Dipakainya piama hangat hadiah dari neneknya di ulang tahun kedelapan kemarin. Ulang tahun memang menyenangkan, pikirnya, karena di sanalah diriku bisa melihat umur yang menua, bukan diriku yang mendekati kematian. 

Selesai memakai piama tersebut, ia langkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk melakukan kegiatan yang sekiranya sangat penting sebelum tidur, ‘sikat gigi’. Begitulah kata ibunya hampir setiap hari, “Sikat gigi sebelum tidur itu penting, Nak.” Lalu ia mengangguk tanpa protes. 

Sesampainya di kamar mandi dengan dinding keramik bergambar ikan-ikan mas warna-warni yang sedang berenang di sebuah rawa jernih, ia ambil sikat giginya yang berdiam di gelas yang berdiri di sudut wastafel. Ia lapisi sikatnya dengan pasta gigi, lalu mulai menyikatnya.

Bukanlah kegelisahan yang tercipta ketika sikat bergesekan dengan gigi, tapi ketenangan dan kenikmatan yang membuncah di setiap pasta yang membaluri gigi menjadi busa putih yang segar. 

Di hadapannya ada cermin yang bergantung di atas tembok kamar mandi di atas wastafel. Ia lihat dirinya yang sekarang mulutnya dipenuhi busa. Hidungnya memerah karena hawa dingin yang mulai menusuk di jam 9 malam ini.

Lalu pada salah satu kedipan matanya, secara tak sadar dan memang tak bisa disadari, bukan dirinyalah yang berada di pantulan cermin tersebut, tetapi sebuah sikat gigi dengan piama yang sedang berdiri menghadap cermin menyikati giginya dengan si anak kecil yang menjadi sikat gigi. Apa ini? Ia kaget. Mulutnya yang berbusa menganga.

Refleksi di cermin yang sekarang berbentuk sikat gigi juga terlihat kaget sepertinya. Mereka sama-sama berhenti menyikat gigi. Sikat giginya terjatuh begitu saja, begitu juga dirinya yang dipegang oleh sikat gigi di balik cermin. 

Perlahan ia dan sikat gigi menjauhi cermin tanpa kumur. Lalu mereka berlari dari kamar mandi menuju kamar tidur dengan tergesa-gesa seperti dikejar raja iblis.

___

Jam weker, seperti biasa, mengganggu pagi yang nyaman dan hangat di atas kasur empuk penuh kerinduan. Kasur adalah dimensi ternyaman selain kamar mandi, yang membuat setiap manusia merasakan kasih sayang yang dalam dari Tuhan. 

Tangannya secara otomatis mematikan weker itu, lalu mencoba membangkitkan tubuh yang terpaksa harus bangun karena keluarga perlu disuapi. 

Mulutnya menguap, mengeluarkan bau busuk dari mulut malam yang tak tersentuh apa pun kecuali air liur. Jam berapa ini? Pertanyaan bodoh. Kebiasan yang membuatnya sedungu kalkun yang membenamkan kepalanya ke tanah.

Tubuhnya lemas. Matanya tak mau terbuka. Sebelum berdiri, ia menggaruk pantatnya yang gatal. Lalu ia hadapkan wajahnya ke cermin di dekat meja kecil tempat berdiri lampu baca. Karena khorden masih tertutup, cahaya tak membantunya untuk melihat pantulan wajahnya di cermin. 

Ia nyalakan lampu baca tersebut, dan muncullah sesosok yang bukan dirinya. Ia masih juga terlihat bodoh waktu itu, kaget dalam raut dungu.

Yang ada di sana adalah kasurnya, yang memakai kaus kutang putih bau bacin seperti yang ia kenakan. Ketika mulai sadar—benar-benar sadar maksudnya—bahwa yang ada di balik cermin bukan dirinya, ia melangkah mundur dari cermin keparat itu dan bertanya-tanya. Pertanyaan-pertanyaan bodoh. 

“Kau siapa?” tanyanya. Dan pantulan di balik cermin juga bertanya seperti itu berbarengan dengannya. “Siapa kau, keparat!?” ia menggertak lebih keras, dan tentunya si pantulan yang berwujud kasur juga melakukan apa yang ia lakukan. 

Ia terkaget-kaget. Keringat mulai berjatuhan dari ubun-ubunnya, mengalir lancar ke pipi dan tubuhnya. “Anjing!” ia berlari keluar kamar seperti rusa yang dikejar sang raja hutan.

___

Kamar riasnya adalah sebuah kebetulan artistik dari ciptaan sang suami. ‘Kebetulan’ karena pernikahan mereka tidak bahagia, tapi sang suami menuruti permintaan sembrono tersebut. Sang suami memang bodoh. 

Tadi malam sang anak, yang satu-satunya, membangunkan kedua pasangan itu karena ‘sikat gigi hidup’. Mereka yang sedang tertidur pulas karena kelelahan membenarkan sistem kapitalisme dibuat geram. 

