Saya kebetulan, secara tidak sengaja, membaca tulisan Teknologi Kampus vs Teknologi Kampung (September 2014) yang intinya mengkritik dunia akademik yang hanya fokus pada publikasi ilmiah, seharusnya dunia akademik fokus pada impact, paten, lisensi, teknopreneurship dan enterpreneurship. Saya pikir, pernyataan ini wajar karena bagi beberapa menganggap penelitian dengan publikasi ilmiah bukanlah sebuah spesialisasi.

Namun, ketika saya menemukan lagi tulisan Dalam Cengkraman Ilmu Dasar (Maret 2014) yang intinya mengkritik bahwa Ilmu Dasar dalam hal ini scientific method membuat Ilmu Terapan tidak berkembang, saya menjadi bertanya-tanya. Sampai sebegitukah pandangan pada ilmu pengetahuan (basic science), penelitian (research) dan metode penelitian (scientific method).

Hampir tidak percaya, ketika saya membaca Hati-hati "Sudden Shift", Fenomena Perubahan Abad Ke-21 (Agustus 2015), lagi-lagi kritik disampaikan mengenai sistem pendidikan yang juga akan shifting dari budaya akademik yang kaku menjadi serba online dan customizeable. Secara gamblang dinyatakan bahwa "Bahkan gelar akademis pun kini mulai ditinggalkan para kaum terpelajar dunia"

Namun supaya adil, kita juga perlu melihat tulisan mana yang relatif netral, contohnya adalah Naiknya "Harga" Dosen (Sept 2014), disini disampaikan paparan mengenai dunia akademik dengan kekurangan dan kelebihannya, termasuk kondisi dimana pihak pemilik yayasan lebih mementingkan aspek bisnis dibandingkan aspek pendidikannya.

Contoh lain adalah Mau Bangun Sepak Bola atau Kampus Kelas Dunia? Perbaiki Dulu "DNA"-nya...! (Mei 2016), tulisan tersebut berisi kritik budaya akademik di Indonesia yang hanya mau menerima alumni almamaternya saja. Tulisan yang lebih lama mengenai Rektor-rektor Administratif (Agustus 2013) juga menarik karena menggambarkan kondisi realita dunia pendidikan di Indonesia.

Kesimpulan sementara saya dari enam tulisan tersebut cuman satu: Kalau ada orang Indonesia yang sangat tidak suka dunia akademik, saya tahu siapa orang itu, begitu juga kalau ada orang Indonesia yang sangat mencintai dunia akademik saya juga tahu siapa orang itu. Aneh bukan, bagaimana mungkin seseorang dalam saat yang bersamaan bisa suka dan tidak suka dunia akademik.

Buat saya, fenomena seperti Rhenald Kasali adalah fenomena yang wajar dan seringkali akan kita temukan dalam perspektif atas realita Indonesia. Sosok lain yang ekivalen dengan Rhenald Kasali adalah Ulil Abshar Abdalla, beliau ini saya lihat juga sama seperti Rhenald Kasali. Di satu sisi kencang mengkritik praktek beragama di Indonesia, kencang mengkritik seakan membenci, namun disisi lain tidak bisa menyembunyikan kecintaannya pada praktek beragama di Indonesia.

Kondisi ini menurut saya adalah dilema abadi di Indonesia. Dilema bagi orang-orang pintar yang tahu mengenai apa yang seharusnya sebuah institusi sosial lakukan untuk memperbaiki sebuah kondisi, namun disisi lain juga tahu bahwa perubahan sangat sulit untuk dilakukan. Di satu sisi bisa sangat membenci namun disisi lain juga sangat mencintainya.

Buat saya, ini kondisi yang tidak bisa didiamkan. Perdebatan tidak pernah akan berakhir, Cinta vs Benci, Basic Science vs Applied Science, Private Enterprise vs State Own Enterprise, Regulation vs Market Demand dan seterusnya. Sudah saatnya perdebatan dihentikan dan fokus melakukan satu hal dengan sebaik-baiknya.

Kalau sudah cinta maka cintalah sepenuhnya, kalau sudah benci maka bencilah sepenuhnya. Kalau bisanya bermain di basic science maka bermainlah dibasic science sedetail-detailnya, kalau bisanya di protected market ya berusahalah sebaik-baiknya. Indonesia tidak bisa diubah oleh satu orang tokoh besar saja. Butuh banyak orang untuk melakukan perubahan.