Ada banyak hal dalam pikiran kita yang kadang membuat kita merasa tidak nyaman untuk memendamnya seorang diri, baik itu pikiran ragu, takut maupun bingung karena kita telah sadar telah dibohongi oleh seseorang atau belum tahu apakah kabar yang kita terima itu benar atau hoaks.

Jika hal-hal seperti ini terus menerus mengganggu pikiran, maka kita perlu memvalidasi pemikiran tersebut untuk menjadikannya fakta atau hanya pemikiran kita saja.

Cara yang umum dilakukan untuk memvalidasi pemikiran adalah dengan menyampaikan atau menanyakan langsung kepada orang pemilik sumber informasi.

Namun bagaimana jika kita menyampaikan keraguan kita terhadap hal yang memang kita lihat atau dengar, tapi ternyata kita malah dianggap selalu salah, mengada-ada atau baper?

Perilaku-perilaku ini merupakan contoh perilaku gaslighting di mana seseorang melakukan manipulatif dan mengontrol pikiran atau perilaku agar lawan bicaranya meragukan diri sendiri dengan cara memutar realitas.

Perilaku ini dapat membuat seseorang berpikir bahwa semua memang salahnya dan pada akhirnya dapat merasa sulit mengungkapkan perasaannya. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka akan berdampak pada kejiwaan seseorang.

Ada beberapa cara untuk menghadapi perilaku gaslighting seperti ini. Di antaranya adalah:

1. Pahami ciri-ciri perilaku gaslighting

Jika setelah berbicara atau mengemukakan argumen, ternyata kita mendapat perlakuan gaslighting, pahami apakah feedback yang kita dapatkan benar-benar perilaku gaslighting.

Cara untuk memastikannya adalah dengarkan dengan seksama apakah yang lawan bicara katakan sesuai dengan kenyataan atau dia hanya memutar balikkan fakta.

Jika dia tidak berbicara sesuai kenyataan bahkan balik menyalahkan kita, sehingga pada akhirnya kita merasa hal ini terjadi karena selalu salah kita.

Tentu itu sudah pasti perilaku gaslighting. Seperti perkataan “Aku gak akan begitu kalau kamu gak seperti ini”. Dalam hal ini, orang tersebut mengakui jika dia bersalah, namun dia menyalahkan kita sebagai penyebab dia berbuat salah.

Kemudian, jika kita berbicara fakta untuk mengingatkan kebohongannya lalu dia menyangkal dan mengatakan bahwa dia tidak pernah berkata demikian seperti perkataan “Kapan aku ngomong gitu?”. Itu juga merupakan perilaku gaslighting.

Perilaku gaslighting juga bisa terjadi ketika kita mengemukakan opini atau mengajukan pertanyaan karena merasa ragu akan suatu hal. Kita bertanya untuk memvalidasi apakah yang kita pikirkan merupakan suatu kebenaran atau hanya perasaan kita saja.

Kemudian lawan bicara malah menanggapi opini kita dengan argumen yang membuat kita merasa ragu terhadap diri sendiri dan membuat kita merasa semakin rendah diri.

Argumen ini bisa berbentuk seperti ungkapan “Kamu ini terlalu sensitif, baperan. Gitu doang dipermasalahkan. Gak usah ngada-ngada lah.”


2. Pilahlah perkataan lawan bicara

Jika kita mendapat perilaku gaslighting, seperti mendapat ungkapan “Kamu ini sensitif. Gitu aja dipermasalahkan". Perkataan seperti itu dapat kita jadikan pertimbangan apakah memang benar kita sedang overthinking atau memang perkataan ini merupakan perilaku gaslighting.

Caranya adalah dengan mengumpulkan informasi yang kita dapat. Jika informasi yang kita dapat menunjukkan bahwa orang tersebut tidak berbohong, bisa jadi hal itu memang hanya perasaan overthinking dari dalam diri kita.

Jika kita sedang overthinking, kita dapat memperbaiki diri dengan memilah masalah agar tidak memikirkan segala hal termasuk hal-hal di luar kendali kita agar kita terhindar dari stres.

