Sistem pendidikan sekarang berbeda dengan sistem pendidikan terdahulu. Tidak sedikit pihak yang mengeluh dengan sistem pendidikan Indonesia sekarang ini. Entah pihak mana yang salah, namun tak sepenuhnya adalah salah pemerintah.

Ada beberapa sekolah yang masih memberikan PR (tugas rumah) saat sekolah tersebut sudah mengadopsi full day school. Anak-anak yang sudah sekolah seharian pasti kelelahan di saat waktu istirahat nya malah digunakan begadang untuk mengerjakan PR.

Namun, bagaimana dengan anak yang mengikuti les sehingga tidak akan langsung pulang ke rumah terlebih dahulu? Mungkin jam tidurnya akan sangat terpotong untuk mengerjakan PR yang belum tentu hanya 1 mata pelajaran. Belum lagi jika bersamaan dengan diadakannya ulangan.

Tentu sekolah akan berdalih tentang memberikan PR dengan alasan karena guru tidak bisa memberikan pembelajaran secara maksimal dikarenakan waktu yang mepet. Alamak, seharian di sekolah masih kurang waktu untuk mengajar murid?

Mengapa sekolah tidak memberikan PR saja sekalian agar tidak ada moment “percuma?

Di Taman Kanak-Kanak 2 tahun, Sekolah Dasar (SD) 6 tahun, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3 tahun, Sekolah Menengah Atas (SMA) juga 3 tahun, kuliah 4 tahun. Ceteris Paribus, tidak menjamin kesuksesan kita. Biaya yang dikeluarkan sedemikian banyaknya belum tentu akan langsung terbayar begitu saja.

Program edukasi pada Pendidikan Indonesia tak lain adalah untuk membentuk karakter anak agar suatu hari bisa bekerja di sebuah perusahaan. Sehingga nantinya mereka bisa diperlakukan bagaikan mesin, dan pada membentuk karakter individual yang mempunyai pemikiran yang kritis.

Sehingga banyak orang yang tidak menemukan peluang, malah hanya menumpang menjadi bawahan daripada menjadi alasan saat tak menemukan jalan, pengangguran pun menjadi pilihan.

Adalah hoax terbesar dalam dunia pendidikan saat ada yang berpendapat bahwa “kejujuran lebih penting daripada nilai”. Nyatanya disaat seseorang yang sudah terkenal pintar dan mengalami tekanan sehingga melakukan kecurangan untuk mempertahankan nilai.

Guru tidak akan pernah curiga sama sekali. Toh, memang sudah terkenal pintar. Terkadang juga guru tidak mengajarkan cara berbagi ilmu kepada teman kita, padahal itu sangat penting untuk membangun hubungan antar sesama teman agar tidak terjadi perselisihan atau iri hati.

Mungkin hal ini di karenakan kurang ketatnya pengawasan pada pendidikan di Indonesia sehingga hal ini dapat dianggap sebagai hal yang lumrah bagi orang-orang, sehingga hal seperti ini hanya dianggap sebagai angin lalu oleh banyak pihak, baik yang terlibat maupun yang tidak terlibat.

Sistem Pendidikan di Indonesia juga hanya mengenal nilai atau hasil daripada usaha mendapatkan hasil tersebut. Sehingga tidak adanya ruang bagi siswa yang telah berjuang mati-matian melawan kebodohan yang ada pada dirinya. Seolah-olah tidak ada tempat untuk orang-orang yang seperti itu.

Sistem Pendidikan di Indonesia di buat mungkin hanya untuk mendapatkan Ijazah atau NISN sebagai ajang kompetisi untuk membuktikan bahwa “Akulah siswa terbaik” Padahal ijazah hanya sebagai bukti kita pernah mengenyam pendidikan di setiap jenjang yang ada, bukan bukti jika kita pernah berpikir.

Pernahkah kita berpikir, mengapa sekolah begitu lama? Masih ada saja orang yang pengangguran? Atau berpikir mengapa sekolah dengan banyak mata pelajaran , yang ujung-ujungnya hanya menjadi seorang ibu rumah tangga yang tidak perlu menghadapi banyak rumus kimia, fisika, dan matematika? Pernahkah?

Mengapa biaya pendidikan sangatlah mahal disaat banyak orang yang kebingungan untuk mencari sesuap nasi sehari-harinya? Sedangkan orang yang berada atau mampu membiayai pendidikan dengan gampangnya menyepelekan dan mengikuti beasiswa untuk kaum tidak mampu?

Mungkin saja Pendidikan di Indonesia ditujukan hanya untuk orang yang berada saja, orang-orang yang tak mampu membayar pendidikan harus mempersiapkan diri menjadi bawahannya saja tanpa pernah diberikan kesempatan untuk menjadi seorang atasan.

Namun kita semua tahu bahwa kerja keras, kreatif, disiplin, inovasi, optimis, dan lain sebagainya juga diperlukan untuk menjadi orang yang sukses, tidak hanya mengandalkan gelar pendidikan mereka. Toh banyak yang putus sekolah menjadi orang yang sukses, seperti Menteri Perikanan Indonesia, Bu Susi Pujiastuti.

Bahkan ada yang lulusan S1 atau S2 menganggur, jelas-jelas gelar mereka sudah tercetak di belakang nama mereka. Akan tetapi, mereka tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan gelar yang mereka yang harus belajar bertahun-tahun di Universitas.

Rajin saja tidak cukup. Toh penyapu jalanan dan tukang sampah melakukan pekerjaannya setiap hari tetap begitu-begitu saja, tidak ada kenaikan gaji atau pangkat, tidak ada suksesnya jika kita melihat dari kacamata masyarakat umum.

Mungkin di balik Sistem Pendidikan Indonesia sekarang ini, ada maksud dan tujuan baik yang di persiapkan pemerintah untuk kita sebagai rakyatnya. Hanya saja kita tidak peka terhadap maksud dan tujuan tersebut.