Awan kelabu pekat bergulung-gulung menaungi bumi tempatku menyusur setapak becek pagi ini, macam kemarin. Bunyi pongkor bambu saling berbentur seirama dengan langkahku mendekat-memanjat pohon kelapa pertama sepagi ini, macam biasanya. Turun-naik-turun dari pohon satu ke pohon lain. Tak lupa aku sayat kembali manggarnya dan kuganti pongkor yang terisi nira dengan pongkor kosong.

Hasilnya? Cukup. Setidaknya dapat makan siang hari ini. Tentu saja hujan adalah momok bagi siapa saja penyadap pohon kelapa, makin membuat perut meronta. Mau mengumpati hujan? 

Ah kata mereka hujan itu anugerah. Mau bagaimana lagi. Kerap aku dapati nira di pongkorku telah bercampur dengan air hujan, kerap tak sempat aku panjat pohon-pohon kelapa itu sebelum jutaan tombak air menubruki bumi. Ada pekerjaan lain.

Sesampai di rumah lekas aku tuang semua nira di pongkor ke wajan besar di atas tungku yang besar pula. "Alhamdulillah, Mas, Ibu bisa matangkan gula hari ini. Sudah cukup niranya." Seorang yang tengah mengatur api di pawon berujar, ibuku.

"Iya, Bu. Alhamdulillah." Jawabku. Tentu saja sudah cukup—hasil dari mengumpulkan nira pongkor demi pongkor dalam beberapa pagi dan sore. Kami dapat makan hari ini, setidaknya.

Bertanya kenapa aku menjadi penyadap kelapa? Ayah? Di mana ayahku? Beliau juga penyadap kelapa, sering aku ikut sekedar membantu membawakan seikat pongkornya, dulu sewaktu aku SMA. 

Waktu itu aku tengah duduk menunggui saat dia perlahan memanjat pohon kelapa, lekas pijakkan kakinya pada pangkal dahan sesampainya di atas. Namun sesuatu yang tak terduga terjadi, dahan tempat berpijaknya amblas, sudah rapuh. Dahan kelapa itu pun jatuh, dan bapaku juga, seakan tertarik dahan itu.

Gemerasak bunyi dahan jatuh lekas disertai bunyi berdebum tubuh bapak. Aku sedari tadi terhenyak lantas berteriak, mendekatinya. Belum juga aku bertanya bagaimana keadaanya, dia dijemput ajal. Tulang belakangnya patah, kepalanya membentur tanah keras. Apa yang bisa kulakukan? Hanya meronta.

Selepas mandi aku kenakan pakaian kebesaranku yang lain selain celana kolor berikat pinggang rafia dan kaos kusam robek di kedua lengan yaitu seragam guru. Setelah sarapan, aku lekas mengeluarkan sepeda merah bermerk phoenix lantas menungganginya. 

Jarak rumah ke sekolah tiga kilometer, tentu aku tempuh tiap hari. Ponsel berikat karetku mendering ketika aku mulai mengayuh pedal sepeda. Ada pesan dari rekan guru."Mas, aku gak berangkat hari ini, nanti tolong gantiin ngajar ya."

Belum juga di sekolah dan aku sudah dapat pekerjaan tambahan, sudah sangat biasa.Jadi operator, guru olahraga, gantikan guru yang mangkir. Timpakan semua pada gedibal ini! Peduli apa mereka? Terlena jaminan takkan dipecat, gaji tetap mengalir meski kerap mangkir. Ban yang terpeleset batu mengacaukan lamunanku, hampir saja terjatuh. Di depanku berjejer murid-murid sekolahku dalam perjalanan berangkat sambil bersenda gurau.

"Eh hati-hati, di sini angker lho!?Ada setanya!"Celetuk salah satu anak.

"Ah masa si?" Heran teman yang lain.

"Beneran ko, emang pada ga tau ya? Kan pernah ada orang mati di sini!?"

"Eh jangan gitu dong, takut nih, buruan ah." Jawab temanya sembari mengayuh sepeda kecilnya lebih cepat, takut.

Anak itu benar, tapi bukan tentang yang angker, setan apalagi.Tapi tentang orang yang mati, dia pengawas dari kabupaten yang tengah dalam perjalanan pulang selepas menengok sekolahku.Motornya terpelanting akibat ban-nya menggilas batu licin, juga tanah becek, tubuhnya pun terbanting pula.Tewas di tempat karena kepalanya disabung dengan batu.

