Banyak sekali persoalan yang mewarnai setiap aktivitas kita dalam dunia organisasi. Carut-marut, asam pahitnya seakan jadi komoditi bagi para suksesornya. 

Tidak sedikit kritikan yang harus kita telan. Terkadang dari kecemburuan terhadap teman hingga kesalapahaman terhadap kebijakan pimpinan kerap kali dijadikan alasan untuk memandang bahwa organisasi sudah tidak lagi mampu mengontrol sikap dan mencerminkan nilai yang  relavan dengan asasnya sendiri.

Paradigma semacam itu jelas bertujuan untuk memprovokasi agar kinerja organsasi tidak lagi berjalan, minimnya tidak lagi menebarkan pengaruh terhadap perkembangan intelek kadernya. Yang paling mengherankan ialah paradigma itu juga dilontarkan oleh sebagian besar organ dari organisasi itu sendiri. 

Mengetahui hal demikian, pertanyaanya saya sederhana: siapakah yang membuat pasif kinerja organisasi sehingga tidak lagi masif?

Jika kita teliti dengan seksama secara fundamental, realitasnya justru kader-kader pasiflah yang merusak tatanan struktural organisasi. Kader-kader yang kurang militansinya sendiri, kadernya tidak lagi berkontribusi tapi organisasi yang dikritik dan menjadi korban buah bibir. 

Padahal aktor (pelaku) berstatus kader dan mengkritik itu yang seharusnya bersikap kritis (membangun atau menawarkan hal baru) untuk mengembalikan marwah organisasi agar lebih berkarisma.

Merujuk pada realitas di atas, kita bisa menerka, mereka meninjau proses berorganisasi dari satu arah, sehingga rasa yang mengalir dan terus tumbuh dalam proses perjuangan berorganisasi tidak mereka rasakan. Penilaian searah tentu akan menimbulkan kontradiksi dan sulit untuk diterima dalam membentuk solidaritas umum.

Kita perlu peranan sistem kolektif kolegial dalam membangun suatu organisasi. Peranan yang dimaksud ialah, untuk mencapai sebuah tujuan, diperlukan adanya suatu koordinasi dan saling membantu antara satu dengan yang lain. Sehingga, khusus dalam konteks ini, kita harus menilainya secara kolektif (dua arah).

Dari itu, mari kita coba meninjaunya seperti teori relativitasnya Albert Einstein: ketika sebuah kereta melaju diperhatikan dari luar, maka akan didapatkan bahwa keretanya yang bergerak melewati kita; tapi ketika ditinjau dari dalam, maka akan ditemukan lingkungan di sekitar keretalah yang bergerak. Sementara, ketika berada dalam kereta, kita hanya terduduk diam melihat suasana di sekitar bergerak bergantian.

Begitu pun halnya organisasi, ketika ditinjau dari luar, maka kita akan menyatakan paling kegiatannya itu saja, bergerak lewat entah ke mana. Selesai satu, cari kesibukan lagi sehingga nanti sok-sokan jadi aktivis. 

Kalau kita meninjaunya dari dalam, maka kita akan menyatakan, di sini banyak hal yang bisa kita lihat dan banyak pengalaman serta tantangan yang bisa kita hadapi. Sedikit jendela terbuka, maka dunia sekitar bisa kita simak.

Tentu kita tidak perlu menghadirkan hipotesis dan bukti empiris (metode baku ilmiah) sebagai data untuk membuktikannya layak uji. Melihat ini merupakan agenda pokok yang tersusun secara teratur, kita cukup memberikan contoh dari pengalaman yang sering terulang atau meregenerasi dalam dunia organisasi itu sendiri.

Dalam organisasi, kita dihadapkan dengan berbagai macam pembelajaran yang berbentuk kajian. Dari materi sebelum berfilsafat yang mengupas kelahirannya hingga paham-paham aliran filsafatnya. Kajian advokasi (pergerakan) hingga aktualisasinya, materi keislman dan internalisasinya, serta mengkaji pemikiran parah tokoh besar hingga sosio-kultur yang memengaruhi latar pemikirannya.

Semua ini kita dapatkan dalam dunia organisasi yang sengaja dirangkai demi terwujudnya isme kader yang berintelektual kolektif. Kemudian diharapkan mampu untuk membangun peradaban, khususnya untuk organisasi sendiri, umumnya untuk religi dan dunia. 

Kita tidak boleh munafik, kita harus objektif dalam menyikapinya. Selain itu, dalam dunia organisasi, tentu ada beberapa budaya yang memang susah untuk diterima, tapi itulah kebenarannya.

Selain kajian dan internalisasi intelektualisme, tentu ada canda dan dramanya. Canda dan drama ini pun, kalau dinilai dengan positif, bukanlah sebuah aib, melainkan hal-hal yang diperlukan sebagai bumbu pelengkap dan penyedap rasa dalam berorganisasi. Tapi mau bagaimana lagi, ketika kita melihat berlakunya hukum alam, tetap saja ada sebagian kader yang masih belum puas untuk menerima realitas.

Untuk membunuh hukum alam yang tiada henti dan ubahnya itu, sudah saatnya organisasi untuk melepas beberapa proker yang itu dari semua yang dicantumkan ada sebagian yang tidak berjalan. Kemudian menggantikannya sebagai program yang secara khusus membentuk dan merawat eksistensi kader agar tidak lagi salah kaprah dalam memberikan penilaian terkait alur dan proses perjalanan berorganisasi. 

Kalau tidak demikian, maka organisasi harus meningkatkan kinerjanya dan benar-benar totalitas dalam menyelesaikannya

Pendapat ini berani saya utarakan bukan karena menganggap sebagian proker organisai tidak lagi penting, juga bukan sekadar terlahir dari objektivitas atau opini pribadi, tapi juga difaktori oleh asupan dari demisioner yang sering mengatakan bahwa organisasi kita adalah organisasi perkaderan. 

Artinya, di sisni SDM juga merupakan salah satu bagian yang tidak kalah penting dalam mempertahankan regenerasi yang akan menjalankan proker bidang-bidang di dalam organisasi itu sendiri.