturan kadang mengecilkan makna moral.  Beda, kehidupan nyata bisa memperagakannya dengan lebih utuh. Cerita kehidupan Socrates, Mandella atau Mother Teressa memberikan contoh nyata pada kemungkinan kesempurnaan karakter manusia. 

Kita semua mengaguminya lalu berusaha menirunya. Tentunya, juga cerita kehidupan Yesus a.s dan Muhammad s.a.w. merupakan pokok penting dalam agama.

Dari segi praktis, menarik sekali pengamatan Alain de Botton tentang keadaan masyarakat modern saat ini. Lewat pendidikan anak manusia memang memperoleh fisika, ekonomi, dan teknik. Tapi sampai lepas lulus perguruan tinggi, mereka kurang dibekali  “ketrampilan  untuk hidup”. Maksudnya, anak manusia modern tidak dibekali dengan “virtue”. Akibatnya, mereka terlambat matang sampai puluhan tahun setelah terjun dalam kehidupan dewasa. 

Dan akhirnya  terlanjur lebih dahulu kena berbagai penyakit psikis seperti depressi, bunuh diri, perceraian serta  lain-lain penyakit kegagalan hidup bahagia lainnya. 

Alain de Botton berpendapat bahwa terjadi kekosongan ketika agama ditinggalkan. Peranan agama yang sebelumnya harus diakui banyak membekali virtue tidak ada yang menggantikan. Botton yang ateis lalu berkata: “ Ayo, tidak perlu malu, mari kita ambil metode dari agama untuk belajar ketrampilan  hidup” . Maka dia kemudian dia mendirikan yayasan “The School of Life” .

Beberapa pandangan di atas biasa disebut sebagai teori klasik filsafat etika. Pokok-pokoknya masih tetap menjadi dasar berbagai masalah etika terapan sampai jaman ini.  Perdebatan sengit dis ekitar itu masih terus terjadi. Dalam bidang etika medis misalnya, timbul masalah. Di satu sisi, semua sepakat bahwa manusia memiliki otonomi , kedaulatan atas tubuhnya sendiri. 

Maka setiap tindakan dokter memerlukan persetujuan dari pasiennya. Perempuan punya kedaulatan atas tubuhnya, termasuk melakukan aborsi. Tapi bukankah itu melanggar kedaulatan janin yang dikandungnya?  Etiskah Aborsi? Dan etiskah bila dokter membantu keinginan pasiennya untuk mengakhiri hidup ( Euthanasia )?

Contoh lain etika terapan adalah masalah hak asasi manusia. Seperti diketahui, ada dua kelompok hak dalam hak-hak asasi.  Yang pertama hak-hak seperti kebebasan berbicara, kebebasan beragama, kebebasan berkumpul, serta  hak perlindungan terhadap hak milik. Semua hak-hak jenis ini intinya melindungi kita agar orang lain atau negara tidak menghalangi hal-hal  “apa yang kita mau”.

Kemudian, ada hak untuk hidup serta hak untuk tidak disiksa. Yang ini melindungi kita dari perbuatan jahat orang lain atau negara.  Hak-hak asasi jenis pertama ini  dinamai dengan  hak-hak negatif. Artinya, hak-hak yang  tidak memerlukan orang lain berbuat sesuatu, tapi malahan agar orang lain tidak berbuat sesuatu.

Yang kedua adalah hak-hak asasi seperti hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak mendapatkan pendidikan dan hak mendapatkan pelayanan kesehatan. Jenis hak asasi “generasi kedua” ini dinamai dengan hak positif.  

Titik tolaknya bukan kebebasan seperti pada “hak negatif”, tapi pada batas minimum kelayakan hidup manusia serta tanggung jawab semua untuk menyediakannya. Dari itu,  yang ini justru membutuhkan orang lain atau negara untuk menjelmakannya. Menarik, hak positif ini hanya diakui di Eropa dan Asia, tapi tidak di Amerika.

Teori Utilitarian tidak serta merta mendukung hak asasi , malahan cenderung menolaknya.  Dalam upaya mewujudkan kebaikan yang lebih besar, misalnya dalam pembangunan ekonomi, negara memerlukan pengorbanan hak-hak individu. Teori Utilitarian memilih menindas hak-hak individu  karena itu akan menciptakan kesejahteraan lebih besar bagi banyak orang.

Sebaliknya, pendapat dari Teori Deontology. Mereka percaya bahwa semua makhluk rasional memiliki marwah yang wajib dihormati orang lain. Tidak ada situasi yang bisa jadi alasan untuk  mengabaikannya. Juga alasan untuk mencapai kebaikan bagi banyak orang lain.  Jadi teori etika ini mendukung dihormatinya hak-hak asasi manusia apapun akibatnya.

Yang unik adalah pandangan Teori Kebajikan. Jelas bahwa hak positif ( yang fokusnya membantu  manusia lain ) lebih dekat pada budi pekerti, virtues,  dibanding dengan hak negatif yang dasarnya melindungi individu. Tapi bagi teori ini, bersikap bijak itu adalah lebih dari penghormatan terhadap hak. Jika hak kemudian jadi pusat kepedulian, dikuatirkan bahwa kebajikan akan menjadi dibawah hak. 

Klaim akan hak itu condong pada kepentingan diri sendiri. Egoistis. Juga, klaim atas hak bisa kedengaran seperti klaim bahwa orang lain berhutang pada Anda. Padahal teori kebajikan lebih menekankan pada apa yang baik dilakukan terhadap orang lain. Mirip pada ucapan Kennedy, “ Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan pada negaramu” .  

Dengan kata lain, berhenti bicara tentang hak-hakmu, mulailah dengan apa yang kamu bisa sumbangkan kepada orang lain.  Teori Kebajikan kuatir bahwa dorongan egoistis bicara soal hak bisa mengganggu upaya membangun akhlak manusia seutuhnya.  

Jadi, seperti halnya dalam cabang filsafat lain, Filsafat Etika sama menarik, sama rumit, dan sama menantang. Setiap aliran keyakinan punya argumen kuat, juga lawannya. Semua bisa diguncang dan terguncang. Seperti layaknya perdebatan sengit dalam pengadilan antara jaksa dan pembela, hakimnya adalah diri kita. Tentu tidak mudah menentukan kita akan berpihak pada yang mana.



Bahan bacaan :

1. Thiroux2, Jacques P. 2009.   Ethics : Theory and Practice.  College of DuPage : Pearson

2. Panza, Christopher. 2010. Ethics For Dummies. Indinapolis : Wiley Publishing, Inc.

3. Muthahhari, Murtadha. 1995. Falsafah Akhlak. Bandung : Pustaka Hidayah

4. Poiman Louis P. 2012. Ethics :Discovering Right and Wrong. Boston: Wadsworth

5. De Botton, Alain. The School Life, An Emotional Education. 2016. Penguin

6. Blackburn, Simon. Ethics, A Very Short Introduction.  2003. Oxford University