Akhir-akhir ini, menghangatnya situasi dunia membuat banyak orang berspekulasi tentang Perang Dunia Ketiga. Kapan ia akan pecah? Di mana perang itu akan dimulai? Bagaimana kita menyelamatkan diri seandainya diserang? Semua pertanyaan ini menimbulkan diskursus di mana-mana.

Tentu, kita semua tidak ingin Perang Dunia Ketiga pecah. Jalan damai adalah cara terbaik untuk menjamin kemaslahatan bersama. Namun, dua perang dunia sebelumnya mengajarkan kita bahwa war is not all evil. Ada banyak hal positif yang muncul dari terjadinya perang.

Penderitaan yang dialami bersama memperkuat persatuan bangsa. Selain itu, munculnya remote misses justru memperkuat keberanian masyarakat untuk melawan agresor. Terakhir, kedua hal ini diperkuat dengan munculnya orator-orator yang membakar semangat masyarakat di kala perang.

Ketiga dampak positif ini memang benar-benar terjadi dalam berbagai kasus. Inggris mengalaminya ketika kota-kota mereka diserang bertubi-tubi oleh pesawat bomber Jerman. Sampai saat ini, peristiwa ini dikenal sebagai The Blitz

Sementara, Indonesia mengalaminya waktu Surabaya digempur pasukan Inggris lewat udara dan darat pada 10 November 1945. Inilah yang selalu dikenang oleh rakyat Indonesia sebagai Hari Pahlawan.

Dalam konteks Inggris, rakyat mereka bersatu dalam sebuah optimisme yang tidak biasa. Mereka percaya bahwa Nazi Germany adalah evil yang pasti kalah dengan Inggris. 

Selain itu, pemboman juga memperkuat kemauan rakyat Inggris untuk tidak menyerah dan memiliki pengharapan. Keep calm and carry on menjadi slogan yang menggambarkan semangat ini. Dan Winston Churchill become the embodiment of the British Spirit.

Sebagai Perdana Menteri Inggris pada 1940-1945, Churchill tidak hanya menjadi pemimpin perang dengan strategi militer yang mumpuni. Ia juga melakukan resonansi terhadap semangat rakyat Inggris melalui berbagai pidato. Lantas, pidato-pidato inilah yang menjadi penyulut optimisme rakyat Inggris di masa perang. Dengan kata lain, ia berhasil menggagalkan upaya Nazi Germany untuk mematikan semangat rakyat Inggris dengan bom.

Salah satu pidatonya yang paling menggetarkan adalah pernyataan yang disampaikannya kepada House of Commons pada 4 Juni 1940. Berikut adalah potongan klimaks dari pidato berjudul We Shall Fight in The Beaches ini (Winstonchurchill.org, 2020).

Even though large tracts of Europe and many old and famous States have fallen or may fall into the grip of the Gestapo and all the odious apparatus of Nazi rule, we shall not flag or fail. We shall go on to the end, we shall fight in France, we shall fight on the seas and oceans, we shall fight with growing confidence and growing strength in the air, we shall defend our Island, whatever the cost may be, we shall fight on the beaches, we shall fight on the landing grounds, we shall fight in the fields and in the streets, we shall fight in the hills; we shall never surrender...

We shall never surrender. Keep calm and carry on. Mentalitas inilah yang membawa kemenangan bagi Inggris di Perang Dunia Kedua. Ironisnya, mentalitas ini pula yang digunakan rakyat Surabaya untuk melawan Inggris pada 10 November 1945.

Dalam konteks Indonesia, rakyat Surabaya disatukan oleh semangat yang membara untuk melawan agresor. Inggris memberikan ultimatum dan serangan untuk membuat rakyat Surabaya takut. 

Justru, illegitimacy dari otoritas tentara Inggris menimbulkan efek yang sebaliknya. Arek-arek justru makin berani dan trengginas untuk melawan tentara Inggris. Hasilnya, Pertempuran Surabaya pun pecah dengan Peristiwa 10 November sebagai klimaksnya.

Di antara arek-arek Suroboyo, ada satu sosok yang dianggap sebagai "kompor". Meski hanya lulusan SD, ia memiliki kemampuan orasi yang luar biasa. Kalau kekuatan Churchill terletak pada kata-kata, maka kekuatan orator satu ini terletak pada semangat dan suaranya. Siapakah dia? Sutomo. Kita semua mengenalnya sebagai Bung Tomo. 

Bung Tomo menjadi api yang memantik semangat rakyat untuk berjuang bersama-sama. Jika kita tinjau tema pidatonya yang terkenal itu, temanya tidak jauh-jauh dari apa yang disampaikan Churchill pada rakyat Inggris. Simak saja kutipan pidato ini (Seta dalam surabaya.tribunnews.com, 2019).

Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!

Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka. Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka. Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.

Dan kita jakin, saoedara-saoedara, pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar pertjajalah saoedara-saoedara, Toehan akan melindungi kita sekalian.

Kita tidak akan menyerah pada siapapun juga! Pesan ini sama persis dengan we shall never surrender dari Winston Churchill.

Keduanya juga menunjukkan keberanian di tengah serangan musuh (defiance). Bedanya, jika rakyat Inggris keep calm and carry on, rakyat Surabaya bereaksi dengan menghajar si agresor lewat konflik terbuka. MERDEKA ATAU MATI menjadi semboyan yang berlaku.

Kesimpulannya, situasi perang dapat memunculkan orator inspiratif yang menyulut semangat dan keberanian rakyat. Winston Churchill dan Sutomo adalah contoh brilian dari orator-orator tersebut. Mereka menjadi bastion yang menjamin optimisme psikologis rakyat di bawah tekanan.

Iya, perang memang harus dihindari. Namun, seandainya perang kembali pecah, these kind of orators are needed more than ever.