Sampai tulisan ini dibuat, saya belum mendapatkan rujukan otoritatif tentang motif di balik tragedi penembakan membabibuta para jemaah sholat Jumat di dua masjid yang berlokasi di kota Christchurch, Selandia Baru. Serangan brutal ini dilakukan seorang pria psychopath yang merekam adegan yang dia lakukan secara live streaming.

Kejadian ini tentu telah menorehkan luka yang sangat mendalam bagi kita sebagai makhluk bernurani. Kita menyaksikan bagaimana manusia diperlakukan begitu rendah seperti objek permainan peluru yang begitu rapuh. 

Namun dalam kondisi ini, selain dengan seruan pelaksanaan doa dan ibadah berjamaah untuk memohonkan ampun kepada Tuhan sebagai bentuk kepasrahan atas musibah yang terjadi, kita perlu untuk benar-benar melakukan sebuah perenungan mendalam.

Dalam setiap tragedi, hal yang paling dominan muncul dengan cepat adalah sebuah reaksi. Terlepas reaksi itu sifatnya menenangkan atau bahkan menjadi pengutukan dengan sebuah puncak emosi, saya kira kita perlu mengelupasi cangkang-cangkang reaksi yang seringkali tidak menuntaskan masalah. Kita harus bisa masuk pada substansi nilai yang semestinya mampu kita gali dan pahami dari setiap peristiwa yang terjadi di alam ini.

Bila kehidupan ini diibaratkan sebagai sebuah film berdurasi panjang sejak Big Bank atau sejak penciptaan, kita, yang tidak melulu menjadi aktor utama pada setiap episode dan adegannya, harus mampu melihat moral story dari episode dan adegan yang kita saksikan. 

Karena setiap episode yang meskipun tidak melibatkan kita secara langsungpun, sesungguhnya masih terintegrasi dalam naskah dan desain besar semesta. Sebuah naskah kehidupan yang pada bagian-bagian tertentu masih membutuhkan pendapat kita sebagai aktor untuk merevisi atau melakukan perubahan jalan cerita.

Ada spekulasi yang menurut saya boleh disepakati untuk sementara waktu terkait  tragedi kemanusiaan di Christchurch, Selandia Baru ini. Tragedi ini, boleh jadi adalah sebuah manifestasi fanatisme sempit seorang manusia dalam menyikapi apa yang menurutnya berbeda tidak boleh ada dalam konsep semesta. Seorang yang kemudian menjadi liar dan menanggalkan nuraninya demi sebuah expresi subjektif atas apa yang dia pahami sebagai sebuah tindakan kebenaran.

Fanatisme yang hadir dalam setiap ajaran baik itu agama, sekte, komunitas, dan kelompok sejenisnya, selalu menjadi unsur penghancur satu-satunya yang tidak akan mengenal akal sehat dan nurani. Sudah berapa banyak manusia yang mati hanya karena pembelaan fanatismenya terhadap apa yang dianggapnya paling benar dan menyalahi kebenaran lainnya?

Yang paling menyedihkan bagi saya secara pribadi adalah ketika orang atau kelompok tertentu melakukan sebuah perbandingan tragedi dan melempar sebuah premis yang seolah-olah itu menjadi sebuah pembenaran universal. 

Contohnya adalah: “Kita kini melihat bahwa teroris tidak berjanggut, tidak bergamis, namun dia berkulit putih dan tidak beribadah”. Saya kira, ini adalah reaksi mengerikan yang dalam pesan implisitnya mengatakan bahwa “kelompok anda yang teroris, bukan kelompok saya”.

Sehingga ketika nanti terulang kejadian yang serupa dan pelakunya berasal dari kelompok lain, maka asumsi semacam ini akan kembali muncul dan juga berulang. Lalu apa yang bisa kita ambil sebagai pesan moral dari pernyataan semacam itu? Bahwa agama saya benar, agama anda salah? Etnis saya terhormat dan etnis anda hina? Bahasa saya lebih berkelas dan bahasa anda rendah? Begitu?

Bila dari setiap tragedi kemanusiaan yang terjadi, kemudian hanya muncul cangkang-cangkang reaksi semacam itu, pesan moral yang kita ingin pahami tidak akan pernah bahkan hanya untuk tersentuh oleh nalar logis kita. 

Saya ingin bertanya tegas, kapan kita bisa merayakan perbedaan sebagai fitrah kehidupan? Bertetangga secara harmonis dengan orang yang berbeda keyakinan, berkawan dengan kelompok yang memiliki orientasi seksual berbeda, satu rumah ibadah dengan jemaah yang berbeda madzhab.

Kapan kita bisa mulai menghormati perbedaan tafsir setiap orang pada pembacaannya terhadap firman Tuhan? Kapan kita akan menyudahi impian sektarian untuk bisa memaksa semua orang hanya percaya pada satu kepercayaan tunggal imajiner?

 Mengapa kita selalu khawatir dengan timbulnya perbedaan yang sesungguhnya hanya berkutat pada daya kreativitas otak manusia saja? Mengapa harus memaksakan satu hukum yang dianggap absolut dan menggagahi hukum-hukum lain yang juga hidup dengan konteksnya?

Bila kita selalu menyerah untuk dapat membuka hati dan nurani tentang realitas kehidupan yang diciptakan berbeda, maka sejak saat itulah sisi psikopati kita telah terhitung mundur dan menunggu untuk meledak atau sengaja diledakan seperti si penembak yang melihat jemaah di masjid sebagai makhluk berbeda yang bisa dia habisi tanpa belas kasih sama sekali.

Kasus fanatisme brutal di atas tidak terjadi hanya sekali, bahkan di Indonesia pun telah banyak kita saksikan. Peperangan berdarah di Poso, pengusiran Jemaah Syiah di Sampang, pembunuhan keji Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, pembakaran masjid di Tolikara Papua, perobohan patung Arjuna di Purwakarta, pemotongan nisan salib di pemakaman daerah Yogyakarta, dan masih banyak kasus serupa lainnya yang berhubungan dengan keyakinan egosentris dalam memaknai kebenaran.

Namun sayang, setiap reaksi yang kita hadirkan seringkali hanya sebuah ekspresi sektarian dan menjadi attacking point untuk melakukan penyudutan tandingan atas peristiwa lainnya yang berbeda secara keyakinan atau afiliasi sosialnya.

Saya harus jujur mengatakan bahwa bila kita tidak siap dengan segala bentuk perbedaan yang hadir dalam kehidupan bermasyarakat, maka sebenarnya kita belum siap untuk benar-benar bertuhan. Karena perbedaan adalah manifestasi ketuhanan itu sendiri.

Pandangan egosentris kita atas kebenaran sesungguhnya juga adalah fitrah bawaan, namun upaya memaksakan orang lain untuk sepakat dengan apa yang kita pandang benar secara egois inilah yang akan menjadi bom waktu yang akan meledak dalam peperangan berdarah. Maka pertanyaan terakhir untuk dijadikan sebuah renungan bersama adalah:

Seberani apa kita menyudahi semua ini dengan KEBIJAKSANAAN sebagai sikap terbuka dan merdeka atas panjajahan fanatisme dalam alam bawah sadar kita? Mari merenung dengan tenang, lalu bergerak dengan bijak dalam rangka memperlakukan orang lain dengan baik sebagaimana kita ingin orang lain pun memperlakukan kita dengan baik.