Integrasi Keislaman dan Kemodernan

Sepanjang perjalanan sejarah Islam, unsur-unsur modern, modernitas, modernisme atau kemodernan tampak tidak dapat dielakkan. Bukan saja karena Islam yang sudah terlampau berkembang sedemikian rupa, tapi juga karena ajaran Islam itu sendiri. 

Cak Nur memberikan pemahaman mengenai modernisasi dengan menyatakan bahwa modernisasi adalah rasionalisasi. Modernisasi merupakan proses perombakan pola pikir dan tata kerja lama yang tidak akliah (rasional) kemudian menggantinya dengan pola pikir dan tata kerja baru yang akliah dengan tetap berorientasi pada nilai-nilai besar Islam.

Sebagai contoh, Cak Nur menuturkan bahwa para filsuf Muslim dalam hal berfilsafat tetap berada pada nilai-nilai Islam dan juga karena dorongan keagamaan, malah justru sering kali untuk membela dan melindungi keimanan.  Dari sini kemudian Cak Nur tampak semakin mantap menyatakan bahwa modernisasi atau rasionalisasi dengan bahan-bahan Barat tidak selalu pasti mengalami pembaratan (westernisasi). Oleh karena itu, kemodernan merupakan suatu keniscayaan dan juga kelanjutan wajar dan logis perkembangan kehidupan manusia.

Beberapa “hasil” dari integrasi keislaman dan kemodernan, menurut Cak Nur, adalah paham kemajemukan agama dan masyarakat (pluralisme). Cukup lantang Cak Nur meyakinkan bahwa pluralisme/pluralitas adalah salah satu substansi keislaman. 

Bahkan, beberapa ahli dan pengamat Barat memuji dan menghargainya. Menurut Bertrand Russel, sebagaimana dikutip Cak Nur, dengan memahami penuh pluralisme Islam, kaum muslim berhasil menjadi pemimpin berbagai bangsa dengan peradaban duniawi yang tinggi. 

Selain pluralisme, Russel juga memuji tentang monoteisme Islam sebagai suatu monoteisme sederhana, yang tidak dibuat ruwet oleh teologi berbelit-belit. 

Berdasarkan hal tersebut, Ernest Gellner menyimpulkan bahwa Islam adalah agama yang paling dekat kepada modernitas. Sebab, Islam mampu bertahan dengan mengatasi gap antara yang normatif dan historis atau antara tradisi besar dan tradisi kecil. Alasan lainnya adalah karena kualitas Islam yang bersemangat kesarjanaan (scholarly).

Integrasi Keislaman dan Keindonesiaan

Berbicara tentang Islam Indonesia atau secara garis besar Islam Asia Tenggara, di luar apakah ia masuk dengan damai atau kekerasan, memang keberadaannya jauh akan sangat lebih efektif sebagai senjata ideologis-politis daripada sistem ajaran yang lengkap dan serba meliputi. Hal ini disebabkan sepanjang sejarah kolonialisasi, para ulama terlalu memberikan perhatian pada perjuangan fisik melawan kaum penjajah, meskipun hal itu tidak salah sama sekali.

Dari sini wajar kemudian jika ternyata mental tersebut masih terbawa dan sedikit banyak menjadi arus yang cukup deras. Konsekuensi dari sini adalah bahwa jika dibandingkan dengan sejarah Islam di India, misalkan, sejarah Islam Indonesia kurang mendalam dari segi pemahaman ajaran dan pengembangan intelektual. Sampai-sampai Cak Nur menyatakan bahwa Islam Indonesia tidak memliki masa silam, Islam Indonesia hanya memiliki masa depan!

Melihat Islam dalam konteks keindonesiaan, Cak Nur menyebutkan tiga ciri utama yang menandai kondisi sosial-budaya yang mesti diperhatikan: 1) pertumbuhan, 2) perkembangan, dan 3) kemajemukan. Ketiga hal tersebut dalam pelaksanaannya dapat terkendala, terutama oleh sikap-sikap serbamutlak (absolutisme) dari masing-masing individu masyarakat atau sebuah kelompok masyarakat. 

Sikap absolut, terutama jika terjadi di kalangan muslim, sangat bertentangan dengan ide-ide tentang jihad, ijtihad, dan mujahadah (berakar dari kata juhd yang berarti usaha penuh kesungguhan) yang erat terkait dengan etos gerak dan etos kerja yang dinamis dan tidak kenal berhenti.

Dengan demikian, bagi Cak Nur, tampak bahwa mengerti dan memahami ajaran Islam melalui berbagai disiplin ilmu seperti tafsir dan ilmu tafsir, fikih dan ushul fikih, hadis dan ilmu hadis, tidak cukup tanpa mempehatikan urgensi realitas sosial-budaya dan perkembangan sosiologis-politis bangsa Indonesia. 

Secara sederhana, Islam Indonesia mesti menyertai kesadaran dimensi ruang dan waktu atau dalam bahasa lain, mengerti dan memahami dimensi universalitas ajaran Islam. Oleh karena itu, solusi Islam atas problematika yang terjadi di negara lain tidak dapat ditiru begitu saja.

Sementara terkait dengan kemajemukan, Cak Nur kembali menegaskan urgensi pluralisme sebagai sebuah sistem nilai yang memandang secara positif-optimis terhadap kemajemukan itu sendiri dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berbuah sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu. 

Namun, untuk itu, hal paling mendasar yang perlu dilakukan adalah pencarian titik temu nilai kesamaan. Hal ini yang dalam Alquran disebut sebagai kalimatun sawa atau dalam istilah lain disebut dengan common platform dan hal ini bagi Cak Nur dalam kontek keindonesiaan adalah Pancasila, terutama sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Cak Nur memberikan contoh pencarian titik temu ini dengan preseden yang dilakukan oleh Nabi Saw. yang masyhur disebut Piagan Madinah dan Umar bin Khattab yang populer disebut Piagam Aelia