Entah angin apa yang bertiup sehingga membawa ingatan saya pada satu sosok bernama Basuki Tjahaja Purnama atau biasa dikenal dengan nama Ahok. Sosok yang saat ini sedang menikmati "masa liburan" di penjara memang sangat fenomenal. Meski dalam penjara, tapi nama Ahok masih cukup seksi diperbincangkan oleh para teman ataupun dipergunjingkan oleh lawannya.

Sebagai orang yang mendukung perjuangan Ahok dan tetap yakin Ahok tidak bersalah, saya sendiri masih sering mencari dan menunggu berita tentang Ahok. Dan akhir-akhir ini, beritanya masih fokus pada perceraiannya dengan Bu Vero. Sangat disayangkan.

Namun cahaya purnama itu tetap bersinar di balik jeruji. Seolah terali besi dan tembok beton penjara tidak mampu menahan pesona Ahok yang masih dirindukan oleh teman Ahok.

Sebuah tebak-tebakan sering kita dengar. "Apa beda politikus dulu dan sekarang?" Jawabannya: politikus dulu, masuk penjara baru jadi pejabat/presiden; politikus sekarang, jadi pejabat dulu baru masuk penjara. Dan ini memang benar.

Kita pasti tahu kisah Bung Karno yang dipenjara serta diasingkan oleh penjajah hingga akhirnya dapat memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dan menjadi Presiden pertama Indonesia. Atau kita pun pernah mendengar kisa Nelson Mandela yang menghabiskan "masa liburan" 27 tahun hingga akhirnya keluar dan menjadi Presiden Afrika Selatan.

Dan keduanya sangat dinantikan oleh para pendukungnya, namun sangat dibenci oleh para lawannya. Selain dua nama itu, masih banyak lagi contoh pemimpin dunia yang memiliki kisah relatif sama.

Fakta ini menjadi terbalik pada saat ini. Kebanyakan pejabat kita masuk penjara karena menyalahgunakan kekuasaannya. Hampir setiap bulan kita mendengar ada tersangka korupsi baru, dan mereka rata-rata adalah para pejabat atau pemimpin partai politik.

Melihat perbuatan mereka, masyarakat pun pastinya tidak akan merindukan kebebasan mereka, dan tidak akan peduli lagi dengan sepak terjang mereka setelah keluar dari penjara.

Beda cerita dengan Ahok. Meski sedang mendekam dalam penjara, namun para teman masih merindukannya, bahkan para lawan masih ketakutan dengan pesona cahaya purnama Ahok.

Isu Ahok setelah bebas dapat melenggang ke Istana sangat mengindikasikan ketakutan para lawan. Bahkan, sekelas seorang profesor menyebar berita soal kewarganegaraan orang tua Ahok, yang telah diklarifikasi pihak keluarga, hanya sebagai fiksi belaka.

Sebegitu takutnyakah mereka pada Ahok, yang saat ini hanya menghabiskan waktu membaca Alkitab dan buku-buku lainnya, menulis buku, membalas surat pendukungnya, serta bernyanyi bersama dengan teman satu selnya? Mungkin rasa ini yang dulu pernah dirasakan oleh lawan Bung Karno dan Nelson Mandela, meski mereka sedang dipenjara.

Ahok memang sangat fenomenal. Ahok tidak berjuang untuk merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajah karena Indonesia sudah merdeka 72 tahun. Ahok tidak berjuang melawan politik apartheid seperti Mandela, karena konstitusi kita menjamin kesamaan hak setiap warga negara Indonesia.

Yang Ahok perjuangkan adalah menjalankan kemerdekaan dan konstitusi itu dengan baik dan benar. Ahok mengajarkan bagaimana menjaga bangsa ini. Ahok mengajarkan kebenaran yang harus dibiasakan, bukan sebaliknya. Ahok mengajarkan "tetap melayani walau difitnah".

Ahok bukan "Gubernur Indonesia". Dia hanya mantan Gubernur Jakarta yang dicintai sekaligus dibenci. Ahok bukan calon presiden/wakil presiden. Dia hanya seorang narapidana kasus penistaan agama.

Ahok bukan keturunan raja, pahlawan, atau keluarga ningrat. Dia hanya warga Indonesia keturunan Tiongkok dari desa kecil di Bangka Belitung. Tapi, cahayanya masih terus bersinar, menghangatkan para kawan dan juga menyilaukan para lawan.

Terakhir, saya berharap Pak Ahok segera bebas dan tetap berkarya untuk kemajuan bangsa ini. Nikmatilah masa liburmu, Pak. Sebuah sajak dari Presiden Ho Chi Minh, yang juga pernah menghabiskan waktu di balik jeruji sepertimu, dan entah kenapa judul sajak ini sepertinya tercipta untukmu, Pak Ahok.

Baca Juga: Cinta untuk Ahok

Bulan Purnama

Dalam penjara, tiada arak dan tiada bunga
Bagaimana gerangan menikmati malam sejelita ini
Kudekati jendela, tampak bulan purnama
Rembulan memandang penyair lewat celah jeruji