Sejak masih kanak-kanak, yang saya kenal sebagai pembungkus gorengan adalah kertas fotokopi-an gagal, koran bekas, sobekan majalah, juga kertas cokelat alias kertas nasi. Meski dibungkus dengan kertas bekas, tetapi gorengan tidak mengalami degradasi rasa. Apalagi ada cabe rawit yang melengkapinya, hmm...yummy!

Tak hanya untuk gorengan, kertas bekas juga dipakai untuk bungkus mi goreng, nasi goreng, nasi warteg, ketoprak, gado-gado, dan jajanan lainnya. Bertahun-tahun itu terjadi dan semuanya terasa wajar saja. 

Tak pernah terpikirkan apa dampak kertas-kertas bekas yang jadi pembungkus itu bagi kesehatan. Bahkan saya tidak tahu ada kertas khusus untuk membungkus makanan.

“Kertas yang aman untuk bersentuhan langsung dengan makanan adalah kertas yang dibuat dari virgin pulp (bubur serat kayu). Bahannya bukan dari kertas bekas, warnanya berbeda. 

Kertas bekas yang didaur ulang menghasilkan material berwarna kusam, cenderung kecokelatan. Sedangkan kertas dari virgin pulp, warnanya putih,” jelas Utami Wulan Sari, Customer Relation & Promotion PT Indah Kiat.

Ia lantas menunjukkan contoh beberapa kemasan pangan yang baik dan benar. Istilahnya food grade paper. Ada kemasan untuk pizza, mi instan, kue donat, dan banyak lagi. Semuanya menyandang brand yang akrab dengan keseharian kita.

Pengetahuan baru itu saya peroleh di fasilitas produksi PT Indah Kiat Serang, Banten. Saya berkunjung ke salah satu pabrik kertas terbesar di Indonesia itu bersama Komunitas Qureta dan APP Sinar Mas. Kesempatan langka bisa melihat langsung proses pembuatan kardus dan kemasan pangan.

Ternyata kardus dan kemasan makanan yang pasti dibuang setelah kita habiskan isinya itu mempunyai perjalanan panjang sebelum sampai ke pembeli. Mulai tahap desain, pembuatan pelat, mencocokkan warna, memotong, mengelem, dan seterusnya. Semuanya menggunakan peralatan berteknologi canggih.

“Nah, untuk food grade paper, caranya juga hampir sama. Tapi material utamanya yang berbeda, yaitu pulp, bukan kertas bekas," papar Kepala Seksi Offset Printing Indah Kiat Serang, Wagiyo (42), yang sore itu memandu kami.

"Kertas food grade dibuat khusus untuk makanan. Produknya beragam. Ada yang tahan panas, minyak, air, bahkan aman untuk microwave. Material utamanya pulp, bukan kertas bekas,” tambahnya.

Dari hasil googling, saya menemukan bahwa kertas bekas berpotensi menyimpan koloni bakteri yang sangat banyak. Menurut riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), jumlah bakteri yang terkandung dalam kertas pangan yang terbuat dari kertas daur ulang sekitar 1,5 juta koloni per gram. 

Padahal rata-rata bobot selembar kertas yang sering dijadikan pembungkus makanan adalah 70 gram. Artinya, ada 105  juta koloni bakteri yang turut serta di setiap lembar kertas pembungkus gorengan kegemaran kita.

Belum lagi tinta fotokopi, cetakan dan pena di kertas juga berdampak negatif bagi kesehatan. Zat kimia yang dikandungnya dapat memicu kanker, kerusakan hati, kelenjar getah bening, mengganggu sistem endokrin, gangguan reproduksi, meningkatkan risiko asma, dan mutasi gen.

Itu cuma beberapa dari sekian banyak penyakit degeratif akibat zat kimia tinta yang masuk ke tubuh dan terbawa gorengan, juga makanan lain yang kita konsumsi sehari-hari.

Sejenak saya tertegun dengan data itu. Bagaimana tidak? Sekian lama hidup di dunia, saya tak lepas dari kertas-kertas bekas dan daur ulang yang membungkus makanan serta bahan makanan. Bahkan saat meniriskan gorengan di rumah, juga memakai kertas yang sama. Berarti sudah berapa puluh tahun koloni bakteri ini bercampur dengan makanan saya?

Seketika ingatan kembali ke 2005, tahun ketika saya divonis kanker rahim yang hampir merenggut nyawa. Tujuh tahun saya berjuang melawan si silent killer itu. Beberapa dokter sudah menyampaikan prediksi sisa usia, tapi saya belum lelah berusaha.

Segala macam pengobatan saya jalani demi satu kata: sembuh! Tidak cuma obat-obatan kimia yang diresepkan dokter, juga pengobatan alternatif, ramuan herbal, jamu tradisional, sampai doa-doa yang dipanjatkan para ulama dan orang-orang tercinta. Semua tak ada yang sia-sia.

Hingga akhirnya saya dinyatakan sembuh oleh seorang dokter di Menteng, Jakarta, setelah setahun melakukan pengobatan dengan cara suntik.

Saya kembali bisa melakukan aktivitas normal. Memotret sebagai pekerjaan saya, offroad sebagai hobi saya, traveling yang merupakan gabungan keduanya, juga aktivitas lainnya.

Tapi sebagai penyintas kanker, sesungguhnya masih ada pertanyaan besar: dari mana kanker itu berawal? Keluarga tak pernah ada riwayat yang sama.

Apakah dampak dari kertas non-food grade pembungkus jajanan dan bahan makanan yang saya konsumsi selama puluhan tahun? Hmm...jangan-jangan begitu.