Kalau boleh nebak-nebak, saya kira para pembaca budiman pernah mengalami yang namanya cemburu. Apakah dalam kadar yang hanya seupil (sangat kecil akibatnya pada suasana hati) ataupun sampai level yang penuh mara bahaya (nah, ini dia yang harus dihindari!) Apakah terhadap seseorang yang mampu merebut hati sasaran pedekate kita, ataupun ia yang bisa dengan mudah mendapatkan sesuatu sementara kita harus bersusah-payah untuk sekedar mendekatinya.

Cemburu memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian manusia. Saya yakin semua orang pernah atau sedang merasakan ini. Bedanya, ada yang terlalu mudah mengekspresikan rasa cemburu itu dan ada yang belaga tegar. Tetapi, ada pula yang sebatas mengakuinya saja ia enggan.

Banyak hal yang bisa kita bicarakan tentang cemburu. Tapi saya ingin membatasinya melalui dua pertanyaan paling mendasar. Pertama, mengapa sih orang bisa cemburu? Kedua, apakah cemburu itu baik atau sebaliknya?

Kita coba jawab pertanyaan pertama melalui kisah yang termuat di hampir setiap literatur teks suci (pada agama-agama samawi). Siapa tak kenal kisah dua jejaka yang konon merupakan keturunan Adam?

Ialah Qabil dan Habil yang terlibat pertengkaran hingga satu di antara keduanya terbunuh. Saya tidak akan menceritakan detil kejadian yang pernah menjadi horror bedtime stories di masa kecil itu. Di sini saya ingin mengurai betapa akar kecemburuan manusia bisa ditelusuri hingga kisah paling suci sekalipun. Sialnya, kisah-kisah tentang kecemburuan yang sampai kepada kita selalu berujung pada antiklimaks yang tragis berupa kematian atau kehancuran seseorang.

Baik Qabil maupun Habil, dalam pandangan saya, mereka adalah korban. Keduanya anak Adam yang dibesarkan dalam nuansa yang rentan mengundang kecemburuan satu sama lain. Kenapa? Ada banyak sebab. Misalnya, mereka besar di lingkungan sama, dengan usia yang tidak jauh berbeda dan berasal dari orangtua yang sama pula, tetapi memiliki karakter dan kelebihan berbeda.

Kelebihan yang berbeda pada masing-masing individu melahirkan kecemburuan yang tak terhindarkan. Terutama bagi mereka yang tinggal dalam satu atap atau di lingkungan yang sama. Seorang anak yang memiliki kelebihan paling menonjol, dengan sendirinya bisa mengundang simpatik berlebihan dari orang di sekitarnya (terutama orangtua).

Maka kecemburuan menjadi konsekuensi yang harus ditanggung oleh anak lainnya yang tidak memiliki kelebihan tersebut. Karena apa? Karena begitu perhatian tersedot pada satu orang, maka tak tersisalah bagi yang lainnya. Sementara anak-anak membutuhkan kadar perhatian yang cukup besar dari orang di sekitarnya.

Di lingkungan keluarga modern, fenomena seperti ini masih sering terjadi. Kakak-beradik yang dibesarkan dalam situasi sebagaimana Qabil dan Habil, seperti diarahkan oleh lingkungannya untuk saling mencemburui. Apalagi mereka yang terlahir kembar.

Jarak usia yang teramat tipis membuat kecemburuan akan semakin gencar menghampiri anak-anak ini. Kenapa? Karena orang pada umumnya hanya ingin memilih satu saja. Satu yang paling mereka sukai, paling mereka kagumi, paling bisa mewujudkan harapan yang tak mampu mereka penuhi sendiri, paling mereka ingin miliki.

Sebab lainnya berasal dari kecenderungan manusia (yang seringkali tidak kita sadari) untuk menilai lantas membanding-bandingkan kualitas seseorang. Apakah membandingkan dirinya dengan orang lain, atau membanding-bandingkan seseorang dengan yang lainnya. Inilah kebiasaan buruk yang menancapkan akar cemburu pada diri manusia.

Dua kecenderungan yang saya sebut itu kemudian (secara langsung ataupun tidak) menetaskan benih-benih kontestasi pada diri anak-anak yang tumbuh dalam suasana seperti ini. Akhirnya, ibarat telah menjadi hukum alam, dua anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang sama, satu di antara keduanya harus lebih unggul.

Persaingan semacam itu sebenarnya sah-sah saja, bahkan bisa berbuah baik jika mendorong sang anak untuk terus mengembangkan potensinya. Hanya saja, dua kecenderungan manusia itulah yang lantas mengaduk-aduk mentalitas sang anak hingga akhirnya tumbuh menjadi pencemburu.

Seolah telah menjadi kewajiban orang-orang sekitar untuk berperan sebagai juri atas kontestasi keduanya. Sehingga layaknya juri, mereka akan mengkritisi bahkan meluapkan penilaian-penilaian yang seringkali terlalu berlebihan. Jangan salah, penilaian-penilaian seperti ini bisa mengarah pada pembunuhan karakter dan potensi seorang anak.

