Pada tahun 2017, pengguna media sosial memiliki angka yang sangat signifikan yaitu 92,82% dan bukan pengguna media sosial hanya 7,18%. Pengguna media sosial di wilayah rural (perdesaan) 90,18% dan wilayah urban (perkotaan) 94,12%. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pengguna media sosial wilayah urban maupun rural. Pengguna media sosial di wilayah urban sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah rural.

Dan pengguna media sosial terbanyak berasal dari kalangan usia 20-29 tahun (generasi milenial). Sebanyak 93,5% dari kelompok generasi milenial memiliki akun media sosial. Pengguna media sosial hampir merata di setiap kelompok usia.

Dari data yang disajikan Indonesiabaik.id di atas dapat kita lihat bahwa media sosial telah menjadi realitas kekinian yaitu sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern, yang ciri utamanya adalah keberlimpahan informasi.

Saat ini, kita begitu mudah tergoda dengan postingan-postingan yang dibagikan orang lain dan masuk ke handpphone kita, baik melalui aplikasi media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, Telegram dan sebagainya). Mungkin tiap orang nyaris tak punya waktu yang tersisa bila semua yang dibagikan orang lain atau yang masuk ke handphone mau dibaca semuanya, bahkan hanya sekedar untuk beristirahat sekalipun tak akan mampu.

Lihatlah dan rasakanlah sendiri. Mengklik, membuka dan sekaligus membaca informasi di media sosial bukan lagi sebagai rutinitas sampingan, tapi posisi ini telah menjadi kewajiban tambahan. Jika tidak bisa kita kontrol, maka informasi-informasi yang kita baca pun akan cepat berpengaruh pada diri kita dan bisa merubah cara pandang kita. Karena apa yang kita baca, apa yang kita lihat, bila tidak kita cerna bisa berpengaruh besar dalam hidup kita.

Lihat pulalah, saat ini betapa banyak orang yang membagikan kembali informasi yang telah ia baca atau video yang telah ia lihat di media sosial. Yang lebih parah adalah kadang yang membagikan informasi tersebut pun belum membaca dan mengetahui apakah yang ia bagikan itu benar atau salah, layak atau tidak layak untuk dibagikan. 

Sebagian orang juga suka membagikan karena ikut-ikutan, melihat orang lain membagika ia ikut membagikan. Atau informasi itu sudah menjadi viral di media sosial hingga membuatnya pun tak mau ketinggalan untuk membagikannya. Kadang baru membaca judul tanpa membaca isi, langsung share ke lini masa media sosialnya dan ia bagikan ke kontak atau grup Facebook dan Whatapp yang ia punya.

Ah, melihat keadaan seperti itu aku jadi teringat dengan sub judul yang terdapat pada buku “Sirkus Pohon” terbaru karya Andrea Hirata ; “Siapa yang pegang mik, dialah yang berkuasa” Kalimat itu bagaikan sindiran untuk kita selaku pengguna media sosial, bahwa kita yang memiliki akun media sosial berkuasa mengendalikan media sosial yang kita punya. 

Kita bebas membagikan informasi apapun kepada orang lain, baik informasi itu bernilai positif maupun informasi itu bernuansa negative. Kita pun bebas mengunggah foto atau video di media masa kita, baik foto dan video itu bernuansa menyebarkan kedamaian maupun foto dan video itu berisi konten ujaran kebencian. Artinya, kita yang memiliki akun media sosial bebas menggunakan untuk apa media sosial yang kita punya.

Memang di zaman yang serba canggih saat ini, yang informasi banyak tersaji, tinggal klik dapat kita nikmati, membuat pengguna media sosial bebas mendapatkan dan berbagi informasi sesuka hati, baik informasi yang ia bagikan bernuansa positif yang berguna dan bermanfaat bagi orang banyak maupun informasi yang tak ada manfaatnya sama sekali.

Seharusnya media sosial dimanfaatkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif agar sama-sama menjadi jauh lebih baik dan tahu informasi terkini yang layak untuk sama-sama kita ketahui. Semestinya kita pun harus lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial. 

Misalnya, memastikan terlebih dahulu akurasi konten yang akan dibagikan, mengklarifikasi kebenarannya, memastikan manfaatnya, baru kemudian menyebarkannya. Tapi sayangnya, ada sebagian orang dan beberapa pihak atau oknum justru memanfaatkan media sosial yang menjamur saat ini untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten negative, hoax dan menyebarkan ujaran kebencian dengan sengaja guna kepentingannya sendiri atau untuk kepentingan kelompoknya.

