Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang. ~ Sapardi Djoko Damono.

Saya adalah mahasiswa perantauan berasal dari Jawa Timur yang sedang belajar di salah satu kampus islam negeri Jakarta. Seperti yang kita tahu, Ramadan kali ini berbeda dari tahun-tahun kemarin. Tidak ada kata mudik yang biasanya masyarakat perantauan termasuk saya melaksanakan tiap tahunnya. Penyebabnya bukan tidak lain karena serangan pandemi virus corona.

Bisa dibayangkan betapa rindunya kami masyarakat perantauan pada suasana kampung halamannya, sanak familinya, sop buatan emak (kata Ikhsan Skuter dalam bait lagunya, jadi tambah rindu..hu hu hu), dan lain sebagainya yang membuat ada suatu alasan untuk pulang.

Rencana yang sudah diatur matang akhirnya gagal juga. Selembar tiket kereta keberangkatan Jakarta – Lamongan yang sudah dipesan di jauh bulan terpaksa kami refund. Bukan tanpa sebab, karena diberlakukannya PSBB seluruh Indonesia sehingga semua tranportasi diberhentikan, baik darat, udara, maupun laut. Apalah daya, manusia berencana Tuhan berkehendak.

Khawatir malah menularkan virus corona, saya pun memantapkan hati untuk tidak mudik, demi memutus rantai penyebaran wabah. Kampenya yang disebar di media sosial dengan tagar #dirumahsaja membuat pengaruh untuk tinggal dalam rumah serta menerapkan social distancing yang wajib ditaati. Banyaknya pasien yang terjangkit membuat pihak rumah sakit, mulai dari dokter, perawat, hingga sopir ambulans, kewalahan melayani masyarakat.

Membaca berita akhir-akhir ini membuat saya makin geram. Bagaimana tidak, sebagian masyarakat tidak menaati aturan PSBB yang dikeluarkan pemerintah. Melakukan perkumpulan dengan menghiraukan protokol kesehatan, anak-anak muda seusia saya yang masih banyak nongkrong tanpa memedulikan penyebaran virus yang makin menjadi–jadi, sampai tempat–tempat umum pembelanjaan yang memaksa untuk tetap buka. 

Melihat kondisi luar yang digambarkan oleh media pemberitaan membuat saya makin terpukul, “ Duh Gusti, kok ono-ono waye penggaweyan, nggarayi  gak iso mudik ” (Ya Tuhan, kok ada-ada saja kelakuan, bikin gak bisa mudik saja), sambat saya dalam hati.

Tidak heran, mendengar para tenaga medis yang berjuang mati-matian di garda paling depan mulai merasa kesal kepada masyarakat dan pemerintah yang memandang sebelah mata pandemi ini. Kekesalan mereka salurkan ke sosial media yang sempat viral baru-baru ini dengan membuat poster tulisan, “Indonesia? Terserah!” Ini merupakan sendiran dan tamparan keras buat kita yang masih seenaknya berkegiatan di luar rumah.

Jakarta termasuk salah satu kota dengan pasien terbanyak di Indonesia yang terkena virus corona. Membuat kota Jakarta menjadi wilayah red zone, semua kegiatan, baik pekerjaan hingga kegiatan belajar mengajar, dilakukan secara daring, termasuk kampus saya menerapkan kegiatan belajar secara virtual. 

Work from home membuat saya terbebani dan merasa bosan. Untuk itu saya harus mempunyai kegiatan yang mampu mengurangi rasa stres saya, salah satunya dengan membaca.

Suasana dan kondisi yang tidak stabil ini membuat banyak masyarakat kebingungan. Banyak para penggiat seni menggelar pertunjukan dan konser secara daling guna menghibur publik selama pandemi. Ada juga para akademisi yang menggelar berbagai seminar secara daling untuk umum, sehingga kegiatan tersebut direspons positif oleh masyarakat.

Meski berat tidak bisa berkumpul dengan keluarga, banyak cara supaya masih bisa berkomunikasi jarak jauh antara saya dan keluarga dengan memanfaatkan teknologi masa kini untuk bertatap muka, video call salah satunya. 

Berkomunikasi satu keluarga seperti inilah yang bisa mengobati rasa kangen. Banyak percakapan yang kami obrolkan, mulai dari  kegiatan sahurnya bagaimana, menu buka puasa enak apa tidak, hingga pertanyaan aktivitas perkuliahan yang saya lakukan bagaimana. Betapa cemasnya orang tua terhadap anaknya.

Mencari kegiatan di dalam rumah dengan membaca berbagai macam buku serta membaca tulisan di Internet membuat saya menemukan sebuah kutipan dari Pak Sapardi tentang kota Jakarta betapa perkasanya menjalani hidup, “Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang”. Membuat saya lebih tabah untuk merayakan Lebaran di kota perantauan dan menuliskan puisi tentang Jakarta dan kondisi ini.

Surat dari Jakarta

Mak, Jakarta sedang luka
Dibisikannya lewat jendela demi jendela
Menggeram kesakitan tanpa kebisingan seperti hari-hari biasanya.

Mak, Jakarta ingin menyendiri kali ini
Diisyaratkannya tanpa jerit klakson yang menyeringai
Tampak sekali diguyur tangis hujan dengan  sesenggukan di pojok baladanya

Mak, Jakarta itu cinta
Kata Sapardi dalam sebuah kutipan.
”Jika itu cinta, setidaknya kuatkan ia menerima segalanya”, gumamku.

Mak, Jakarta malam ini bermunajat
Tangannya diangkat meminta Kesedihan dan kesakitan berkesudahan,
dengan lirih berujar
“Tuhan sekali lagi ini doa bukan puisi.”

(12 April 2020)

Semoga Indonesia kembali sedia kala, sehingga kita bisa beraktivitas seperti biasanya. Para dokter, tenaga medis, para relawan, serta para pihak lain yang telah membantu, sekali lagi, respek buat kalian semua. Jasa kalian abadi. 

Buat masyarakat, tetap patuhi peraturan. Dan untuk teman-teman perantauan di mana pun berada, tetap sabar walau belum bisa merayakan hari raya Idul Fitri di kampung tercinta. Doa kami untuk Indonesia tercinta cepat pulih dan kembali seperti dulu. Terima kasih banyak sedalam-dalamnya.