Media sosial adalah media daring yang dapat digunakan oleh pengguna untuk berkomunikasi, berpartisipasi, berbagi, mencipta, membuat jejaring sosial dan berbagai kegunaan lain untuk berbagai kepentingan yang sepatutnya menjurus kepada akhlak, moral dan nilai-nilai yang positif atau membangun.

Tetapi bangsa Indonesia akhir-akhir ini dilanda oleh gelombang buruk. Oknum pelaku ujaran kebencian, isu sara, dan narasi radikalisme menjadikan media sosial sebagai wahana untuk melakukan aksi-aksi buruknya.

Media sosial adalah medium empuk utama para pengujar kebencian untuk mengutarakan bualan tolol. Media sosial diperalat untuk mengutarakan penghinaan, pencemaran nama baik, penistaaan, perbuatan tidak menyenangkan, provokasi, penghasutan dan penyebaran berita bohong untuk mencapai tujuan, maksud dan kepentingan naif. Perilaku pengujar kebencian telah membangun citra buruk terhadap penggunaan media sosial untuk menyebarkan paham radikalisme dan intoleransi.

Ujaran kebencian, isu sara, dan narasi radikalisme baik lisan maupun tulisan tersebar subur di dunia maya. Bualan kotor, isu rasis dan pemikiran radikalisme disebarkan luas melalui media sosial.

Mereka tahu betul bahwa media sosial adalah jalan mudah dan cepat untuk menyuburkan intoleransi dan ekstremisme di Indonesia. Pemilihan tempat untuk melakukan aksi ujaran kebencian, isu sara, dan narasi radikalisme dalam dunia nyata bukan tempat sembarang yang dipilih oleh para pelaku.

Tempat yang dipilih untuk melakukan ujaran kebencian, isu sara, dan narasi radikalisme merupakan tempat yang sangat tepat. Rumah ibadah, sekolah, dan tempat perkumpulan massa yang ramai.

Pada tempat-tempat seperti ini mereka menyampaikan isu-isu sara, provokasi, penghinaan, paham radikal, sikap intoleransi yang dikemas melaui ceramah atau khotbah yang mereka sampaikan. Mereka ingin menggiring pemikiran anak bangsa menuju perlakuan kekerasan dan berpotensi memecah belah persatuan.

Siapakah mereka?. Mereka adalah orang Indonesia, umumnya anak muda, orang-orang yang sudah memiliki banyak pengagum atau pengikut di media sosial. Mereka adalah tokoh politik, tokoh agama, dan tokoh publik. Mereka adalah individu-individu yang telah membangun pengaruh dan kedekatan kepada kelompok masyarakat tertentu.

Potensi yang mereka miliki menjadi jalan untuk memudahkan penerimaan masyarakat terhadap ujaran kebencian, isu sara, dan narasi radikalisme yang ingin mereka tempelkan pada pemikiran dan cara hidup anak-anak bangsa.

Bagaimana mereka muncul di media sosial? Mereka muncul dengan akun terang-terangan dan ada pula yang muncul dengan menggunakan akun palsu untuk menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya. Tetapi kemunculan mereka di media sosial tetap dengan tujuan menyebarkan intoleransi atau ekstremisme. Perkembangan media sosial disalah gunakan demi mencapai tujuan-tujuan yang mereka rumuskan.

Akhir-akhir ini, kita menyaksikan melalui media sosial dan televisi bahwa beberapa tokoh publik, artis/musisi, tokoh agama, tokoh politik, kaum intelek gadungan dan orang-orang yang memiliki pengaruh terjerat dalam laporan ujaran kebencian, isu sara, dan narasi radikalisme. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan telah divonis dan mendekam dalam jeruji besi.

Dalam hal ini, tidak sedikit pula dari mereka bertameng kepada agama untuk melakukan pembelaan atas tindakan penegakan yang dilakukan aparat hukum. Pada akhirnya, mereka seolah merasa benar atas tindakan ujaran kebencian, isu sara, dan narasi radikalisme yang mereka sampaikan dan sebarkan melalui media sosial dengan menyebutkan ayat-ayat yang seakan menjadi dasar aksi mereka.