Hal semacam itu tentu sangat berbahaya. Jika hal tersebut dibiarkan, dikhawatirkan akan membahayakan banyak pihak khususnya generasi muda yang mendominan menggunakan media sosial. 

Ditambah dengan fakta yang mengatakan bahwa kesadaran literasi bangsa Indonesia yang sangat lemah, yang pada kenyataannya adalah dengan rendahnya literasi adalah menjadi salah satu faktor pendorong masifnya peredaran kabar bohong atau hoax dan mudahnya terpengaruh dengan ujaran kebencian yang dikemas dengan bahasa yang menggiurkan. 

Maka tak heran bila ada sebagian masyarakat Indonesia seringkali mempercayai berita bohong, berita berisi fitnah, dan berita mengandung ujaran kebencian.

Menyadari hal tersebut, maka kita selaku konsumen informasi media sosial dan sekaligus produsen informasi media sosial dituntut untuk dapat menggunakan media sosial dengan bijak serta turut proaktif mengajak siapapun agar lebih cerdas menggunakan media sosial. 

Pun, kita harus mengapresiasi, karena sudah sejak lama Pemerintah juga terus berupaya untuk mengurangi penyebaran hoax atau berita palsu dengan cara menyusun undang-undang yang di dalamnya mengatur sanksi bagi pengguna internet yang turut menyebarkan konten negatif.

Sudah banyak para pengujar kebencian di media sosial yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Sebagai contoh adalah tiga tersangka anggota kelompok Saracen, penyedia jasa penyebar ujaran kebencian atau hate speech dan hoax untuk menyerang suatu kelompok tertentu, yakni Jasriadi (32 tahun), ketua sindikat Saracen, Muhammad Faizal Tonong, pemilik akun Faizal Muhammad Tonong atau Bang Izal (43 tahun), ketua bidang media informasi, dan Sri Rahayu Ningsih (32 tahun), koordinator grup Saracen wilayah Jawa Barat. Jasriadi ditangkap polisi di Pekanbaru, Riau, Muhammad Faizal Tonong ditangkap di Koja, Jakarta Utara, pada 20 Juli 2017, sedangkan Sri Rahayu Ningsih ditangkap di Cianjur, Jawa Barat, pada 5 Agustus 2017 lalu.

Cukuplah contoh itu menjadi pengatahuan kita, bahwa ujaran kebencian itu berbahaya untuk orang lain dan untuk pelakunya sendiri. Maka berhati-hatilah, bijak dan cerdaslah menggunakan media sosial, jangan sampai hanya karena akun media sosial yang kita punya bisa berakibat fatal bagi kita. 

Dan jangan sampai karena postingan kita di media sosial dapat menyeret kita ke dalam penjara. Kita harus bijak dan cerdas bermedia sosial, gunakan saja media sosial itu sebagaimana fungsinya ; menggunakan media sosial untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif agar sama-sama menjadi lebih baik dan tahu informasi terkini yang layak untuk sama-sama kita ketahui. 

Serta pastikan dahulu akurasi konten yang akan dibagikan, mengklarifikasi kebenarannya, memastikan manfaatnya, baru kemudian menyebarkannya.

Nah, bagaimana agar kita cerdas menggunakan media sosial? Sebenarnya sangat mudah dan diberbagai media pun telah banyak membagikan cara jitu agar cerdas bermedia sosial. 

Sebelum membagikan informasi, video dan sebagainya ke lini masa media sosial yang kita punya, sebaiknya tetapkan saja sebuah prinsip; “Jika postinganmu tak melanggar peraturan pemerintah, teruskan. Bila postinganmu yang kau bagikan tidak melanggar aturan Tuhan, lanjutkan dan teruskanlah hingga postinganmu itu dapat memberikan manfaat bagi orang lain. 

Tapi bila postinganmu bertentangan dengan aturan Tuhan dan peraturan pemerintah. Tahanlah, jangan bagikan, berfikirlah terlebih dahulu sebelum membagikannya dan krosceklah baik-baik apa yang ingin kau bagikan. Karena sering kali sesuatu yang melanggar aturan pemerintah akan mengantarkan pelakunya ke penjara dan sesuatu yang dilarang Tuhan akan menjadikan pelakunya celaka.” 

Jadikan saja itu prinsip dalam bermedia sosial, agar apa yang kita bagikan tidak berisi konten negative, hoax dan menyebarkan ujaran kebencian. Dan kita juga harus teliti dalam membaca informasi yang tersaji di media sosial. Jangan gampang percaya sebelum kita mengkroscek dan mengklarifikasi kebenaran informasi yang kita baca.