Sampai juga aku di peraduan keduaku, papan beton bertulis SDN Kali rutin menyambut siapa saja yang melewat gerbang. Jam enam lewat duapuluh menit, masih ada waktu untuk menyiapkan apa-apa saja untuk menggantikan mengajar nanti, dan kewajiban utamaku sebagai operator serta guru olahraga tetap jalan. Tapi mereka peduli apa? Setiap guru olahraga pasti akrab dengan selentingan "Ah apa susahnya si ngajar olahraga, yang penting kan keringetan."

Justru resiko menjadi guru olahraga itu tinggi, semisal kau menyuruh muridmu lompat jauh, dia lari sekencangnya lantas meloncat dan didapati kakinya terkilir selekas melandas.Sekarang siapa yang dianggap berdosa? Orangtuanya mendamprat kepala sekolah, kepala sekolah mendampratku dan aku mendamprat semua muridku karena tak perhatikan betul-betul contoh yang aku beri pada mula-mula.Yah, salah siapa pula beri amanat pada yang dianggap kurang kompeten macam si gedibal ini.

*

Selebaran kertas lekas-lekas aku beresi setelah kewajiban mengganti guru kelas 4 selesai. Peduli apa dengan mengurus data guru dan murid yang urung rampung, aku musti pergi ke kampus.Aku masih kuliah, baru masuk semester 2 ambil jalur ekstensi.

"Hari ini kau kenapa, Mas?"Seorang mengacaukan kegiatan beres-beres.Aku lirik, ternyata Mba Seruni.

"Jangankan menyimpul senyum, kau bahkan mendamprat kelas yang kau ajar tadi.Kau mengajar?Atau menghajar, Mas?”

Aku diam saja, mendengarkan. "Tahu kenapa aku seret kau ke peraduan--tempat salah satu ironi terjadi ini?Karena kau manusia ter-naif yang pernah ku temui.Kau kembalikan uang kembalian duaratus perak ketika kau aku suruh beli tisu, kau simpan bekas bungkus permen di kantongmu lekas kau buang ketika temui tong sampah, kau pun membenci siapa saja orang yang menebar sampahnya. Bahkan kau menunjukinya tak punya moral, dan, dan segala lakumu yang lain."

"Katakan padaku, apa kau mulai menilai ini semua tak ada gunanya, Mas?"Gerakku tersetrap seketika, apa yang dia katakan barusan?

"Baru pertama ini aku dengar suaramu terdengar hingga balik tembok ketika mengajar, Mas.Ada yang salah denganmu.Atau, pikiranmu tengah tersibukan sebuah pertanyaan?"Perempuan itu lantas menghambur keluar sembari memegangi pinggangnya--berat perut menyiksa tulang punggungnya.Bukan karena gendut, dia mengandung bakal manusia baru.Bibit bakal manusia itu dia dapat dari seorang tukang las.

Mba Seruni sama juga denganku, gedibal sekolah.

Entahlah, tadi segerombol murid dipojok terus saja ribut saat aku menerangkan. Maaf Ibu Daryati, muridmu memperoleh dampratku yang pertama di sini.Entitas-entitas buruk sepagi ini menyetir lakuku, tapi mungkin benar yang Mba Seruni katakan: semua ini takkan berbuah guna.

Langit baik hari ini, sehari hanya menggertak tiada selesai dengan kilat dan awan kelabunya, namun belum juga hujan. Lekas aku menuju rumah selepas kuliah rampung, naik angkutan umum, dan berjalan 4km dari tempat bus berhenti hingga rumah, hampir sampai rumah aku dapati awan makin menggelap, aku dapati juga pohon-pohon kelapa yang aku sadap. Mungkin akan hujan barang sebentar lagi. Tak sempat untuk pulang dulu, aku musti ambil nira-nira itu sekarang--dengan setelan rapi ala guru ini, peduli apa dengan pakain kebesaran penyadap.

Ku gulung celana panjangku sebatas atas lutut lekas memanjat.

Tentu saja tak sukar untuk menggagahi pohon ini, bahkan aku berani saja jika ada monyet yang berniat menantangku lomba memanjat.Selekas wafatnya Bapak, aku yang melanjutkan perjuanganya. Mengenai Bapak, aku ingat sesuatu—di pohon ini Bapak jatuh dulu.

Sebenarnya sebelum-sebelumnya aku tak pernah pusingkan sejarah pohon ini, tapi entah kenapa saat ini—ketika aku sampai di atas, aku merasa. . . Aku merasa ada sesuatu yang ganjal, tak tahu apa itu. Lekas aku lepas tambang pengait pongkor yang terisi nira itu, cukup banyak. Aku musti cepat turun, masih ada beberapa pongkor lain yang musti diambil.