Penegakkan aparat hukum terlihat cukup berjalan baik untuk mencegah dan melawan tindakan yang menyemarakan intoleransi dan ekstremisme melalui media sosial, namun tak dapat dipungkiri bahwa ujaran kebencian, isu sara, dan narasi radikalisme masih dapat kita temukan melalui media sosial hingga hari ini. Artinya, ada kalanya penegak hukum juga kecolongan dalam mencegah dan melawan aksi buruk ini, sehingga masyarakat Indonesia harus ikut berperan untuk membantu penegak hukum dalam melakukan tindakan pencegahan dan perlawanan melalui langkah-langkah yang sesuai dengan aturan yang tidak bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Upaya-upaya pemerintah untuk memblokir situs atau akun media sosial yang bermuatan ujaran kebencian, isu sara, dan narasi radikalisme adalah langkah pencegahan yang layak diapresiasi. Langkah ini merupakan tindakan yang harus dilakukan pemerintah secara terus-menerus dalam rangka mencegah dan melawan perkembangan intoleransi dan ekstremisme di Indonesia.

Namun, upaya-upaya yang lebih maksimal harus ditemukan oleh pemerintah untuk menihilkan penyebaran sikap intoleransi dan ekstremisme yang masih banyak ditemukan di beberapai media sosial.

Terlepas dari upaya pemerintah dan penegak hukumnya, upaya-upaya konkret dari masyarakat, dari anak bangsa ini perlu ditunjukkan untuk memberitahu kepada mereka bahwa kita tidak ingin hidup dengan sikap intoleransi dan ekstremisme. Kita melawan paham radikalisme.

Kita hidup berasas pada Pancasila dan perbedaan adalah corak kehidupan bangsa. Kita sepatutnya berupaya menarik mereka keluar dari rumah ibadah dan sekolah ketika mereka sudah berceramah dan berkhotbah dengan ujaran kebencian dan isu sara lainnya.

Upaya mudah yang dapat kita lakukan untuk melawan aksi intoleransi dan ekstrimisme melalui media sosial yakni menggunakan daya pikir yang cerdas untuk menyaring informasi yang patut dan informasi yang bermuatan ujaran kebencian, isu sara, dan narasi radikalisme.

Dengan demikian masyarakat tidak mudah terkecoh dengan bualan naif dan jijik para pelaku yang tersebar di media sosial. Upaya lain yang sepatutnya dilakukan untuk melawan aksi radikalisme adalah berhenti membagikan atau menyebarkan serta merespon video atau tulisan yang sengaja mereka unggah dan tuliskan di media sosial.

Melawan dan mencegah intoleransi dan ekstremisme adalah peperangan kita. Masyarakat Indonesia harus memainkan perannya karena jika terlengah, mereka dengan mudahnya akan beraksi pesat, merasuki otak-otak generasi bangsa dan berpotensi memicu kekerasan.

Dengan kata lain, pembiaran kita atas aksi-aksi dan pesan-pesan yang mereka sampaikan sama dengan kita membuka pintu bagi mereka untuk menitipkan benih kehancuran terhadap bangsa Indonesia.

Pemerintah dan masyarakat penting memupuk rasa nasionalisme dan cinta tanah air serta menanamkan dan mengaplikasikan nilai-nilai bela negara sehingga masyarakat Indonesia dapat memiliki semangat kebangsaan dan kebhinekaan yang tinggi.

Dengan demikian intoleransi dan ekstremisme apapun yang ingin ditanam di tanah air Indonesia tidak akan pernah mudah mempengaruhi pemikiran dan sanubari anak bangsa Indonesia. Pemerintah dan masyarakat harus memperkuat mental dan kecerdasan untuk menghadapi aksi-aksi ujaran kebencian, isu sara, dan narasi radikalisme.

Di sisi lain, kita berharap partisipasi aktif pengelola atau pengusaha media sosial untuk mencegah dan melawan intoleransi dan ekstrimisme perlu ditingkatkan. Mereka juga harus memikirkan multi-sistem dalam aplikasi mereka untuk mengidentifikasi dan memblokir akun media sosial yang bermuatan ujaran kebencian, isu sara, dan narasi radikalisme sehingga aksi-aksi seperti ini tidak memiliki tempat untuk menyebarkan kebodohan ini di media sosial.

Harapan-harapan ini tentu bisa saja tercapai apabila pemerintah terus mendorong dan menjalin kerjasama kepada  pengelola atau pengusaha media sosial yang melakukan usaha di Indonesia.  

Satu tekad, satu tujuan.
Cegah intoleransi dan ekstrimisme!
Lawan intoleransi dan ekstrimisme!
Indonesia bukan ladang mereka!