Semua bermula saat Iwel kecil diam-diam mengintip bapaknya yang sedang menelpon orang yang tampaknya asing. Pembicaraan mereka tampak kaku dan beberapa kali terdengar bapak menyebut-nyebut nama ibu diteleponnya. 

Sudah lama ibu tidak pernah pulang. Terakhir kali Iwel bertemu dengan orang yang melahirkannya itu saat dirinya baru masuk SD. Kini ia sudah kelas 6 dan tentu rindu kepada ibunya sudah tidak bisa dipendam-pendam lagi.

“Jadi Ibu kapan pulang, Pak?”

“Setelah kau lulus SD, Nak.”

“Apa Bapak bisa berjanji untukku?”

“Mana mungkin seorang Bapak membohongi anaknya.”

Bapak selalu bilang seperti itu saat Iwel kecil, yang kini mulai tumbuh besar,  menanyakan tentang keadaan ibunya. Dahulu, saat ia masih kelas 4, bapak bilang bahwa ibu akan pulang setelah dirinya naik kelas 5. 

Saat Iwel telah naik kelas 5 pun, ibu tak juga datang. Hanya kronologis seperti itu yang terus berputar. Bapak menelpon, Iwel bertanya, dan kemudian orang tua itu mengada-ada janji. Walau entah kapan janjinya bisa ditepati.

Iwel yang polos tetap coba mempercayai perkataan bapak, walau tetangga-tetangga dan teman bermainnya pun sering berkata bahwa orang tuanya adalah tukang bohong. Ajaran berbakti kepada orang tua yang didapatnya di sekolah membuat ia tidak lelah-lelah mempercayai perkataan bapak. 

Di luar sana, banyak yang bilang bahwa sebetulnya ibu dari Iwel sudah hampir mati. Ada yang menyebut karena banyaknya hutang bapak maka ibu harus dijual kepada rentenir, beberapa anak kecil sepantaran Iwel juga menggunjing kalau ibunya sudah dimakan oleh kerumunan unta di Arab. Memang, gunjingan kerap menimbulkan banyak versi yang sulit diterima.

“Pak, apa benar Ibu menetap di Arab?”

“Sepertinya kau mulai meragukanku sekarang.”

“Maaf, Pak. Aku hanya ingin memastikan apa yang dibilang teman-teman.”

Dari ingatan Iwel yang samar-samar saat lulus TK lalu, sang ibu memang pamit untuk pergi ke negeri yang menjadi kiblat agama Islam sedunia. Saat itu ibu pergi dengan menggunakan kerudung yang sebelum-sebelumnya tidak pernah ia gunakan. Sambil menjinjing koper yang tampak begitu sesak, ibu mencium kening Iwel cukup lama – yang kala itu juga membuat Iwel kecil sulit bernapas.

“Ibu mau pergi haji?” Iwel kecil dengan wajah polosnya malah menggenggam erat kerudung ibu.

“Tidak, Nak. Ibu mau cari uang, biar kamu bisa lanjut SD.”

“Aku rela tidak sekolah asal Ibu di sini.”

Perkataan anak kecil memang sering diabaikan dan dianggap sepele. Dengan senyum yang terlihat terpaksa, ibu melepaskan genggaman tangan Iwel dari kerudungnya. Ia keluar rumah dan langsung masuk ke bajaj yang sedari tadi sudah menunggu. 

Suara bising dari knalpot roda tiga itu kemudian merunyamkan keadaan di sana. Ibu menghilang di balik kepulan asap yang mengitari pekarangan rumah. Sampai sekarang mungkin ia tidak tahu kalau Iwel meneteskan banyak tangis setelah ditinggalnya.

Suatu ketika, saat Iwel sedang belajar di ruang tamu agar dirinya bisa cepat-cepat lulus. Ia melihat bapak pulang bersama seorang wanita paruh baya yang tampak sedikit lebih cantik dari ibunya. 

