PENIKMAT senja laksana penyuka teh, bukan kopi. Hei, kau harus tahu! Kopi itu sudah mainstream, kau hanya jadi pengikut kalangan awam saja. Dan kau akan dibilang klise, basi, dan sampah! Tapi kau tak perlu cemas. Sebab, sebenarnya, di sini aku hanya mau bercerita soal senja—yang ternyata dapat berbicara, bahkan dapat berceloteh; kadang-kadang satire.

***

DULU sehabis pulang sekolah biasanya aku duduk menemani ayah yang sedang baca koran di senja hari. Ayahku dengan senang hati mempersilahkanku duduk di sampingnya. Kehadiranku di situ membuat ayah melebarkan senyumnya. Mungkin beliau rasa hanya kopi dan koran yang menemani waktu senjanya. Kini aku hadir sebagai pemecah keheningan—keheningan yang beliau rasakan dalam suasana yang sepi, tapi membuatnya meresa senang.

Rutinitas membaca koran di senja hari memang kerap kali dilakukan oleh ayah. Beliau selalu up to date dengan isu-isu yang diangkat dalam media cetak tersebut. Baginya informasi sangatlah penting. Jangan sampai kita tidak tahu (berita) apa yang lagi booming akhirakhir ini. Beliau punya mata, serta mata yang beliau pakai terbatas pandangannya. Ayahku hanya dapat melihat apa yang ada di dekatnya. Tetapi, dengan membaca koran, apa yang ia lihat agaknya tidak terbatas. Ia bisa melihat isu yang terjadi di Indonesia, bahkan mancanegara.

Di sore ini, ayah masih komitmen dengan kebiasaannya. Selepas menyeduh hangatnya kopi, beliau bergumam kepadaku, “Gimana sekolahnya, lancar?”

“Lancar ayah,” jawabku sembari duduk di sampingnya.

“Semuanya harus berjalan lancar, gak kayak berita ini.”

“Berita apa itu, Yah?”

“Ini, nih, pemilik akun twitter dengan nama @benhan ditahan polisi gara-gara celotehannya yang menyangkut Misbakhun dalam kasus Bank Century. Misbakhun gak terima, akhirnya melaporkan Benny Handoko atas tuduhan pencemaran nama baik.”

“Celotehan itu bahaya ya, yah. Sampai dipidana juga.”

“Makanya kamu jangan asal ngomong.”

“Iya, Yah."

Kepala keluargaku ini melanjutkan membaca, sedangkan aku hanya menyimaknya dari dekat. Terkadang, selepas membaca, ayah mendiskusikan apa yang ia baca padaku. Maka, gak heran apabila sering keluar petuahpetuah yang membuatku tertegun.

Lagilagi selepas menyeduh kopi—yang sudah setengah gelas tersebut—ayah membuka mulutnya, “Koran ini gak hanya memaparkan berita saja. Ada banyak hal yang diangkat, salah satunya opini.”

“Aku sangat senang ketika membaca opini yang ditulis oleh penulis muda ini. Ayah belum kenal sih, tapi tulisannya menginspirasi sekali,” lanjutnya, kagum.

“Emang apa yang ditulis, Yah?”

“Banyak hal yang ditulis. Ayah senang ketika membaca tulisannya yang mengangkat permasalahan yang lagi naik daun, lalu disertai dengan kritik tajamnya. Ia memang suka mengkritik, tapi gak asal-asalan mengkritik. Ia mengkritik dengan logika, kemudian disertai dengan solusi yang ia tawarkan. Ia selalu mengajak pembaca untuk bersifat kritis.”

“Wah, kayaknya menarik itu, Yah.”

“Memang menarik, makanya ayah suka,” ucap beliau, santai. “Sebelum masyarakat mengapresiasi karyanya, orang yang pertama kali mengapresiasi karya si penulis ini adalah ayahnya sendiri.”

“Bagaimana ceritanya itu, Yah?”

“Jadi begini,” kata ayah, nadanya kalem. “Ayah si penulis ini sering baca koran di senja hari, ya mirip ayah kamu ini. Si ayah kaget bukan main saat  opini yang ia baca ternyata punya anaknya sendiri. Singkat cerita, si ayah bangga punya anak yang pandai menulis. Satu hari itu, si penulis makan enak. Ia dikasih ayam bakar sama lemon tea oleh ayahnya. Bangga banget pokoknya.”

“Kamu tahu setelah itu yang terjadi?” tanya ayah.

“Tidak, Yah.”

“Pemilik media cetak ini tertarik padanya. Si penulis selalu diberikan kesempatan dalam beberapa rubik yang diangkat di koran. Ia juga menulis cerpen. Tentunya cerpen yang ia tulis sangat menarik. Honor yang ia dapatkan bisa dipakai buat membeli ayam bakar sama lemon tea. Ceritanya ia gantian naktir ayahnya, hahaha.”

“Seru banget kayaknya, Yah.”

“Seru dong,” jawab ayah, singkat.

Ayah kembali membolak-balik koran. Beliau terlihat mencari-cari sesuatu. Aku yang dari tadi memandanginya, agaknya tahu apa yang sedang ayah cari. Aku tahu apa yang ada di pikiran ayah karena beliau sering memergokiku saat sedang menulis di dalam kamar.

Saat apa yang beliau cari belum ketemu, beliau menutup korannya. Menghabiskan kopi dengan menyingkirkan bubuknya. Habisnya kopi di meja mungkin akan mengakhiri senja sang ayah. Dalam hembusan napas panjang, ayah berkata, “Ayahnya si penulis itu bangga ya, sama anaknya.”

“Bangga banget, Yah.”

Tanpa disangka, muncul satu kalimat dari ayah yang membuat bulu kudukku berdiri, “Ayah juga bangga kalau menjadi orangtuanya.”

Selepas berbicara, ayah terdiam.

Aku juga terdiam memandanginya. Tak selang berapa lama, beliau bangkit dari duduknya. Beliau merapikan koran, sambil bergumam, “Waktu cepat sekali berlalu.”

Waktu memang terasa cepat sekali berlalu. Tak terasa hari sudah semakin petang. Ayah meninggalkan korannya di tempat duduk. Beliau mengajakku supaya masuk ke dalam rumah. Aku mengiyakan ajakkannya, tetapi aku masih ingin di tempat ini untuk beberapa saat.

Setelah ayah meninggalkanku sendirian, aku hanya duduk sambil memegangi koran. Aku memandang langit yang perlahan-lahan mulai gelap seakan-akan berjalan mengejar sesuatu. Aku merasakan detak langkah sang senja. Senja itu seolah-olah menatapku yang sedang memegang koran. Tatapannya tajam, setajam pisau yang sering digunakan Ibuk mengupas bawang. Dalam sekejap pandangan, sang senja seolah-olah berceloteh, ”Kapan ayah membaca tulisanmu di koran?”