Ia tetap yakin dengan dirinya. Yakin bahwa ia akan terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat di daerahnya. 

Berbekal pertemanan yang banyak, ia pun maju sebagai salah satu calon legislatif. Meski ia tak punya keturunan pejabat dalam keluarganya, Parto bergeming untuk mendaftar melalui Partai Berdikari yang terkenal punya basis massa di desanya.

Parto hanyalah seorang yang biasa. Dari keturunan orang biasa saja. Tidak ada satupun dari anggota keluarganya yang pernah menjadi anggota dewan atau pejabat di instansi pemerintah. Bahkan yang jadi kepala desa pun tak ada. Bisa dikatakan ia hanya berbekal nekad.

Sehari harinya ia adalah guru madrasah swasta di desanya. Muridnya banyak dan dari beberapa alumni yang pernah menjadi muridnya ada yang sudah menjadi pejabat pemerintahan, anggota dewan pusat dan juga ada yang jadi pengusaha sukses luar biasa.

Perawakannya kerempeng dengan wajah asli ndeso, bagi sebagian warga desanya ia dianggap kurang meyakinkan untuk menjadi sorang pejabat apalagi anggota dewan.

“Anggota dewan itu harus berwibawa, tegap dan meyakinkan, To,” kata Zudi salah satu warga di desa Parto saat mereka bercengkerama di sebuah mushola.

“Yang penting kita siap mengabdi dan dicaci siapa saja boleh menjadi anggota Dewan, Zud,” balas Parto dengan pedenya.  

“Apa mesti harus kena caci maki jika seseorang jadi anggota dewan?” Tanya Kang Kardi yang sepertinya nggak mau kalah untuk usul berpendapat.

“Itu jelas, karena pasti ada saja yang kecewa dengan kerja kita. Dan lagi tidak mungkin kita bisa memaksa orang lain untuk memaklumi cara kerja kita,” Parto melanjutkan.

Sudah hampir tiga puluh tahun Parto mengabdi menjadi guru di sekolah swasta desanya. Pahit getirnya menjadi guru swasta telah ia jalani bertahun tahun sehingga ia hapal setiap keluhan yang pernah ia utarakan. Mulai dari gaji yang kecil, ketidakpastian status, dan tentunya bagaimana sulitnya menghadapi kurikulum yang setiap periode harus ganti.

Semua itu dijalani dengan tabah dan ikhlas hingga pada suatu hari salah satu muridnya yang jadi anggota dewan berkunjung ke rumahnya. Imron yang dahulu adalah murid paling bandel di kelasnya itu kini telah menjadi anggota dewan. Penampilannya parlente dengan kaos berkerah dan celana kain yang rapi. Gaya bicaranya pun sedikit kebarat baratan dengan logat bicara resmi seperti dalam protocol kecamatan.

Dalam kunjungan itu Imron berujar, “Bapak ini akan lebih baik jika bisa berkiprah menjadi anggota dewan.”

“Bapak akan lebih bisa mewarnai rapat rapat di ruang sidang. Melihat cara berbicara Bapak saat mengajar saya dulu, saya yakin bapak mampu,” lanjut Imron.

Perkataan itu terngiang terus di benak Parto. Ia yang telah mengajar anggota dewan itu selama enam tahun di sekolahan. Kini murid bengalnya itu  datang untuk meyakinkannya agar mencalonkan diri menjadi anggota dewan.

Ketika Istrinya diberi tahu perihal keinginannya untuk mencalonkan diri menjadi anggota dewan, istrinya itu hanya tertawa. Mungkin bagi istrinya Parto hanya bergurau.

“Jadi anggota dewan itu harus punya uang banyak, Pak,” kilah istrinya saat pertama kali ia sampaikan keinginannya.

“Lho, jadi anggota dewan itu hanya butuh kepercayaan, Bu, Kepercayaan……..” Parto menjelaskan sambil melanjutkan, “ Buat apa uang jika kita tak dipercaya orang.”

“Heemmmz…..Lagian siapa yang mau mempercayai bapak, kan Bapak nggak meyakinkan penampilannya. Paling paling di dunia ini hanya aku yang percaya kamu,” istrinya bersungut sungut memberi pemahaman.

Tak mau kalah dengan istrinya Parto melanjutkan, “Lihat saja nanti. Aku punya murid banyak yang bisa kuandalkan untuk menjadi tim suksesku.”

Di benak Parto, dengan berbekal banyak kenalan dan mantan murid yang sudah jadi orang, ia yakin pencalonannya nanti tidak sia sia. Selam ini ia belum pernah punya cacat sosial di masyarakat. Salah satu kekurangannya adalah kemiskinan.

Seberapapun pintar dan cerdasnya seseorang kalau dia nggak punya materi untuk dijadikan modal sosial maka omongannya tak akan pernah digugu. Bukankah sudah lazim di negeri ini kata kata jutawan lebih punya daya gedor dibandingakn dengan kata kata yang dihasilkan oleh orang pintar. Pemikiran ini sepertinya sejalan dngan pemikiran istri Parto.

Pernah suatu kali istrinya mengingatkan ,“Pak, ingatlah saat rapat rapat di mushola, meski Bapak sudah ngomong hingga bibir terkelupas orang kampun kita masih saja menunggu omongan dari juragan Hasyim di akhir rapat. Seringkali omongan Bapak hanya jadi bahan obrolan saja dalam rapat.”

Setahun kemudian saat pemilihan umum diadakan dengan muka penuh keyakinan Parto duduk menunggu di dipan rumahnya ditemani mantan mantan muridnya yang jadi tim suksesnya. Ada beberapa di antara mereka yang wajahnya terlihat lusuh dan lelah.

“Kita masih punya harapan di kecamatan sebelah, Pak, tenang penghitungan belum selesai,” salah seorang di antaranya membesarkan hati Parto. Parto masih terdiam mengenang saat saat berkampanye tiga bulan lalu. Ia menjanjikan perubahan pada daerahnya saat terpilih nanti. Baginya, tak akan ada lagi uang sebagai jalan mempercepat urusan dalam pemerintahan.

“Korupsi itu racun. Mari bersama sama memeranginya. Saya akan menjadi corong saudara semua di gedung dewan nanti. Kita mampu jika mau dan Anda semua harus bersama saya memperjuangkan itu, sanggupkah saudara saudara?” ujarnya ketika itu berapi api.

“Sanggupppppp…..” itulah jawaban yang massa berikan saat mendengar pertanyaan Parto dalam kampanyenya waktu itu.

Seseorang datang tergopoh gopoh dari halaman depan rumah Parto. Ia kelihatan panik,  dan langsung menghambur ke hadapan Parto, “Habis kita! habis kita! tak ada lagi harapan. Kita telah dikalahkan oleh uang.”