Dengan gincu yang melekat pada bibir, ia juga terlihat seksi dengan rok pendeknya. Mereka mesra berdua-duaan dan menyogok Iwel dengan sebungkus martabak agar segera pergi dari tempatnya. Bocah itu mengambil makanannya namun tidak beranjak, “Aku menunggu Ibu, Pak.”

“Sudah kubilang, Ibu akan pulang setelah kau lulus SD.”

Akhirnya Iwel pun pergi dengan perasaan kocar-kacir. Dalam hatinya penuh sumpah serapah yang entah dipelajarinya dari mana. Saat memasuki kamar, ia membanting daun pintunya cukup keras. Kedua orang itu menengok namun tak mempedulikannya.

Keesokan harinya, bapak mengejutkan Iwel yang baru saja bangun dari tidur. Saat seharusnya ia mencuci muka dulu atau mungkin sekedar membersihkan liur di sekitar bibir, bapak sudah menembak Iwel dengan satu peluru tajam, “Nak, apa Bapak boleh kawin lagi?”

Perasaan Iwel kembali kocar-kacir mendengarnya. Bocah itu mulai berpikir kalau bapaknya mulai gila sekarang.

Tidak lama setelah itu, terdengar bapak mengangkat telepon lagi dan menyebut-nyebut nama ibu di sana. Dari dalam kamar, Iwel menguping apa yang dibicarakan mereka dalam telepon. 

Sayang, tembok pembatas membuat suara bapak kian samar. Selang beberapa lama bocah itu keluar untuk mendapat pendengaran yang lebih jernih. Tapi saat dirinya muncul, bapak kembali mematikan panggilan.

“Aku kangen Ibu, Pak.”

“Ibu sedang bekerja untuk menghidupi kita.”

“Kenapa tidak Bapak saja yang bekerja? Ibu Guru bilang laki-laki itu lebih kuat tenaganya.”

“Tapi Bapak tidak sepintar Ibumu, Nak.”

Iwel masih tidak bisa memahami sebenarnya apa yang terjadi di keluarganya. Ia menjadi satu-satunya bocah yang mungkin tidak akan ditemani ibu saat perayaan kelulusan nanti. Mungkin di saat riuh tawa kelulusan, dan banyaknya kue yang bertebaran di aula, ia akan tetap digunjingi karena dianggap tidak memiliki ibu. 

Bocah itu sudah berpikiran buruk kalau teman-temannya akan bilang bahwa ia telah lahir dari rahim seorang bapak. Orang tua yang mulai menimbulkan banyak keanehan akhir-akhir ini.

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Iwel hanya mencium tangan bapaknya. Ia tidak menyukainya, karena beberapa kali saat melakukan itu sang bapak kerap masih tertidur pulas di kasur. 

“Lama-lama, lebih baik aku bersalaman dengan mayat saja,” gerutu Iwel kecil. 

Bocah itu sungguh iri dengan teman-teman yang dilepas ke sekolah oleh kedua orang tuanya. Kadang, mereka juga membekali makanan untuk sang anak. Tapi kondisi Iwel justru berkebalikan, ia malah harus membelikan nasi uduk di pengkolan dulu untuk sarapan bapak. Sekalipun itu dibeli dengan uang ibu, yang dikirim tiap satu bulan sekali.

Sewaktu-waktu, Iwel sepertinya ingin menyisipkan racun ke dalam nasi uduk yang tiap pagi dimakan bapak. Ia beberapa kali sempat menonton sinetron dan orang-orang di sana suka memberi racun pada makanan. Sepertinya ide itu menarik. Tapi hal itu seketika urung dilakukan karena Iwel berpikir hilang ibu saja sudah susah, apalagi hilang keduanya. Mampus lah.

“Pak, bagaimana mungkin Ibu bisa mengirimkan uang tapi tidak menanyakan kabarku?”

“Ibu hanya sedang sibuk, Nak.”

“Apa Ibu sudah tahu kalau Bapak ingin kawin lagi?

