Akhir tahun 2004 tepatnya 26 Desember saya merasakan langsung gempa disusul tsunami. Tergulung ombak, ditenggelamkan dan akhirnya muncul ke permukaan meski pemandangan yang terlihat pada saat itu mayat terapung. 

Kejadian itu masih terekam hingga sekarang. Bagaimana manusia berlari menyelamatkan diri masing-masing. Rasa kepedulian sesama seolah hilang seketika, yang muncul rasa panik. Bahkan setelah bencana itu reda, rasa cemas masih bersama jiwa-jiwa yang selamat.

Setiap hari gempa susulan datang hingga gempa dengan skala kecil tak terasa lagi. Sisa-sisa cemas masih bersarang meski sudah bertahun berlalu. Melewati trauma pasca bencana bukanlah perkara mudah, setidaknya tak semudah uraian buku-buku maupun artikel.

Saat ini saya melihat rasa cemas juga sedang menyelimuti rakyat Indonesia. Covid-19 digambarkan sebagai penyakit paling menakutkan, bukan hanya penderita yang harus dijauhi, mayat pun dimusuhi.

Kecemasan berlebihan itu muncul bukanlah tanpa sebab. Tak harus merasakan langsung, ternyata pemberitaan 24 jam mengenai korban penyakit itu menyebabkan cemas tumbuh subur.

Media massa tampaknya menjadi salah satu aktornya, meski tidak semua media Massa begitu. Informasi yang berlebihan telah menyerang psikologis rakyat Indonesia. Lihat saja konten akun media sosial rakyat Indonesia, Corona menguasai linimasa semua media sosial.

Selama ini pemerintah tampak tidak memberi imbauan terkait hal itu. Harusnya pemerintah memberi imbauan kepada seluruh media massa agar tidak melulu sajikan berita Covid-19. 

Apa hendak dikata semua telah terjadi meski belum terlambat menyemai hal positif. Hal yang akan mengurangi cemas berlebihan yang pada akhirnya akan memulihkan kesehatan mental pasca pandemi.

Cemas berlebihan bukan hanya merugikan secara personal akan tetapi akan merugikan secara sosial. Padahal kehidupan sosial merupakan syarat bagi sebuah negara untuk menatap masa depan. 

Penularan rasa cemas berlebihan tampak lebih cepat dan massif dibandingkan apa yang dicemaskan. Reputasi corona lebih menakutkan dari Corona itu sendiri. Sama halnya dengan reputasi seseorang lebih besar daripada orang itu sendiri.

Perlahan namun pasti rasa cemas berlebihan telah menguasai bangsa ini. Sebut saja ketika jelang pilpres berlangsung, masing-masing pendukung disajikan narasi cemas bila lawan politik mereka yang menang.

Kalau Jokowi menang Indonesia bakal ini dan itu, kalau Prabowo menang Indonesia bakal begini dan begitu. Narasi itu kemudian membuat kedua pendukung cemas. Kita kemudian menyaksikan rasis, cacian dan makian serta hinaan sebagai pengalihan rasa cemas.

Kubu yang satu benci terhadap Arab, yang lainnya benci terhadap Cina. Sehingga bukan 'perang' ide yang tersaji di meja politik. Begitulah ketika cemas menguasai manusia Indonesia saat jelang maupun pasca pilpres.

Di dunia internasional kita saksikan kecemasan-kecemasan telah mendorong sikap saling tuduh terkait Covid-19. Bukannya menemukan solusi bersama, negara-negara itu malah terlibat perang psikologis.

Bisa jadi mereka bersandiwara dengan tujuan menebar rasa cemas. Ibarat elit politik yang menebar rasa cemas yang mengakibatkan kebencian tumbuh subur di tengah masyarakat. 

Tanpa disadari cemas telah mengambil kehidupan kita. Rasa sosial antar sesama lenyap, prasangka buruk mendahului fakta, akibatnya segala cara dihalalkan. Jangankan tertawa, senyum pun jarang kita lakukan.

Karenanya bangsa ini harus memiliki imunitas terhadap cemas berlebihan. Barangkali imun terhadap penyakit fisik sudah banyak dijual, bagaimana dengan imun jiwa kita?.  Ah saya pun mulai cemas dengan cemas yang sudah mengakar di jiwa-jiwa manusia indonesia.

Apakah teori-teori yang disampaikan para pakar belum efektif mengobati cemas. Barangkali efektif untuk sebagian kita namun tidak bagi yang lain. Bisa jadi cemas anugerah yang wajib kita nikmati dan syukuri. Namun bila berlebihan malah menjadi 'musuh' bagi diri sendiri.

Pastinya destruktif yang kita tuai, itulah mengapa penting bagi kita membagi fokus dalam hidup ini. Memilah dan memilih asupan informasi yang masuk ke dalam otak kita.

Melalui pemilihan prioritas informasi kita akan membantu diri sendiri. Diri kitalah yang paling mampu menang melawan kecemasan yang berlebihan itu. Saya tidak mengatakan itu hal yang mudah akan tetapi harus dimulai sejak hari ini.

Tentu saja peran media massa dalam hal ini sangat signifikan. Kita berharap mereka tidak menciptakan monster ataupun hantu. Jangan terus-terusan menakuti yang pada akhirnya akan melemahkan imunitas pembacanya.

Bukan hanya penyakit yang sedang tenar yang akan mudah memasuki fisik kita, penyakit lain pun akan berpesta pora apabila imun melemah. Itu artinya tetap di rumah guna menghindari yang menular namun tubuh malah diinvasi penyakit lain yang lebih senior dan berbahaya karena cemas berlebihan.

Bukankah Ibnu Sina sudah berpesan bahwa ketenangan merupakan obat dan imun. Obat yang mujarab ketika sakit dan imun ketika sehat sehingga tak mudah diserang penyakit. 

Mari buang rasa cemas berlebihan, saatnya memotivasi diri sendiri. Cemas berlebihan tidak akan mengusir virus malah sebaliknya. Itulah mengapa ini momen bagi kita semua untuk berbagi pikiran positif bukan berbagi kecemasan.