Mungkin kedengarannya paradoksikal untuk berbicara tentang cantik itu luka (macam judul novel karya Eka Kurniawan)—ketika kita begitu memimpikan untuk memiliki tulang pipi yang terpahat indah, rambut yang lebat nan berkilau, hidung yang ideal, gigi-gigi yang rapi, kaki-kaki yang jenjang, ramping, dan bantalan bibir yang segar.

Tetapi subjek ini tetap perlu untuk dibahas, karena kecantikan sebenarnya tidak bebas dari masalah. Ada sejumlah masalah—yang kadang terlalu tabu untuk dibicarakan—ketika kau menjadi teramat cantik.

Kau cenderung membosankan

Mungkin memang tak selalu, tentu saja; tak ada satu orang pun yang begitu. Akan tetapi, godaan untuk menjadi pribadi yang membosankan itu teramat kuat—dan itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. 

Hanya saja, sejak kau berusia 15, selalu ada pesta yang mana orang-orang memintamu untuk datang. Kau bahkan tidak perlu untuk memulai percakapan, karena orang lain selalu ada untuk menghiburmu.

Kau tak punya banyak kesempatan untuk menyendiri; tak banyak yang bisa kau lakukan demi mengeksplorasi kedalaman jiwamu sendiri; tak pernah terbersit dalam kepalamu untuk membenci diri sendiri. Kau tak perlu repot-repot memikat orang lain menggunakan kata-kata. Karena hanya dengan menjadi diam saja, orang sudah tertarik akan penampilan fisikmu.

Kau kerap mengintimidasi mereka yang jelek

Tentu bukan karena kau sengaja. Namun faktanya, sangat mengerikan untuk mengetahui bahwa orang-orang yang benar-benar ramah, yang dari luar kelihatan tak ramah (mayoritas umat manusia), mereka begitu minder untuk mendekatimu.

Padahal, sebenarnya, jauh di dalam hatimu, kau inginkan Si Pendiam itu, yang sedang berdiri di pojokan, untuk berani datang dan menyapa. Kendatipun memang mereka baik, ramah, dan lucu—tetapi mereka tetap menyadari bahwa mereka bukanlah tipemu, dan tak ingin diingatkan akan fakta bahwa kini mereka sedang berdiri di dekat makhluk cantik sepertimu.

Di sisi lain, kau mungkin bisa saja menjadi teman baik, bahkan kekasih—hanya saja, tidak dalam urusan yang satu ini. Mereka akan membeku ketika melihat matamu yang amat berbinar, profilmu yang sempurna, dan tanganmu yang begitu elegan. 

Ini mungkin bukan yang kau inginkan, tetapi orang-orang acap menjodohkanmu dengan tipe yang serupa denganmu pula—tak mengherankan jika hubunganmu terasa begitu membosankan.

Kau melewatkan beberapa pengalaman pahit yang berharga

Siapa pun akan sangat senang menjadi kekasihmu. Kau belum pernah sekalipun melajang lebih dari sebulan. Dalam kehidupan dewasamu, kau jarang—bahkan tidak pernah—mengalami penolakan yang pahit, dan itulah masalahnya. Sebab, pengalaman pahit akan mengasah kita menjadi lebih dewasa.

Sakit memang, tetapi perlu. Penolakan membikin kita menjadi lebih kuat, lebih tangguh, lebih welas asih, dan membuat kita menjadi lebih menghargai hal-hal kecil. Tentu saja itu bukan kesalahanmu, tetapi terimalah ini ... kau memang terlalu banyak dimanja.

Hubungan akan terasa hampa

Di atas ranjang, kau akan selalu bertanya-tanya, “Aku ... ataukah tubuhku yang mereka inginkan?”

Kau inginkan dicintai seutuhnya, sepenuhnya jiwa dan hati. Tetapi penampilan luarmu terlampau fantastis, dan mereka tak bisa mengabaikannya. 

Di lubuk terdalammu, kau sebenarnya ingin dihargai karena selera musikmu, buku-buku yang kau sukai, film-film komedi romantis favoritmu, ataupun pandangan politikmu. Kau tak ingin dicintai hanya untuk disetubuhi.

Orang kerap menganggapmu bodoh

Tak perlu waktu lama bagi orang lain untuk menyimpulkan hal ini. Imajinasi mereka tak pernah sekalipun membayangkan bahwa kau mengoleksi seluruh diskografi Radiohead; dengan hati-hati membalik lembar per lembar karangan Pramoedya Ananta Toer; atau diam-diam menganalisis perkembangan peta politik menjelang pilpres.

Mereka lebih menyukai gagasan bahwa otakmu tak begitu cemerlang. Hal ini karena ada prasangka akan keseimbangan pribadimu: kau tak bisa menjadi sangat cantik sekaligus paham akan kerja reaksi inti nuklir. Semua orang beranggapan bahwa mustahil kau bisa sepintar itu.

Kau kerap dibayangkan sebagai pribadi yang selalu bahagia

Keberuntungan—menurut orang-orang—telah menyambutmu dengan senyum semenjak lahir; kau tak perlu banyak bersusah payah. Pacar yang kaya raya; dosen yang kerap memuluskan tugas kuliahmu; atasan yang acap kali ramah—selalu dengan mudah kau dapatkan.

Kau adalah magnet untuk segala perasaan dengki. Beberapa orang suka mencari-cari kesalahanmu; mereka menggunakanmu untuk melampiaskan rasa frustrasi mereka. Kau terlalu cantik, menurut mereka, tak mungkin kau pernah alami sakit hati.

Penuaan adalah neraka

Kau memiliki anugerah ini: tubuh dan wajahmu ideal—untuk sekarang. Itulah sebabnya penuaan teramat menakutkanmu. Kemarin kau menemukan kerutan lain di atas dahi ketika bercermin; ada garis melengkung di bawah pipimu; atau saat kau menyadari lekukan-lekukan kulit di lehermu.

Terlalu banyak kesempurnaan pada wajahmu, yang akhirnya harus kau ucapkan selamat tinggal. Kau akan menatap cermin sambil mulai merogoh kocek dalam-dalam untuk operasi plastik. Kau ketakutan akan kenyataan bahwa kau sudah terlalu lama hidup di langit tertinggi, dan jatuh menghantam bumi akan sangat menyakitkan.

***

Untungnya, masalah dari menjadi teramat cantik memang bersifat sementara. Syukurlah, tak ada seorang pun yang akan selalu berada di puncak kejayaan selamanya. 

Waktu akan menyembuhkan lukamu. Dalam beberapa tahun, hampir pasti, wajahmu akan mulai mengeriput; tubuhmu akan mulai merelakan kemolekannya.

Sebagai penutup, mulai dari sekarang, kita harus mulai membisiki diri sendiri menggunakan jargon yang sudah sangat populer, yakni: Kecantikan sejati itu datangnya dari dalam.

Walau memang tak sedikit pula yang membalas: Kata-kata itu hanya dikatakan oleh orang-orang jelek.