Bagi mereka yang sudah lama menjadi jomblo, rasanya punya pacar bahkan menikah adalah cara jitu untuk menghilangkan kutukan jomblo abadi. Sesenior apa pun level jomblo kita, rasanya enggan kalau harus menyandang status ini selamanya. 

Di radio sering kali terdengar pertanyaan: sudah berapa lama jomblo, bro? Kalau jawabannya 3 tahun misalnya, itu rasanya lama sekali untuk sendiri tanpa pasangan. Lha, yang lain tiga minggu putus juga sudah punya gebetan baru.

Benarkah menikah menyelesaikan banyak masalah? Menghilangkan status jomblo pasti iya, tetapi selebihnya tetap saja ada masalah yang menyertai, meski sekarang penyelesaiannya tak perlu dipikirkan sendiri karena ada teman berbagi.

Bagaimana dengan mereka yang menyandang status orang tua tunggal? Entah karena pasangannya meninggal dunia, bercerai, atau memang memilih untuk memiliki anak tanpa pasangan. Untuk alasan terakhir, pasti sudah dipikirkan dengan matang, sehingga tidak risau dengan segala gunjingan. Eh, tapi memang benar, gunjingan tetangga itu makan hati sekali.

Ada tidak sih cara paling mudah untuk benar-benar bisa menikmati status sebagai orang tua tunggal tanpa terganggu berbagai komentar negatif? Pasti ada, meski jalannya tidak mudah. 

Saya sih berprinsip, omongan tetangga tidak mengganggu terbitnya matahari. Benar, kan? Tapi tak semua orang bisa seperti itu sih. Diomongin sedikit, nangis. Disindir, sakit hati.  

Pertama, memang perlu persiapan lahir batin. Apa pun penyebab kita menjadi orang tua tunggal, tidak perlu dipermasalahkan lagi karena hidup harus terus berjalan. Terlebih ada anak yang harus diprioritaskan. 

Begitu juga untuk mengusahakan tidak ada masalah dari sisi finansial untuk menunjang hidup ke depan bersama anak-anak. Tak mungkin pula kita bisa melanjutkan hidup hanya dengan nyinyiran tetangga.

Yakinlah, persiapan lahir batin ini sangat perlu. Tetapi perlu juga didukung kesiapan mental, material, ekonomi, dan juga sosial. 

Awal-awal menjadi orang tua tunggal jangan bosan untuk ditanya: pasangannya mana? Atau, bapaknya sedang pergi, ya? 

Pertanyaan biasa saja sih. Tetapi karena bertubi dan suka datang tidak pada tempatnya, lama-lama akan muak juga. Kadang membuat darah mendidih pula. Ini bagian dari hidup sosial yang tak  mungkin kita tolak.

Apa pun kondisi Anda saat ini, syukuri. Toh kita masih hidup, meski dengan banyak masalah. Ingat saja, manusia itu memang hidupnya dikelilingi masalah. Kalau dikelilingi wijen, onde-onde namanya. Milih yang mana?

Status sebagai orang tua tunggal bukan kutukan dan bukan pula dosa. Yang dosa itu menelantarkan anak, melakukan aborsi bukan untuk alasan kesehatan. Ini juga bukan kiamat. Bahwa hidup ada naik turun, itulah dinamika.

Maafkan saja masa lalu yang tak mengenakkan. Tanpa pilihan sikap ini, yakinlah, sepanjang  hidup, kita bagai pendaki yang keberatan dengan beban menempel di tas ransel kita. 

Membawa beban masa lalu tidak perlu sama sekali. Memaafkan adalah cara bijak untuk meninggalkan beban pada tempatnya. Membuang kenangan mantan pada saatnya. Terlebih bila kenangan itu lebih banyak buruknya.

Oh iya, dua tahun lebih saya bergulat dengan kata maaf ini. Proses yang tak mudah. Tetapi saya pilih untuk menjalani. Setelah maaf lahir batin dengan diri kita sendiri, rasanya kaki ringan melangkah.

Lalu tetapkan pilihan, hidup seperti apa yang ingin kita miliki ke depan. Pilihannya hanya dua: hidup bahagia atau menderita. Bangkit berusaha atau  diam menyesali kenapa akhirnya menjadi orang tua tunggal. 

Bukankah belokan hanya ada ke kiri dan ke kanan? Sederhanakanlah pilihan hidup Anda. Yang membuat ruwet itu ketakutan kita sendiri.

Carilah komunitas pendukung yang akan memperkuat kita. Support system ini kita perlukan, sekuat apa pun kita. Bisa keluarga terdekat, teman kerja, atau memang komunitas khusus untuk orang tua tunggal. 

Jangan merasa nyubie sendirian. Berkomunitas membantu kita melepaskan rasa sedih, putus asa, tanpa harapan, trauma. Jadi berkumpul tidak sekadar berkumpul, tetapi bisa menjadi sarana proses penyembuhan batin.

Anak-anak yang bergabung pun bisa saling menguatkan. Pertanyaan, kamu tidak punya ayah ya, bukan deritanya sendiri. Ada banyak anak yang tidak (lagi) punya ayah atau ibu. Ingat, anak-anak pun perlu waktu untuk penyembuhan dirinya. Menjadi orang tua tunggal pun kita berhak bahagia.

Bagaimana dengan figur orang tua yang hilang? Melibatkan anak dalam kehidupan sosial kita, membantunya untuk tetap memiliki figur ayah atau ibu yang hilang. Bukankah sahabat, orang tua, om dan tante bisa melengkapi hidupnya? Terbukalah juga untuk meminta bantuan dengan dengan sekitar.

Bila dibandingkan antara memiliki partner dalam keluarga dan tidak, yakinlah, masalahnya akan sama besarnya. Fokus kita pada jalan keluarnya saja, bukan memperbesar masalahnya. Sepakat, kan, sampai di sini?

Apa pun status kamu, santai saja. Hidup itu untuk dijalani. Sambil sesekali berlari; kalau capek, ya jalan kaki.