Yang namanya bencana memang membuat kita sedih, tak ada bencana yang bikin bahagia. Tapi apa gunanya juga kita terus- menerus bersedih, tak akan ada perubahan, apalagi jika kesedihan itu diblow-up besar-besaran oleh media bahkan didramatisir sedemikian rupa. Untuk apa? Untuk meraup share market karena bad news is good news?

Saya rasa ini sebuah kesalahan cara pandang jika tragedy bencana dilihat dari kaca mata kesedihan. Bukannya saya tidak sedih, apalagi tidak peduli dengan korban bencana, tapi apa harus yang diperlihatkan di media adalah kesedihan korban. Bahkan masyarakat umum ada yang ikut-ikutan menyebarkan foto mayat-mayat para korban bergelempangan, untuk apa? Bahkan ada seorang selebgram yang sempat-sempatnya memvlog detik-detik bencana. Saat bencana terjadi si selebgram itu hanya sibuk menshoot orang-orang yang berlarian. Lalu apa kontribusi si selebgram itu jika dia hanya memvlog momentum bencana itu terjadi?

Laporan kebencanaan memang penting, berapa jumlah korban jiwa, korban harta, dan pemukiman yang hancur. Tapi biarlah itu menjadi tanggungjawab yang berwenang, media hanya boleh menyebarkan berita sesuai dengan laporan lembaga yang berwenang tadi. Tapi media dilarang memblow-up, apalagi hingga mencari-cari sendiri sample korban. Jika itu terjadi maka yang muncul di masyarakat hanya kesedihan yang tak wajar.

Menurut saya, media tidak berhak mengclose-up berita bencana hingga level paling dalam, media hanya boleh menshoot dari kejauhan, paling dekat 100 M dari objek bencana. Seperti tsunami jepang pada 2011 lalu, tak ada satupun media di jepang yang menshoot dari jarak dekat. Media-media di sana hanya boleh menshoot objek bencana menggunakan drone dari ketinggian 100M. tak ada close-up berita bencana. Informasi tentang statistic bencana hanya berasal dari satu pintu, yaitu badan kebencanaan itu sendiri. Media tidak boleh mencari tahu sendiri hingga laporan resmi terbit dari lembaga bersangkutan. Selebihnya, media di Jepang didorong untuk mengclose-up upaya pemerintah dan warga memulihkan kondisi pasca bencana dengan tujuan melahirkan optimisme untuk seluruh warga Jepang.

Warga di Jepang juga dilarang berswa foto, memvlog, atau memposting kabar-kabar liar soal kebencanaan. Tak ada warga yang diperbolehkan memfoto mayat korban bencana, bahkan untuk merekam tangisan korban bencanapun tidak boleh. Tujuannya apa, untuk meminimalisir kesedihan yang dialami warga Jepang sendiri.

Kita sepatutnya meniru perilaku media dan warga sipil di Jepang saat merespon bencana. Mereka sebisa mungkin tidak mendramatisir tragedy bencana, apalagi hingga mempolitisasi. Bahkan pemerintah Jepang membuat aturan ketat soal pemberitaan bencana. Kenapa demikian? Mereka sadar bahwa Negara mereka berada di atas permukaan bumi yang rawan gempa. Sebenarnya tidak jauh beda dengan Indonesia yang berada di atas cincin api. Kesadaran kebencanaan ini pula yang mendorong pemerintah Jepang membuat regulasi peringatan dini, penanganan, hingga pemberitaan kebencanaan.

Kebiasaan masyarakat kita yang selalu menonton drama sedikit banyak berpengaruh kepada cara pandang media dalam memberitakan kebencanaan. Sampai-sampai kita sulit membedakan mana bencana sungguhan dan mana yang drama sinetron. Di Indonesia, jika ada peristiwa kemanusiaan yang berpotensi menyulut keprihatinan, langsung menjadi makanan empuk media. Saya tidak tahu sejak kapan bangsa para petarung ini mendadak menjadi bangsa dramatis.

Contoh soal tentang tragedy kematian haringga Sirla supporter PERSIJA. Hingga seminggu peristiwa itu berlalu, masih saja beritanya berseliweran. Tangisan-tanggisan haru keluarga haringga menjadi topic pembahasan, PSSI terus-menerus diserang dengan sentimen emosional, bahkan pemerintah ikut-ikutan memojokkan PSSI karena tak becus menangani kematian satu supporter.

Contoh paling akhir adalah kasus penganiyaan Ratna Sarumpaet yang ternyata hoaks belaka. Sebelum Ratna mengakui kebohongannya, public sempat dibuat gempar oleh media yang memberitakan playing victim amatiran ini. Bahkan media tak segan-segan mengeksploitasi keterkaitan usia Ratna yang terlalu renta untuk dikeroyok. Saya tidak paham mengapa media sangat reaktif dan tak mampu memverifikasi sejak dini kebohongan berita itu sehingga terlanjur menyebar tak terkendali. Jika ada seorang capres yang terjebak kebohongan Ratna, maka yang patut dipersalahkan adalah media yang menyebarkan kebohongan itu tanpa konfirmasi sumber yang jelas.

Eksploitasi kesedihan juga terjadi di panggung hiburan. Banyak sekali talk show, reality show, atau talent show yang mereproduksi habis-habisan drama kesedihan dan tangisan hingga level ketidak-wajaran. Tak tanggung-tanggung, para pelaku entertainmen sampai melakukan gimmick tanpa control. Tujuannya agar acara berjalan dramatis dan menyentuh. Targetnya adalah emosi para pemirsa. Ruang-ruang kejiawaan para penikmat entertainment menjadi jaminan share market jika media berhasil menyentuh relung paling dalam perasaan pemirsanya. Di sini terlihat bahwa media sudah menegasikan akal sehat penontonnya. Bagi saya, media yang tidak menghormati akal sehat adalah media sampah.