Mitos, suatu hal yang begitu mengakar dalam budaya masyarakat Indonesia. Hampir semua sisi kehidupan kita tak lepas dari berbagai mitos. Beberapa sudah tak lagi dipercaya, namun masih puluhan bahkan ratusan jumlahnya yang masih membudaya.

Seorang wanita yang fase hidupnya sedang berproses menjadi seorang Ibu, tak luput dari berbagai mitos yang telah dipercaya turun-temurun dari ibu, nenek, buyut, hingga nenek moyang terdahulu. Ibu hamil tak boleh makan ini dan itu, ibu hamil tak boleh begini dan begitu, ibu hamil harus melakukan ini dan itu, dan berbagai kalimat lainnya.

Apakah semua mitos tersebut harus kita telan mentah-mentah karena “sudah terbukti” menurut para orang tua? Atau malah kita tolak habis-habisan karena sudah tak lagi zaman?

Mitos terlahir dari beberapa sumber. Ada mitos yang berkembang karena adanya pengulangan yang terjadi berdasarkan pengalaman. Ada pula mitos yang muncul karena kurangnya informasi kesehatan pada zaman dahulu. 

Tak semuanya salah, namun banyak pula yang merugikan, atau malah membahayakan. Contohnya saja, ada mitos yang mengatakan jika ibu hamil tidak boleh makan seafood, karena bisa membuat anak nakal. 

Mungkin kita akan berpikir itu adalah mitos yang salah, tapi jika kita melihat dari sudut pandang lain, ada hal yang bisa kita pertimbangkan dari mitos tersebut. Yang perlu diwaspadai dari seafood bukanlah membuat anak nakal, tetapi kandungan merkuri yang mungkin berbahaya bagi ibu hamil jika dikonsumsi berlebihan.

Mitos larangan makan untuk ibu hamil dan menyusui begitu banyak dan beragam. Tak hanya seafood, ibu hamil dan menyusui dipercaya dilarang keras makan makanan pedas. Padahal, bagi para ibu pencinta pedas, hal tersebut sangat memengaruhi mood dan nafsu makan. 

Mitos tersebut tidak sepenuhnya salah. Bukan rasa pedas yang dikhawatirkan mengubah rasa ASI pada Ibu menyusui, melainkan senyawa capcaisin yang ada pada makan pedas. Ada beberapa bayi yang sensitif ataupun alergi pada senyawa tersebut. Maka ada baiknya ibu hamil dan menyusui melakukan prinsip “beri dan amati”. 

Setelah melalui fase trial and error, barulah kita bisa mengetahui bayi alergi pada capcaisin atau tidak. Yang penting bayi sehat dan Ibu bahagia, bukan?

Tak jarang ada mitos salah kaprah, tak berdasar, dan malah merugikan orang lain. Salah satunya yaitu mitos membuang popok di sungai. 

Popok bekas pakai bayi dipercaya harus dibuang di sungai agar pantat bayi tidak ruam kemerahan. Mungkin masyarakat perkotaan jarang mengenal mitos ini, namun bagi para ibu di pedesaan, mitos ini begitu umum dipercayai. Popok yang dibakar atau ditimbun menjadi kambing hitam bila muncul ruam kemerahan pada pantat bayi, sehingga masyarakat memilih untuk membuangnya ke sungai. 

Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dan kebersihan bisa menjadi faktor munculnya mitos ini. Tentu saja, tidak ada satupun penelitian klinis yang menemukan hubungan antara ruam pada pantat bayi dengan cara pengolahan popok bekas pakai.

Di era teknologi informasi tanpa batas, sebetulnya teramat mudah bagi para ibu-ibu baru untuk mencari kebenaran dari mitos-mitos itu. Tak perlu mengeluarkan tenaga atau biaya berlebih, informasi sudah berada dalam genggaman. 

Ada puluhan, bahkan ratusan sumber informasi yang tersedia di dunia internet. Ada yang berupa website, ada yang berupa akun-akun media sosial, ada juga yang berupa media interaktif dengan narasumber tertentu. Yang dibutuhkan hanyalah kemampuan untuk memilah dan memilih mana informasi fakta dan mana yang hanya sebatas “katanya”.

Pada media sosial seperti Instagram saja, ada puluhan akun parenting yang diasuh oleh dokter anak ataupun dokter kandungan terkemuka. Akun-akun tersebut bisa jadi salah satu opsi selain akun online shop ataupun akun gosip yang sering diintip para ibu di kala senggang

Dunia maya adalah ranah yang begitu luas bagi para calon ibu, ibu muda, ataupun ibu-ibu berpengalaman untuk bertukar informasi dan saling menginspirasi. Jejaring media sosial tak luput dari para ibu yang memanfaatkannya untuk membentuk komunitas, di antaranya AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia), Ayah ASI, dan beragam komunitas parenting lainnya. Beberapa komunitas tersebut bahkan menyediakan sarana untuk sharing dengan didampingi oleh para ahli di bidangnya. 

Para Ibu dan calon ibu kini dituntut untuk “berani” dan “aktif” dalam menyaring mitos-mitos yang beredar. Tidak hanya berani untuk mencari informasi, tapi juga berani untuk menolak mempercayai mitos-mitos yang keliru dan malah merugikan. Mungkin juga berani mengambil risiko untuk tidak manut pada orang tua. 

Selain tuntutan untuk aktif mencari informasi, tak ada salahnya para ibu baru aktif saling mengingatkan dan mengedukasi sesama korban mitos dengan informasi terkini.

Bisa diibaratkan, para ibu bukanlah anak bayi yang mau saja disuapi berbagai makanan oleh orang lain. Mereka memiliki hak dan kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang baik dan buruk bagi tubuh mereka.