Seorang seniman harus mempunyai konsep agar karyanya mampu berkarakter. Ia akan merujuk pada satu peristiwa atau keilmuan tertentu. Riset dokumen, turun ke lapangan mencari data dan bersenyawa dengan alam adalah metode untuk memadukan intuisi dan fakta agar memiliki nilai itu sendiri. Dengan itu, karya seni tidak akan begitu saja jadi. Ada pergulatan pemikiran sekaligus batin hingga berulangkali dirumuskan sampai “menjadi” sebuah karya.

Melissa Sunjaya adalah salah seniman visual dari Jakarta. Dengan kerja yang cukup serius, ia membuat Bio Fantasy: Tribut to Chairil Anwar. Mulanya, karya visual berbentuk abstrak itu ia buat dengan menelusuri karya-karya maestro puisi Indonesia: Chairil Anwar. Dalam riset dokumennya, ia mencari puisi terjemahan Chairil dalam bahasa Inggris yang dilakukan oleh Burton Raffael, seorang dosen dari Amerika Serikat. Dalam pengantar bukunya ia menulis, “Bahasa adalah faktor penting dalam hubungan manusia. Bahasa tanpa emosi bisa mengakhiri peradaban kita. Visi saya untuk Bio Fantasy ini bertujuan menanamkan puisi yang memiliki emosi ke dalam karya seni saya.” (hlm 7).

Setelah memalui pergulatan panjang, ia akhirnya membuat tujuh puluh dua lukisan atas tafsir teks puisi Chairil Anwar yang termasuk ke dalam buku ini dan sempat dipamerankan di Galeri Salihara. Buku ini sangat unik karena merangkum tiga karya; pertama, sejumlah puisi Chairil Anwar, kedua, puisi terjemahan dalam bentuk bahasa Inggris oleh Burton Raffael dan ketiga, seni visual Melissa Sunjaya.

“Pandangan Chairil Anwar yang paling berpengaruh terhadap karya saya, tercermin pada prosanya yang berjudul “Membuat Sajak, Melihat Lukisan”. Prosa ini menjelaskan bahwa sebagai seniman kita harus mencari sesuatu yang baru, dengan memakai intuisi dan dengan menganalisi setiap tahapan dalam metode kita.” (hlm 7).

Oleh karena itu, si pembaca akan menikmati tiga karya sekaligus. Dalam bukunya, ia pun membuat semacam prosa untuk menghantarkan pembaca dalam “menikmati” karya visualnya. Uniknya, ia pun membuat semacam kaca mika untuk meneropong teks puisi/diksi pilihan Chairil dalam lukisan. Pertama kali, pameran lukisan Melissa di Komunitas Salihara 2016, setelah itu ia mencetak banyak ke dalam bentuk buku pada September tahun lalu.

Kesadaran atas lingkungan 

Bagi Melissa Sunjaya, Chairil bukan saja inspirasi tapi bisa dikatakan sebagai energi dalam penciptaan. Ia melihat puisi morfologi ala Chairil dengan merelasikannya ke semesta. Tidak heran, jika karya Melissa cukup mengambil konsep tentang alam dan tumbuhan.

Ketika melihat karya Melissa Sunjaya dalam Bio Fantasy, kita akan diajak bagaimana melihat penyemaian antara sains dan seni menyatu. Ia membuat semacam garis “sel” ala biologi mirip jejaring genetika. Selain itu, pola garisnya cukup abstrak. Menariknya, warna dari visualisai Melissa cukup mewakili identitas “urban” hari ini. Campuran kecerahan mampu memberikan efek lain ketika kita melihatnya.

Terlebih penting tentang visi masa depan itu sendiri. Dalam karya berjudul “Aku” dan “Genetic Mutaiton 2942”, Melissa membuat semacam fantasi tentang masa depan manusia dengan alam. Ia merujuk jika lingkungan tercemar dari sampah plastik, pasti akan terbayang wujud visual manusia “kesakitan”.

Dapat dikatakan benar, imajinasi Melissa ketika membuat keseluruhan karyanya mengusung tema sains. Namun, isu lingkungan pun tak luput menjadi persoalan penting. Dalam fiksi berjudul Bio Fantasy, ia membuat tokoh bernama Ayati—sebuah nama dalam puisi Chairil dengan tokoh ilmuan. Seorang narrator menceritakan tentang kemungkinan terburuk dalam masa depan ummat manusia. 

Jika kita membacanya seperti adegan visual dalam sebuah film,“Mimpi buruk dimulai ketika suatu virus yang berbahaya dicampurkan ke dalam produk-produk komersial seperti pupuk, pewarna makanan dan bahan pengawet. Virus ini menyebar ke seluruh penjuru negara dan mengontaminasi air yang dimimun, udara yang dihirup dan tanah yang dipakai untuk menanam bahan makanan. Dalam jangka waktu kurang dari dua belas tahun, virus ini menimbulkan perubahan-perubahan fisik pada banyak sekali orang.” (hlm 15).

Masalah lingkungan adalah tema kebangsaan saat ini. Menurut Dirjen Pengelolaan sampah, Limbah dan B3 KLKH total jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada. Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton. Setiap tahun produksi plastik menghasilkan sekitar delapan persen hasil produksi minyak dunia atau sekitar 12 juta barel minyak atau setara 14 juta pohon.

Salah satu fungsi ilmuan dan seniman adalah meneropong masa depan. Karya visual Melissa Sunjaya ini menorpong masa depan itu dengan menggabungkan tiga unsur: sains, seni dan lingkungan. Sebagai seniman, Melissa, bukan saja melihat alam sebagai sumber inspirasi tapi ia melihat alam juga sebagai sumber kecemasan terhadap umat manusia. Pada sisi lain, ia mengkritik fungsi sains yang akan mengakibatkan “kerusakan” dalam sebuah peradaban, sisi lainnya karya visual seolah diinjeksikan terhadap pemikiran kritis kita terhadap lingkungan.

Dalam sajak Sebatang Lisong, Rendra menulis sebuah Pamplet darurat, /Inilah sajakku/Pamplet masa darurat. /Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan./Apakah artinya berpikir,/ bila terpisah dari masalah kehidupan/.

Ketika kita membaca karya Melissa Sunjaya, ia menjembatani pamplet Rendra itu.

 

A Tribute To Chairil Anwar

Bio Fantasy Book First Edition

by Melissa Sunjaya 

Penerbit: PT Tulisan Tinta

Halaman: 180 hlm