Semalam saya pergi dengan seseorang, katakanlah kencan. Perbincangan sangat menyenangkan. Kami berdua (menurut saya) sangat menikmati saat-saat itu. 

Lalu dia menawarkan casual sex. Dia menawarkannya dengan baik, sopan, dan pengertian, tanpa memaksa sedikit pun. Dan dia sangat menarik, seksi, dan menawan. Saya sebenarnya sudah bisa menduga hal ini.

Dalam pikiran saya, saya tidak punya masalah dengan casual sex. Saya manusia bebas, dia manusia bebas. Saya tertarik dengannya, dia tertarik dengan saya. Tidak ada yang disakiti, semua senang. 

Tapi secara tubuh, ternyata saya tidak mampu melakukannya (setidaknya semalam). Saya merasa ada yang menghentikan saya, entah apa. Saya mengatakan padanya apa yang terjadi pada diri saya. Bahwa pikiran saya mau, tapi saya tidak bisa. 

Dia bertanya apakah karena saya tidak percaya diri dengan tubuh saya. "Tidak, saya sangat menikmati tubuh saya." Saya bilang, "aku tidak senang dengan konsekuensinya." Dia bilang, "Konsekuensi yang mana? Kan ada caranya?"

Saya tetap tidak mau. Saya minta maaf karena tidak bertanggung jawab pada tanda yang saya kirim. Sumpah, saya sebenarnya mau have sex dengannya. Dan saya memang menggodanya dengan itu. Kampretnya, dia tetap sopan dan dengan manis bilang, "risiko minta kan ditolak."

Pagi ini saya ngobrol dengan teman saya yang lain. Saya bertanya apa yang yang dia pikirkan tentang casual sex dan pengalamannya. 

Dalam salah satu jawabannya, dia bilang, "Pernah ngalamin. Udah mulai nakal aku." UDAH MULAI NAKAL? OH, ITU SEBABNYA AKU TIDAK BISA MELAKUKANNYA. Saya tidak bisa melihat diri sendiri "mengkhianati kesucian" yang ditempelkan padaku. Saya akan menjadi NAKAL.

Saya bertahun-tahun terlibat sebagai konselor bagi perempuan yang mengalami kekerasan seksual. Perempuan-perempuan itu mengatakan bahwa mereka merasa diterima dan tidak diadili oleh saya. Tidak pernah disalahkan. Tapi apa yang saya lakukan pada diri sendiri? 

Penghakimannya kejam dan absurd. Saya tahu di dalam kepala saya mengatakan seksualitas perempuan harus dibebaskan dari rasa bersalah, tapi ternyata saya menubuhkan semua norma itu lebih dari yang saya tahu dan mau.

Bagi semua perempuan itu, saya percaya bahwa mereka sungguh tidak bersalah, ketika ada laki-laki yang memaksakan kehendaknya. Saya ingin mereka mengatakan pada dunia bahwa mereka tidak bersalah. Tapi bagi diri sendiri? 

Ketika hal itu terjadi berkali-kali bertahun-tahun yang lalu, saya tidak bisa mengatakannya pada seseorang. Mungkin, saya takut dunia menghakimi. 

Apakah selama ini saya hipokrit, menggunakan timbangan yang tidak sama bagiku dan bagi orang lain? Ataukah saya hanya penakut saja? Lalu meminta perempuan lain yang menjadi pemberani dan bersorak bagi mereka, tanpa pernah benar-benar keluar dari cangkang? 

Memaksa perempuan-perempuan pemberani itu mengambil risiko untuk saya? Sedang saya sembunyi di balik kesunyian?

Atau apakah saya tidak sepenuhnya yakin bahwa saya tidak bersalah? Bahwa saya yang mengundang para laki-laki itu. Bahwa saya yang bertanggung jawab atas kejahatan mereka atas saya. Saya yang memprovokasi mereka dengan kegenitan, dengan pakaian, dengan berjalan sendirian di tempat gelap waktu malam. Meskipun saya baru empat tahun. Meskipun itu satu-satunya jalan ke rumah. Meskipun saya hanya muridnya yang masih SD?

Jikapun demikian, bagaimana dengan lelaki sopan itu? Yang senyumnya tetap manis meski kutolak. Yang tidak menyentuhku atau bahkan menatap dengan giras karena saya sudah menggodanya? 

Ataukah saya merasa suci, karena tahu saya tidak bersalah. Meskipun tak berani mengatakannya, karena perempuan memang dengan kejam dirajam entah bersalah entah tidak. Saya "masih" mampu sombong dan mengatakan, "toh, saya tidak pernah menginginkannya."

Dan seksualitasku tetap saja salah. Salah ketika saya menginginkannya dan salah ketika saya tidak menginginkannya.

Berkaca dari pengalaman itu, saya bertanya pada diri sendiri. Bagaimana tidak, perempuan yang diperkosa lalu merasa bersalah karena telah diperkosa? Bagaimana bisa saya mengatakan mereka salah ketika merasa bersalah? Ketika saya yang membaca feminisme sejak masih remaja, tidak mampu melompati rasa bersalah ketika hal itu tentang seks dan seksualitas saya sebagai perempuan? 

Bagaimana bisa kita meminta mereka keluar dan menunjukkan diri sesudah diperkosa? Menunjuk pada penjahatnya seolah-olah hanya uang yang penjahat itu curi dan bukan kisah dan kemanusiaan perempuan-perempuan itu? 

Bagaimana bisa kita meminta keluarga mereka menerima tanpa pertanyaan apa pun, tanpa ketakutan apa pun, tanpa penghakiman apa pun? Sementara dunia menunggu dengan penghakimannya.

Seorang perempuan yang kebetulan klien saya, diperkosa dan dianiaya berkali-kali oleh pacarnya sampai kehilangan separo pendengarannya. Ketika pacarnya memutus relasi itu dan pergi dari hidupnya, ia merasa sangat terpukul dan tidak mau menerimanya.

Nasib perempuan adalah apa yang diberikan laki-laki padanya. Juga bila itu adalah perkosaan, pemukulan, dan HIV. Perempuan akan sangat terkutuk bila sampai ditinggalkan laki-laki karena keberhargaannya adalah laki-laki.

Begitu perempuan klienku itu dididik dalam keluarganya. Beberapa orang dekatnya, keluarga dan teman, tertular HIV AIDS karena perilaku suami yang tidak bertanggung jawab. Tetapi yang salah adalah perempuan-perempuan itu. Adalah tanggung jawab mereka semua itu terjadi. Adalah nasib mereka.

Meskipun meme cangkul dihujat, hukuman bagi pemerkosa diperberat, tapi penghakiman dan hukuman bagi perempuan masih jauh dari hilang. Perempuan masih jauh dari impiannya menjadi manusia yang setara. 

Sesudah saya menolak lelaki sopan itu, kami bicara soal seks. Dan saya merasa sangat nyaman dan tidak sedikit pun merasa canggung, membicarakan hal-hal yang belum pernah saya bicarakan dengan satu makhluk pun di bumi ini.

Mungkin sebagian ketakutanku tentang konsekuensi have sex dengan lelaki itu nyata. Anak membawa tanggung jawab - kondom kan punya kemungkinan gagal sekitar 5%. 

Tapi konsekuensi yang lain, ada dalam rasa bersalah yang absurd. Mungkin saya memang harus melakukannya dengan lelaki sopan itu, sambil berdoa kondomnya tidak bocor.