Saat hendak turun, tiba-tiba badanku menggigil, angin berhembus.Tapi makin lama makin kencang tiupanya, aku menggamit pohon lebih erat lagi, entah kenapa untuk kali ini aku agak khawatir padahal sebelum-sebelumnya aku tak pernah acuh walaupun pohon yang kupanjat bergoyang.Tiba-tiba terdengar suara, suara yang keras dari bawah.Lekas aku pandang ke bawah. Sial! Angin yang makin besar, berat pohon juga berat tubuhku membedah akar pohon. Pohon ini akan roboh! Tak tahu apa yang kulakukan sekarang, namun tangan serta kakiku reflek makin erat menggamit pohon.

Bapak, apa aku dan pohon ini akan menyusul bapak bersamaan? Begini cara aku berakhir? Ditindih bangkai pohon?Pohon makin cepat menuju tanah di bawah, gemerasak daun kelapa terdengar, hembus angin mendesing di telingaku, lagi-lagi aku teringat Bapak.Lalu bagaimana dengan ibu?

Makin cepat pohon jatuh, dan. . . Tersangkut pohon lain, aku terkejut dan tanganku tak sanggup mencengkeram lagi, letih. Jatuh, aku akan jatuh. Terdengar bunyi berdebam tubuhku yang disabung dengan tanah, seketika suara tercekat keluar dari mulutku, tak sanggup meronta dan aku lihat beberapa pongkor lekas menyusul jatuh, menghantam kepalaku.Seketika gelap.

*

Nyeri yang tiba-tiba terasa menyerangi belikatku, karena itulah sadarku kembali. Mataku mengerjap-ngerjap lalu samar kulihat ruangan berbalut warna putih, surga kah? Tapi tidak, setahuku manusia yang masuk surga tak ditempeli kapas putih serta plester luka dipunggung telapak tangan kananya dan juga selang yang menjulur tersambung dari tanganku menuju tabung bening, infus? Kuyakinkan simpulanku dengan mengamati setiap sudut ruang putih ini, ada lima orang lain dengan kondisi sama denganku. Benar, ini Rumah Sakit, mereka didampingi sekitar satu dua orang disampingnya, aku juga. Seorang parubaya berperawakan sedang, menatap melas dan berusaha ditutupi dengan sesimpul senyum, Mas Iqbal: suami Mba Seruni.

"Alhamdulillah sudah bangun kau, Mas."Dia menegur masih dengan senyum tersimpul.

"Kenapa aku bisa di sini, Mas?"Tanyaku.

"Kenapa kau bertanya, Mas.Kau tau sebabnya, kecuali tadi kau tidur saat memanjat kelapa. "Mas Iqbal terkekeh.

Bodohnya aku, tentu aku tahu sebabnya.Aku senyum saja.

"Ibuku belum diberi tahu kah, Mas?"Aku heran, kenapa beliau tak ada di sini, mendampingiku.

"Ehmm, su sudah, Mas." Tukang Las berpribadi luhur itu menjawab dengan gagu, kenapa dia?

"Lantas kenapa beliau tak di sini?"

Aku mendengar dia menghembus nafas panjang."Mas Iqbal?"

"Tadi, Mas. Ada angin ribut.Kencang sekali, atap seng rumahku juga ada yang terbang.Pohon-pohon juga banyak yang patah juga roboh, termasuk pohon yang Mas panjat.

"Lekas aku adzan berharap angin mereda.Tapi belum juga selesai adzanku, Lik Tugiyo teriak-teriak manggil aku sambil lari, Mas. Aku tanya ada apa, dia jawab Ibunya Mas kakinya ketimpa lemari jatuh, tak bisa gerak. Jadi. ."

"Apa!?" Aku tak butuh ceritanya lagi, aku kaget, seketika badanku tersentak lekas tegap dan nyeri belikatku menyerang sebagai akibat."Arghh! Benar yang kau kata, Mas!? Sekarang Ibuku di mana?Keadaanya bagaimana?"Berlarik kata yang terucap dengan keras membuat nyeri makin menjadi. Peduli setan! Ibuku kecelakaan dan aku tak mendampinginya!

"Tenang, Mas tenang. Nanti tulang belikatmu yang retak-retak itu makin parah, Ibumu sedang dirawat di sini juga, tapi beda ruangan sama, Mas." Mas Iqbal coba tenangkanku, dan aku menenang mendengarnya."Setelah mengangkat lemari yang menimpa Ibumu, aku langsung balik ke rumah ambil mobil pick up-ku buat antar Ibumu ke Rumah Sakit sekalian bilang ke Seruni untuk tunggu rumah.

