Titip Rindu pada Senja

Senja menyapa kembali
Di ufuk timur ia tengah bersinar dengan jingganya
Masih memandanginya meski mata ini terasa lelah
Menitip rindu pada dia yang tak terjamah

Mungkin akan tersampai meski hanya lewat bisikan angin
Namun sekali lagi kutegaskan titip rindu pada senja


Kemilau Jingga

Langit mulai berpendar dengan warna jingga yang memukau
Ya, kemilau jingga tengah bersinar di balik bukit nan hijau
Menutup hari ini dengan cahayanya yang kian pudar
Sebagai ucapan selamat tinggal dan selamat datang untuk sang malam

Pada kemilau jingga itu kurangkai doa yang tak bersuara
Mengeja satu nama yang terukir apik di dalam kalbu

Berharap dengan tenggelamnya mentari mampu kuatkan hati
Yang tengah merindukan sosoknya nan jauh di sana


Matahari Sore

Masih ada jejaknya yang tak luput dari bayangan
Matahari sore sebagai saksi kisah di masa lalu
Terseok hati pada berbagai kenangan
Tentang dia yang masih sering berputar dalam pikiran

Mungkin rasa itu terlalu kuat untuknya
Hingga kala matahari sore hadir menyapa
Bayangnya seolah tak pernah sirna
Meski telah berlalu begitu lama


Bersama Senja

Sekali lagi ada bagian hati yang berdebar
Bersama senja yang kian menjauh
Menyisakan cahaya kuning keemasan
Yang sedikit lagi berganti gelap

Bisik-bisik itu semakin jelas
Mengusik diri yang tengah menikmati kesendirian
Di beranda yang diterpa cahaya sang mentari


Kenangan di Senja Itu

Masih segar dalam ingatan
Beberapa tahun silam ada tawanya yang mengisi hari
Seperti energi yang menguatkan
Seperti itu pula kehadirannya

Tetapi sekarang berbeda
Aku hanya bertema kesunyian
Bersama senyap di saat langit berubah jingga


Lagi-Lagi Senja

Berjalan sendiri bersama desau angin
Menikmati deburan ombak yang membentur karang
Lagi-lagi senja yang mempertemukanku dengannya
Di tempat sama seperti hari-hari sebelumnya

Senja menjadi saksi perkenalan, kebersamaan dan perpisahan
Kisah klasik antara dua insan yang bertemu di tepian pantai