Maka bagi Anda yang memiliki anak, terutama dua atau tiga anak yang berusia tidak jauh berbeda, mulailah bersikap lebih hati-hati. Hindari ekspresi-ekspresi yang bisa mencuatkan rasa cemburu terhadap diri mereka. Sudah sering kita dengar bahwa kasih sayang orangtua selalu terbagi rata untuk setiap anaknya. Mungkin benar. Tetapi, apakah ekspresi yang kita berikan juga sama? Seringkali ekspresi-ekspresi itulah yang mengantarkan pemaknaan lain pada diri setiap anak, sebaik apapun niat yang kita teguhkan dalam hati.

Perlakuan berbeda terhadap diri seorang anak bisa mempengaruhi kejiwaannya, bahkan sampai ia memasuki usia dewasa. Akan sangat mungkin sang anak tumbuh menjadi seorang pencemburu. Bukan hanya itu, ekspresi kecemburuan yang ia tunjukkan bisa berakibat fatal.

Ketika menjalin hubungan cinta, ia bisa sangat posesif dan cemburuan. Di lingkungan kerja ia bisa saja terjerumus pada persaingan yang tidak sehat. Atau, jika tak memiliki mental baja untuk bersaing secara kejam, ia akan sangat rentan terkena depresi. Sebab, terlalu banyak kecemburuan yang mengendap dalam dirinya.

Sampai di sini kita masuk pada pertanyaan kedua: apakah cemburu itu baik atau sebaliknya?

Saya kira kita semua sepakat, ketika rasa cemburu mengakibatkan tindakan yang fatal, tentulah ia tidak baik. Misalnya, bilamana kecemburuan menjadikan kita sebagai orang yang posesif, obsesif (yang diwujudkan dengan tindakan negatif), bahkan mendorong pada perbuatan-perbuatan yang ‘jahat’. Maka sedapat mungkin kecemburuan yang seperti ini harus kita hindari.

Tetapi, apakah kecemburuan memiliki sisi positif? Saya orang yang percaya pada jawaban: iya. Begini. Dahulu kala (bedtime stories mode on :)), pernah saya mengalami kecemburuan yang teramat hebat. Terutama cemburu kepada dunia yang begitu asyiknya menuai banyak kemajuan sementara saya masih saja jalan di tempat. Karena rasa cemburu sialan itu saya menjalani hidup secara pesimis. Apa-apa dibawa sedih dan murung. Sampailah saya pada tahap muak dengan kehidupan.

Tetapi, suatu ketika seseorang memberikan nafas pada kehidupan saya. Siapa dia? (ini tak perlu saya jawab :)). Melalui orang ini saya mengenali potensi diri, yang kemudian mengarahkan saya pada sebuah cita-cita. Inilah dua kata kuncinya: potensi dan cita-cita.

Saya orang yang percaya bahwa setiap manusia memiliki potensi. Hanya saja, kita harus sabar mendalami diri sendiri untuk menggali dan mengenali potensi tersebut. Manakala potensi ini telah kita temukan, dari sanalah sebuah cita-cita bukan sekedar angan. Dan kehidupan akan terasa semarak tatkala kita berkomitmen terhadap sebuah cita-cita.

Apa hubungannya dengan cemburu? Ada. Salah satu penyebab rasa cemburu adalah keinginan yang tak bisa kita miliki. Ia lantas melahirkan rasa tidak percaya diri, merasa terancam: insecure.

Manusia yang dikuasai cemburu (bukan menguasainya) akan mudah terprovokasi oleh rasa tersebut. Ia akan terus-menerus kehilangan fokus. Alih-alih mendalami potensinya, ia disibukkan oleh hal-hal lain yang bersifat artifisial: bagaimana mengalahkan pesaingnya, bagaimana menutupi kesalahan-kesalahan (bukan memperbaikinya), senantiasa menguntit kelemahan-kelemahan pesaingnya, dsb.

Sebab fokusnya demikian belingsatan, ia akan semakin jauh dari cita-cita hidup yang sesungguhnya. Cita-cita yang ia rawat adalah cita-cita jangka pendek, yang bukan diwujudkan dalam bentuk pengembangan diri, melainkan pelemahan diri. Karena cemburu, lantas ia mewujud begitu rapuh.

Cemburu akan berbeda 'pelampiasannya' jika dialami oleh orang yang mampu menguasai jenis emosi yang tricky ini. Mereka yang mampu menguasai cemburu adalah orang-orang yang telah berhasil menggali potensinya. Mengenali cita-cita sesungguhnya. Orang dalam jenis ini, tidak memandang cemburu sebagai alasan untuk menjatuhkan pesaingnya dengan cara apapun yang lantas melemahkan kediriannya.

Sebab tahu betul potensi yang dimilikinya, maka ia tak gentar terhadap persaingan sehebat apapun. Dan ia akan melakukannya dengan cara yang sehat, tentu saja. Sebab, orang yang betul-betul mengenali potensinya akan terus tertantang untuk mengembangkannya. Cara-cara licik baginya adalah sebuah penghinaan atas potensi tersebut.

Melalui orang-orang dalam jenis inilah kita bisa melihat sisi positif dari rasa cemburu. Ketika emosi tersebut menyematkan semangat yang berkobar untuk terus mengembangkan potensi yang dimilikinya. Hanya manusia seperti inilah yang bisa berkata dengan lantang: "Cemburu? Always a Pleasure!"