Surga yang konon membahagiakan, kini sama sekali tak terlintas di alam pikiranku. Bagaimana mungkin, seorang pengelana memiliki tujuan yang pasti. Adakah caranya untuk memberi janji agar aku sejenak berhenti?

Siang itu, aku memesan harap kepada sang Pencipta dalam usia yang sudah menjelang senja, tubuh tak mengerti lagi akan makna dari sebuah usaha untuk bangkit berdiri.

Memang saat itu aku sedang duduk di bawah pohon yang agak rimbun daunnya, sengaja untuk meneduh di siang hari yang cukup terik panasnya. Aku memberi spasi dalam perjalananku, agar setiap yang kulalui dapat kau baca, dengar dan pahami. Begitu yang aku tanam selama ini.

Atas harapku dalam bungkusan doa tanpa landasan dan doktrinan mana pun, aku curahkan semuanya, semurni-murni mungkin.

“Aku ingin berhenti bermain, dalam perjalananku kini yang tak berjeda, aku ingin ada titik di ujung sana, lalu membuka naskah baru yang tanpa noda, aku ingin memulainya lagi dengan tujuan-Mu yang hakiki.”

Sebab, akhir akhir ini jiwaku kering kerontang, tanpa sebuah cinta, benci, rasa simpati, empati, emosi, canda tawa pun tak dialami. Sebuah kejumudan tak bertepi, laksana bongkahan es yang tetap berada di suhu minus seratus. Adanya matahari pun tetap tak mencair.

Setelah itu, aku tertidur pulas. Mendengar suara nyaring burung burung yang terbang di bentangan langit sore, semilir angin yang cukup sejuk, aku terbangun dengan sayup mata yang khas.

Beberapa ternak di sabana pun kembali ke habitatnya untuk berteduh. Aku kembali melanjutkan perjalanan yang cukup panjang, tidak ada segores pikiran untuk pensiun dari seorang pengelana.

Namun kali ini, perbekalan pun sudah habis, tidak ada oase disini, juga makanan, buah dan sayur yang dapat kupetik. Tak ada kebahagiaan seperti di surga, memang benar benar akan sirna semua. Aku dehidrasi, memungkinkan sebentar lagi akan ambruk ditengah perjalanan.

Pada hakikatnya, manusia dapat hidup selama tujuh hari tanpa makan, namun tidak dengan minum. Yang terjadi adalah aku terkapar ditengah sabana yang jauh dari permukiman warga. Tak ada seorang pun yang melihatku, tak ada satu makhluk hidup pun yang simpati terhadapku.

Ya Tuhan, jangan ambil nyawaku terlebih dahulu sebelum Engkau ampuni kesalahan kesalahanku selama di dunia ini. Ya Tuhan, Aku sadar, aku hanya seorang pengelana yang hina, aku memang sedang mencari jati diriku, semesta, dan antara aku dan Engkau.

Dengan pikulan dosa yang bertumpuk, jangan sampai nanti di penghujung hari aku menjadi manusia yang terpuruk. Tak ada benih benih dusta antara aku dan Engkau di hari ini.

Semuanya cukup terbuka, aku ingin pensiun dari perjalanan panjang ini. Membuat naskah baru sebagai manusia yang dihormati dan disayangi, ingin merasakan cinta kepada lawan jenis yang cukup khas. Tidak dengan kesendirianku selama ini.

Biarlah, profesi ini kujalani kembali sewaktu waktu, hanya untuk berkontemplasi, menghayati keindahan ciptaan-Mu, mengeksplorasi pikiran agar tetap berada dalam berbagai kemungkinan. Akhirnya, nyawaku raib ditelan perjalanan yang membuatku apa adanya. Tidak ada setetes air pun yang masuk ke kerongkongan kecuali air liur sendiri, dan tidak ada secuil makanan pun yang singgah di lambungku kecuali liur sendiri.

Aku sempat mencatat di akhir perjalananku, di antara cinta dan segenap duka, hidup dan mati untuk profesi, bahagia dan berbagai tangis yang merembes ke permukaan bumi.

Sebagai seorang pengelana, hidupku langsung dibiayai oleh alam semesta, dan langsung turun dari sang Pencipta. Tidak ada hierarki yang berbelit, antara aku dan Tuhan itu sendiri.

Tidak ada perantara dalam kehidupanku, sehingga fakta bahwa takdir, persepesi, keyakinan, dan segala sesuatu tentang aku dan Tuhan dialami realistis - dinamis secara langsung kunikmati. Tidak ada keindahan yang benar benar indah selain keindahan perjalananku itu sendiri.

Perjalanan adalah sebuah titik temu antara aku dan segala sesuatu, termasuk Tuhan itu sendiri dan dirinya yang aku tunggu selama ini, sebab tanpanya hidup ini akan penuh curiga dan kehampaan rasa.