Nah, pas dalam perjalanan, aku lihat ada orang tingak-tinguk blingsatan sambil teriak minta tolong.Ternyata itu Lik Mingun. Langsung aku setop mobil lalu tanya ke dia ada apa, dia bilang Mas jatuh dari pohon kelapa. Ya Allah, Mas gemetar aku dengar kabar itu, lekas aku lari bareng Lik Mingun untuk bawa Mas ke mobil. Terpaksa Mas ditaruh belakang sama Lik Mingun karena di depan sudah ada Ibumu, aku juga Lik Tugiyo, Mas." Kelihatanya dia rampung bercerita.

Apa? Apa lagi ini? Setelah semua pelakuan buruk dunia padaku, sekarang naunganku--ibuku dilukai? Persetan! Aku tak sanggup meronta, ini terlalu menghujam.Hanya selelehan air yang licin mengalir bermuara di janggutku sebagai setetes wakil atas seluruh entitas rasa yang merongrong diri.Iya, menangis, meluap lagi setelah beberapa tahun saat wafat Bapak.

"Tolong carikan kursi roda untuk aku, Mas Iqbal.Bantu aku temui ibu."

"Tidak sekarang, Mas. Kalian dalam keadaan sama, dan akan sama-sama dioperasi dalam waktu dekat. Jangan banyak gerak."Timpalnya.

"Untuk tidur di ranjang sini saja butuh berbatang-batang pohon kelapa yang musti kugagahi, Mas.Tak ada operasi untuku.Cukup ibu. Biar aku berusaha cari dana di luar."

"Sayangnya tak bisa, Mas.Kau dan ibumu akan dioperasi bersama, aku dan Mba Seruni yang urus."

"Apa!?" Astaga, tentu aku terkejut, setidaknya aku tahu betapa biaya untuk operasi, untuk dua orang!

Ditengah keterkejutanku, tampak Mba Seruni di ambang pintu, lengkap dengan calon manusia baru di perutnya.Aku tanyai saja selekas dia mendekat.

"Apa maksud semua ini, Mba?Biaya untuk operasi itu tak sedikit, dan untuk dua orang."Tanyaku.

"Tenang saja, Mas."Susul Ibu hamil itu.

"Apa maksud Mba dengan tenang saja?Kalian lebih butuh, terutama bayi dalam kandunganya Mba."

"Tak perlu kau recoki pikiranmu dengan itu, Mas.Kau musti tenang sebelum operasi."

"Lagipula, Mas. Sehabis angin ribut ini, pasti banyak sepeda motor yang ragangnya meleot karena terbentur pohon dan akibatnya aku akan kebanjiran order." Mas Iqbal menimpali dengan serta tawa renyah.

"Nah, implikasi yang paling mungkin adalah Mas Iqbal akan dapat menabung kembali," susul Mba Seruni.

Apapula mereka ini, berlelucon di tengah keadaan yang mereka buat sendiri dan nantinya mencekik mereka sendiri. Padahal aku dan mereka hanya...

"Bagaimanapun, Mas, tanpa hubungan sedarh, kita saudara dan kita harus tetap bersaudara. Kau pun akan membantuku jika nanti dalam kesulitan. Ah iya, kau akan membopongku bersama Mas Iqbal saat aku geger lahiran nanti." Ibu hamil itu tertawa lagi.

Iya, kalian adalah saudaraku.

*

Kembali aku mengerjapi mata, bingung.Di mana ini?Sebelum ini, ranjang operasi adalah tempat terakhir yang aku ingat.Coba aku berjalan menyusur.Tempat ini nyaman, hijau dan menentramkan rasanya.Bapak?Benar itu Bapak?Dan, Ibu juga?Aku lekas percepat langkah, dan benar, itu mereka.

"Bapak?"Sergahku, lalu dibalas senyum oleh beliau.Ya Tuhan, rindu sangat aku pada Bapak.Lihatlah beliau, masih berwajah arif hasil tempaan keras semasa hidup.Lekas aku jemput dan cium tanganya, juga kakinya.

"Ibu, ibu bagaimana?Ya Tuhan maafkan Bu, aku tak ada saat kejadian itu."Aku menunduk, menyesal, malu.Apalagi dihadapan Bapak begini.