“Jangan menceritakan hal aneh, nak,” kata sang ayah yang tertidur dengan kutang bacinnya. 

“Oh, sayang. Tidurlah bersama kami jika kau takut.” Tambah sang ibu. Tapi sang anak terus memprotes karena apa yang ia lihat sungguh terjadi. Dengan strategi orangtua yang jengkel, mereka bisa menenangkannya dan akhirnya tidur bersama.

Pagi itu, ketika dirinya sedang melapisi bibirnya dengan lipstik berwarna merah muram, sang suami berteriak-teriak tak karuan dari kamar, lalu ke ruang dapur. Bodoh, pikirnya sambil melanjutkan dandan. 

Ia lihat lagi dirinya di depan cermin rias, memulas-mulas bibirnya yang sudah terbalur sempurna, dan…”Warna ini tak cocok, sepertinya harus ganti lagi.” Dan ia mengambil tisu di sebelah meja rias. 

Ketika kembali dan melihat dirinya lagi dicermin, ia mencoba mencari lagi warna lipstick yang cocok dengan pakaiannya. 

Hari ini ia ingin bertemu manajer sebuah perusahaan dagang ekspor-impor yang usahanya sedang melejit naik daun karena tembakau yang ia sediakan lebih segar dari perusahaan lain. Tubuhnya tambun, bahkan buncit, tapi siapa yang tak mau uang mereka? 

Jadi, sepertinya pakaiannya yang serba beraura—blazer tanpa kancing seperti rompi lengan panjang yang fit ke tubuhnya beserta kemeja putih berbahan chiffon, dan rok pendek—cocok untuk bertemu pria semacam itu. 

Sepertinya merah merona lebih cocok dari pada yang muram. Ia ambil dari kotak kosmetik lipstik merona itu, dan mulai membaluri bibirnya di depan cermin.

Tapi yang di sana bukanlah dirinya, tapi lelaki tambun dengan baju ketat yang ia pakai dan berbalur lipstik merah merona. Pemandangan yang sangat menjijikkan. Tanpa berkata satu dua kata untuk memprotes anomali tersebut, ia berlari keluar dari ruang riasnya seperti budak lemah yang dikejar kraken Hades.

___

Mereka berkumpul di meja makan. Kedua orangtua itu masih terkaget-kaget dengan apa yang terjadi, dan si anak masih pusing dengan apa yang ia lihat. 

“Apakah kalian mengalami hal yang sama dengan diriku?” tanya sang anak, karena kedua orangtuanya bersikap aneh di atas meja makan itu. 

“Aku melihat kasur,” jawab sang ayah. 

“Aku melihat manajer perusahaan buncit,” jawab sang ibu hampir berbarengan.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah rumah ini berhantu?” tanya sang anak.

“Tak tahu,” jawab sang ayah kebingungan. Sang ibu hanya diam menatap suami dan anaknya bertanya-tanya akan apa yang terjadi. 

“Lebih baik kita pergi.” Sang ayah menarik istri dan anaknya keluar rumah. Ia ambil kunci mobil di laci ruang tamu, dan mengajak mereka untuk menaiki sedan hitam yang terparkir di depan rumahnya. 

Sebelum masuk ke dalam mobil, mereka melihat bayangan aneh lagi di balik kaca mobil. Sang ayah menjadi hyena, sang ibu menjadi landak, dan sang anak menjadi katak. Mereka kaget lagi. Semuanya memakai pakaian yang sama dengan yang mereka pakai.

“Pernahkah kalian berpikir untuk berterimakasih?” kata sang katak dari balik kaca mobil.

“Ya, bersyukur,” ulang si hyena dan landak berbarengan.

“Maksudmu?” tanya sang anak kepada bayangan katak yang masih memakai piama bergambar Mickey Mouse sepertinya.

“Bersyukur, bodoh!” kata hyena membentak kepada mereka semua.

“Ya, bersyukur, bodoh!” ulang dua bayangan aneh lainnya.

“Bagaimana caranya?” tanya sang ibu.

“Hewan-hewan dan benda mati bahkan lebih pintar untuk berterimakasih dibanding kalian.” Jawab landak dengan cetus.

“Tapi bagaimana?” tanya sang ayah lagi dengan gusar.

“Belajarlah!” jawab makhluk-makhluk bayang itu bersamaan.

Seketika, bayangan-bayangan aneh itu berubah kembali menjadi bayangan-bayangan anggota keluarga itu. Tapi sayangnya, mereka yang ada di dunia realita berubah menjadi hewan-hewan yang tadi menunjukkan wujud mereka di balik kaca mobil. Sang ayah menjadi hyena, si ibu menjadi landak, dan anak dengan piama Micky Mouse menjadi katak. 

Yang tadinya dianggap mati menjadi hidup, dan yang tadinya hidup menjadi bayang-bayang yang seringkali dilupakan hanya untuk memandang diri sendiri. Mereka mati di dalam sana, di dalam cermin yang dilupakan. Dan yang mati menjadi hidup, mencoba mengingat apa yang mereka lupakan.