“Belum.”

“Dasar penjahat, Gerutu Iwel diam-diam.

Di ruang tamu, tanpa sengaja bapak menyetel saluran televisi yang menayangkan berita siang. Iwel yang juga sedang duduk di sebelahnya tampak melengos melihat tayangan berita tersebut.

“Kenapa diganti salurannya, Pak?”

“Kau sungguh bawel, ya. Pantas kau diberi nama Iwel oleh Ibumu.”

“Oh, jadi namaku ini pemberian Ibu?”

Kemudian di dalam kamar, sambil menyender dan sesekali menengok tugas matematik yang diberikan gurunya, Iwel terus memikirkan kondisi ibu. Berita barusan menunjukkan seorang wanita paruh baya yang dalam waktu dekat akan dipancung di Arab. Tayangan tersebut terus terngiang-ngiang di otak Iwel hingga menyebabkan ia makin rindu dengan sang ibu. Bocah itu pun segera keluar untuk mencari bapak.

“Aku lihat kepala Ibu mau dipotong, Pak.”

“Di mana?”

“Berita di tivi tadi.”

“Jangan sok tahu, yang tadi bukan Ibumu.”

“Tapi nama mereka sama, Pak. Sama-sama Sumarni.”

“Orang dulu memang kurang pintar dalam memberi nama. Makanya nama Ibumu pasaran.”

Sudah berjam-jam Iwel memegangi remot, mencari-cari saluran yang menayangkan berita potong leher tadi tapi tak kunjung ketemu. Tangan mungilnya mulai kapalan dan memunculkan bercak keringat. Beberapa kali ia juga tergoda dengan tayangan kartun sore, yang membuatnya agak goyah dengan tujuan awal: mencari berita pemancungan.

Hingga ketika tengah malam hampir tiba, tayangan yang dicari-carinya pun muncul. Sigap Iwel langsung meraih remot tivi dan membesarkan suaranya. Sampai-sampai tukang jaga malam yang tak sengaja lewat sempat penasaran, walau tak lama melanjutkan jaganya lagi. Di televisi yang kuno itu – terlihat dari modelnya yang cembung – menayangkan berita seolah seperti menuturkan kisah horor.

Bulu kuduk Iwel bergidik, namun matanya tetap melotot ke layar. Sesekali ia juga mengatur napasnya sambil menyimak baik suara yang keluar dari televisi. Dituturkan dengan nada yang monoton oleh pembawa berita, bahwa ada seorang pekerja paruh baya yang harus dipotong leher akibat membunuh tuannya. 

Perempuan – yang diketahui bernama Sumarni – itu memukul kepala tuannya hingga pecah dengan sebuah vas bunga khas Persia. Belum selesai liputan tersebut ditampilkan, tiba-tiba bapak muncul.

“Kau seharusnya sudah tidur jam segini, Nak.”

“Aku hanya rindu kepada Ibu.”

“Tapi itu bukan Ibumu.”

“Tapi aku merasa itu dia. Dan coba Bapak lihat, Ibu akan dipotong kepalanya, Pak.”

“Dahulu pun para utusan Tuhan pernah memotong kepala seseorang, dan kemudian seseorang itu berubah menjadi domba. Mungkin orang di berita itu sedang coba meniru atraksinya.”

Dialog-dialog semacam itu terus berlangsung tiada hentinya dan bapak dengan sang anak pun mulai semakin ngawur. Ketika puncak-puncak kelulusan sekolah tiba, Iwel sepertinya sudah mencapai titik tertinggi untuk lelah terhadap bapak. Dan momen kelulusan baginya bukan berarti soal selesai, melainkan ini adalah titik baru untuk mengharapkan kedatangan ibu.

“Pak, apa benar Ibu akan datang?”

“Mungkin.”

“Kenapa Bapak yang ragu sekarang?”

“Ia akan datang jika tidak dimakan unta di perjalanan.”