"Tak apa, Mas.Ibu baik-baik saja."Senyum sejuk itu, tak pernah gagal menentramkanku."Kau tahu, Mas. Ibu dan Bapak tadi tengah membicarakanmu, tentang segala yang kau cita-citakan, yang kau hendak lakukan di masa depan. Segalanya, macam dulu.Kangen sekali rasanya.Hari ini, Tuhan berkehendak menjawab kangenya Ibu, Mas."Jawab perempuan mulia itu.

"Mas, Bapak mengerti, belakangan, kau disibuki berbagai prasangka dan berujung pada pertanyaan 'apa semua ini takkan berbuah guna?' , bukan begitu?

"Tapi tahukah kau, Mas di saat yang sama, kau pun kehilangan sesuatu dalam dirimu: keyakinanmu serta keihklasanmu. Betapa berbagai prasangka melindas pribadimu.

"Kita mungkin terus saja melawan waktu semasa hidup, tapi sesuatu itu, Mas, balasan itu, adalah sesuatu yang bersahabat dengan waktu.Mereka takkan saling mengkhianati. Waktu akan memanggil balasan untuk datang padamu jika saatnya telah tepat. Dan balasan itu selalu sesuai dengan kadar ikhlas dan yakinmu, maka balasan akan mendatangimu lebih, lebih dari apa yang kau beri dulu. Mungkin naif untuk menjadi pribadi yang terus ikhlas dan yakin, tapi, Mas mau tak mau itu adalah kunci hidup, hidup siapa saja bagi mereka yang berani memberi dan berbagi."

Macam beginilah keadaanku setiap Bapak mengurai nasihat: tertunduk dan bisu dengan sendirinya. "Bapak yakin kau, mengerti, Mas.Ibu, Mas Bapak pamit.Waktu yang diberi terbatas.Ibu, jangan berhenti untuk meridhoi anak kita ya.Dan kau, Mas jaga ibu benar-benar."

Seketika lenyap, mereka lenyap.

Aku mengerjapi mata lagi, berapa lama aku tertidur?Rasanya seperti selepas hibernasi macam binatang kutub, hanya saja tanpa menimbun lemak pada mula-mula.Jam, jam berapa sekarang?Delapan pagi.tak ada pelajaran olahraga hari ini, juga mungkin besok. Bisa-bisa jahitan sobek dan belikatku buyar jika memaksa memperagakan tolak peluru misalnya.Tidak. Aku akan terus di sini untuk beberapa waktu ke depan.

Aku lihat di ambang pintu ada beberapa anak kecil.Itu, itu muridku, murid yang ku damprat kemarin.Astaga, begini macam keadaan dan sekarang mereka hendak memperkarakanku dengan orangtuanya?Tapi tiba-tiba Mba Seruni menerabas segerombol anak itu.

"Ayo masuk semua, tak usah malu, ayo."Pada siapa dia bicara?

Ternyata bukan gerombolan yang kena damprat saja yang ke mari, tapi semua murid. Mereka masuk ruangan sehingga mendadak sesak, macam bak kelebihan air.Mereka menjenguku ternyata.

"Bapak kapan sembuh?Tak ada olahraga lagi kalau bapak tak ada."Begitu tanyanya salah satu murid.

"Pak Narlam kan ada, Mas Ari," jawabku.

"Pak Narlam kebesaran, Pak. Gak mungkin bisa ajarin lompat tinggi."Astaga, polos sangat tanggapnya.Aku terkekeh saja.

Ruangan jadi bising macam laron merubung lampu akibat berjejal anak begini, tiba-tiba Mba Seruni mendekatkan mulutnya pada telingaku."Segera setelah dapat kabar kau dan ibumu dicoba musibah, aku lekas wartakan ke rekan guru lain, dan para guru mewartakan pada semua murid, dan semua murid mewartakan pada orangtuanya, dan para orangtua murid berinisiatif menghimpun dana untuk perawatan kalian di Rumah Sakit serta pemenuhan kebutuhan setidaknya hingga kau sanggup bekerja lagi, Mas. 

Jumlahnya?Bahkan masih cukup jika kau mematahkan belikakmu yang satunya, hehe.Tenang saja tentang biaya yang kukeluarkan untuk operasi kemarin sudah diganti dari bantuan ini, aku sudah ceritakan dulu pada mula-mula.Mereka peduli, Mas."

Ya Tuhan, betapa keliru aku belakangan ini.Malu, terharu.

Rasa-rasanya ada sesuatu yang meremasi dari dalam diri, sejuk, nyaman dan tanpa sadar aku menyimpul senyum, dan kembali meleleh mengalir , menangis. Iya, aku bersyukur.