Malam Ambar,

Semoga kabarmu baik di Jakarta. Lama kita tidak saling bertukar kisah.

Tentu saja, saya membaca tulisan Iqbal Aji Darsono yang kaubagi di dinding Facebook tempo hari. Tentang lulusan luar negeri yang konon dibilang ‘genit’. Ya, mungkin lebih tepatnya, genit di sini lebih bermakna ‘nggumunan’ dalam nilai Jawa yang pernah saya terima di keluarga. Saya juga membaca sebuah status dari seorang alumni yang bernada sama. Lalu, kini kamu minta pendapat saya?

Ijinkan saya mengirimimu cerita saja, ya. Seperti biasanya kita.

Waktu itu saya pulang kampung, Ambar. Di suatu pagi, seperti biasa, saya tiduran di dipan dekat ibu saya di pintu samping rumah. Kami tengah menunggui tukang sayur. Saya telah membuka beberapa halaman tentang sejarah perdukunan. Tiba-tiba ibu saya memanggil pelan setengah berbisik. “Eh, Rina kulon kono mau nikah nanti Minggu,”ujar Ibu. Saya terkesiap.

“Lho, dia, kan, masih SMP, Buk?” saya memiringkan badan menghadap ke ibu.

“Dia hamil sama pacarnya. Tapi, ngga usah keras-keras. Kalau kedengeran Bapakmu, nanti dimarahi,” Ibu berbisik.

“Oh, gitu. Lha, ya, saya bisa saja tanya. Semua orang kampung juga akan heran kalau tau anak masih sekolah SMP,kok, malah disuruh nikah,”ucap saya santai waktu itu.

“Lalu, sekolahnya gimana, Buk?”tanya saya penasaran.

Mbuh,ya. Paling keluar,”jawab ibu sambil pandangannya menerawang ke luar pintu. Jawaban yang sudah saya duga.

Keesokan harinya, tanpa sengaja saya mendengar beberapa tetangga menggunjingkan berita ini. Di warung kelontong seberang rumah.

Berita ini sempat membuat saya gelisah betul. Saya agak jengah dengan suasana di dusun saya ini, Ambar. Cerita seperti ini berulang sejak entah kapan. Barangkali sejak saya sebelum lahir pun, ceritanya begitu lagi, berputar kembali. Anak perempuan belia, hamil di luar nikah, yang akan berujung seperti ini : si anak perempuan dinikahkan, bersama suaminya keluar atau dikeluarkan dari sekolah, dan, orang-orang kampung tiba-tiba merasa berhak jadi polisi moral bagi pasangan muda ini. Mereka pun dianggap mempermalukan keluarga dan sekolah. Sampai bertahun-tahun berikutnya, kisah mereka seolah nyaris tak lekang karena ditutur tularkan melalui gunjingan, ´dia dulu, kan, hamil duluan.’ Ujaran ini jelas menuju ke siapa. Si perempuan.

Saya sempat ingin menyampaikan kekesalan dan kemarahan ke Bapak saya. Sebagai perempuan saya merasa ini memang ngga adil. Saat itulah saya jadi berharap dusun saya bisa seperti Australia, di mana anak perempuan yang hamil di luar nikah tetap punya kesempatan hidup sewajarnya. Punya akses yang sama pada layanan publik sepantasnya.

Dalam kegundahan, saya pun menghubungi Gimin, seorang kawan lama. Saya sampaikan uneg-uneg saya tentang situasi ini dan rasa sebal yang memenuhi dada saya. Setelah panjang lebar saya bercerita—kaubisa duga, sembari menangis, dia baru menanggapi.