Namun jika informasi mengarah kepada kebohongan orang tersebut, lalu kita sudah introspeksi diri, dan ternyata kita memang menanyakan suatu hal untuk memastikan kebenaran.

Tapi perkataan kita malah dianggap sikap baper, orang tersebut berbohong dan mengelak dengan selalu menjadikan seolah semua salah kita, maka kita dapat menyimpulkan bahwa ini merupakan perilaku gaslighting.

3. Berikan bukti kepada orang yang melakukan gaslighting

Ketika kita hendak memastikan suatu kabar untuk memastikan kebenaran atau hendak menunjukkan yang kebohongan seseorang agar orang tersebut berhenti berbohong, berikan juga bukti saat kita bicara. Sehingga jika orang tersebut mengelak dan melakukan gaslighting, kita dapat langsung menunjukkan buktinya.

Jika dia mengakui kesalahan tapi masih tetap melakukan gaslighting dengan menyalahkan kita, minta bukti pula darinya bahwa memang perbuatannya karena salah kita. Bukti harus jelas dan fakta, tidak berbentuk kekuatan opini dan kelantangan suara.

4. Sampaikan opini dengan percaya diri

Berbicara dengan orang yang suka melakukan gaslighting tentu tidak bisa dengan sikap ragu-ragu. Di poin sebelumnya, kita harus memberi bukti saat menyampaikan kebohongan orang tersebut.

Dalam menyampaikan bukti pun kita harus percaya diri bahwa yang kita sampaikan benar. Karena orang yang gemar berbohong dan mengelak dari kebohongan pun sering kali berbicara dan menyalahkan orang lain dengan percaya diri pula.

Jika memang yang kita sampaikan benar dengan bukti fakta yang jelas, jangan ragu untuk menyampaikannya dengan tegas dan percaya diri.

5. Temukan teman diskusi yang tepat

Setelah mendapat perilaku gaslighting kadang kita merasa down. Oleh karena itu, salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan perasaan minder kita adalah dengan bertanya atau diskusi dengan orang yang tepat.

Pastikan orang tersebut berpikiran terbuka dan memiliki wawasan terhadap masalah tersebut.

Berpikiran terbuka di sini maksudnya teman yang akan menjadi pendengar yang baik dan ikut mempertimbangkan dari sudut pandangnya mengenai sikap kita terhadap pelaku gaslighting.

Dengan demikian dia dapat membantu memberi pandangan apakah sikap kita sudah tepat atau perlu dipertimbangkan kembali dengan bukti-bukti dan opini yang lebih akurat.

Kemudian pastikan teman kita memiliki wawasan. Memiliki wawasan di sini maksudnya adalah orang tersebut memiliki pengalaman yang sama dan dia sudah melewatinya dengan baik.

Bisa juga disebut memiliki wawasan ketika orang tersebut telah mempelajari ilmu tentang permasalahan yang kita hadapi secara formal di tingkat pendidikan formal maupun non formal melalui mentoring atau sebagainya.

6. Beri opini positif terhadap diri kita

Jika kita telah mendapat perilaku gaslighting, masukkan hal-hal positif dalam pikiran kita. Jangan biarkan perkataan mereka selalu kita benarkan dan menjadikan kita merasa rendah diri.

Sadari bahwa ini hanyalah perilaku gaslighting yang orang tersebut lakukan untuk mengelak dari kebenaran yang ia tutupi. Tetaplah percaya diri menghadapi perilaku gaslighting seperti ini.

7. Ambil waktu untuk menenangkan diri

Kita harus tetap tenang dalam menghadapi orang yang berperilaku gaslighting. Tetap bersikap percaya diri dan beri opini bahwa kita menyadari perilakunya.

Jika orang tersebut masih bersikap gaslighting, ambil waktu untuk menenangkan diri dengan tidak berbicara dengannya sampai kita bisa mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapinya.

Itulah tadi beberapa cara untuk menghadapi perilaku gaslighting. Kita harus benar-benar menyadari perilaku gaslighting ini ya. Jangan sampai kita memiliki trauma baru akibat negative judgment dari lawan bicara seperti ini. Tetap positive thinking and always be happy.