“Aku malah ngga berharap kamu bicara padaku dengan kemarahan seperti ini, Minten,”sejenak dia berhenti. “Kalau yang cerita padaku adalah orang lain, yang ngga pernah belajar tentang kajian perempuan dan ngga kerja di masalah gender, aku anggap itu wajar. Tapi kalau ini kamu, justru aku menyesalkan itu. Kamu dibayari pemberi beasiswamu agar kamu menjadi bagian dari solusi, bukan malah jadi bagian dari masalah. Sekarang kamu malah ikut memaki kondisi kampungmu, dan berharap kabur balik lagi ke Australia? Sudah kubilang berapa kali? Berpendidikan tinggi itu memang tidak mudah. Kamu punya tanggung jawab buat masyarakatmu. Bukan hanya mengeluhkan kekurangan kampungmu. Kalau cuma bisa mengeluhkan situasi dan bernostalgia dengan kemewahan tinggal di Australia, tanpa sekolah tinggi seperti kamu semua orang juga bisa. Kamu paham, kan? Ayolah, kamu bisa lebih baik dari ini. Tenangkan dirimu, dan mulailah berpikir jernih,” ujar Gimin saat itu.

Mengejutkan. Sekaligus menyesakkan. Tanggapannya di luar dugaan, Mbar. Saya diam. Mencerna kata-katanya semalaman.

Beberapa hari berikutnya, saya duduk di dekat Bapak setelah ia pulang dari rumah Rina, untuk persiapan pernikahan. Sudah kebiasaan kami, selepas maghrib, kami duduk santai di depan televise. Malam itu berita tentang Jakarta sedang ditayangkan. Saya tak begitu menyimak.

“Gimana,ya, Rina itu, ya. Apa ngga mikir masa depannya. Kok sembrono begitu,”Bapak saya begitu saja bergumam.

“Maksudnya pripun, Pak?”

“Rina itu, kan, hamil duluan.”

“Ya, saya sudah dengar. Semua orang sudah ngomongin itu di kampung ini.”

“Lha, ya itu. Kalau sudah begini, dia nanti akan makin kesulitan. Dia harus putus sekolah. Mau kerja apa coba umur segitu sudah mau punya anak. Suaminya mau kerja apa?,”Bapak saya menghela nafas.

Malam itu, akhirnya saya mengijinkan diri saya bicara panjang kepada Bapak, Ambar. Bahwa menjadi perempuan memang tidaklah mudah. Menjadi laki-laki juga tidak, tapi perempuan—karena tubuhnya—ia memikul lebih banyak beban. “Perempuan terlalu banyak memikul beban moral sejak ia muda, Pak. Saat baru menstruasi, mereka harus malu mengakuinya. Kalau darah tembus ke roknya saat sekolah, orang akan menertawakannya. Itu saya alami. Seperti Rina, saat laki-laki dan perempuan sama-sama melakukan ‘kecerobohan’ hingga terjadi kehamilan, kesulitan perempuan akan lebih besar. Mereka lebih sering digunjingkan, dicibir, karena harus hamil di luar nikah. Kalau bicara kecerobohan, siapa, sih manusia yang ngga pernah salah? Hamil saja sudah berat untuk anak seusia Rina. Belum lagi melahirkan dan membesarkan anaknya. Ia sudah kehilangan banyak kesempatan yang semestinya menjadi haknya. Ngga usah ditambah dengan cibiran miring yang membuat ia dan keluarganya makin tertekan.”

Saya berbincang panjang, Mbar. Dengan Bapak. Tentang masalah tubuh perempuan, masalah yang dulu tidak berani saya bayangkan untuk dibicarakan dengan Bapak. Bahkan kami juga menyinggung masalah aborsi, tentang menikah yang menjadi pilihan dan bukan keharusan, dan banyak hal lagi. Saya ngga ingat semua. Namun, satu hal yang saya ingat. Saat itu saya memang berjanji, untuk berusaha tidak hanya mengeluhkan situasi. Saya mungkin tidak bisa berbuat besar untuk banyak orang. Tapi, saya ingin berusaha melakukan yang saya bisa. Mungkin dengan membuka dialog-dialog kecil dengan orang sekitar, dengan keluarga maupun di teman-teman di tempat kerja, untuk mengenalkan pandangan saya. Semoga makin banyak yang bisa saya jangkau. Membuat perubahan pada hal yang sudah membudaya dan mendarah daging memang tidak gampang. Tetapi meratapi masalah, tak membuat semua jadi mudah.

Semoga cerita ini bisa menjawab pertanyaanmu, ya.

Tabik,

Minten