“Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal.”

Rusdi Mathari

Bagi masyarakat awam pada umumnya atau bahkan sebagian dari kita, apa yang tercetus pertama kali dalam pikiran kita ketika mendengar kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial —atau lebih populer biasa disebut dengan kartu BPJS?

Iya, betul. Seketika akan terlintas sebuah jawaban bahwa kartu BPJS adalah sebuah kartu sakti. Disebut sakti karena kartu tersebut akan bekerja saat sang empunya dalam kondisi sakit. Sembuh dengan biaya ringan atau bahkan tanpa biaya sama sekali, bagi yang rutin membayar iuran. Begitulah selama ini kartu BPJS dikonstruksi dalam ingatan publik.

Harapan tersebut tentu saja menguat, saat pertama kali kartu BPJS diperkenalkan kepada publik pada 2014 silam. Meski secara fungsional, sesungguhnya sistem jaminan pemeliharaan kesehatan di Indonesia sudah berjalan sejak jaman kolonial, dengan nama dan lembaga penyelenggara yang sering berubah. Tentunya, saat itu fasilitas tersebut masih elitis. Hanya dapat dinikmati oleh sebagian kalangan tertentu.

Imajinasi indah tentang kartu sakti bernama kartu BPJS, seketika akan hancur tak berkeping saat Anda membaca buku karangan Rusdi Mathari berjudul Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit.

“Saya tidak percaya ada orang yang menginginkan sakit dan ingin dirawat di rumah sakit. Tapi, ketika penyakit datang menyergap dan memaksa kita dirawat di rumah sakit (apalagi untuk waktu relatif lama), apa pilihan kita?” (hlm 7)

Apa yang diungkapkan Rusdi di atas, merupakan sebuah realitas kondisi warga negara yang tidak mempunyai pilihan saat dilanda sakit yang tergolong parah. Tentunya juga bagi mereka yang sudah melalui percobaan pengobatan alternatif yang tak memberikan jawaban kesembuhan.

Tiadanya pilihan, dalam hal biaya dan fasilitas, membuat pilihan tersebut tertuju hanya pada satu jawaban yang menjadi tujuan akhir melawan pesakitan: rumah sakit.

Mengenai hal itu, Rusdi adalah contoh terbaik yang barangkali juga pernah dirasakan oleh orang lain —sesama peserta BPJS. Sesungguhnya Rusdi memiliki kenangan manis tentang rumah sakit, saat ia sebelumnya pernah dua kali di sepanjang hidupnya dirawat di rumah sakit.

Pertama, saat sakit tipus dan dirawat di RS Pusat Pertamina. Dia melawan dominasi anggapan makanan rumah sakit yang cenderung hambar, sekaligus tidak menaikan selera makan. Nyatanya, Rusdi sampai hafal daftar menu pasien, mulai dari jenis makanan berat, kudapan,  minuman, buah, sampai pada pukul berapa hidangan itu datang di hadapan pasien. Saking nyamannya dirawat, Rusdi sempat berpikiran untuk menambah masa perawatannya.

Rumah sakit menjadi pilihan terakhir bagi Rusdi setelah dokter memvonisnya menderita kanker. Punggung dan leher Rusdi menjadi tempat bermukimnya kanker yang membuatnya kesakitan saat ia membungkuk dan duduk lama sejak 2016. Penyakit tersebut yang membuat 5 ruas tulang punggungnya hancur dan membutuhkan biaya sebesar Rp110 juta. Di tengah kesulitan finansial, Rusdi menggunakan kartu sakti tersebut.

Kartu sakti tersebut harus diuji kesaktiannya. Konsekuensinya, pengguna kartu BPJS mau tidak mau harus mengikuti alur struktural. Misalkan, yang sering terjadi seperti memulai pengobatan dari fasilitas kesehatan paling bawah seperti puskesmas di lingkup kecamatan.

Cara tersebut memberikan dampak positif yakni mendekatkan pelayanan publik kesehatan kepada masyarakat. Namun, pasien dengan penyakit parah seperti Rusdi juga harus melakukan prosedur tersebut. Meski di Puskemas juga bertugas seorang atau beberapa dokter, pada akhirnya juga tidak dapat memberikan keputusan medis kepada pasien dengan penyakit berat.

Jalan lain yang harus dilakukan yakni memberikan surat rujukan ke RS tingkat kabupaten atau kota. Maka tak jarang sering ditemui antrean pasien yang memberludak RS rujukan tingkat kabupaten/kota, termasuk rujukan hingga RS tingkat provinsi. Pasien dengan keterbatasan ekonomi tak punya pilihan lain: mengikuti antrean panjang, mendapatkan biaya perawatan murah, dan sembuh walau belum tentu menjamin.

BPJS hingga kini, selain persoalan birokratisasi, berjibunnya jumlah pasien menyebabkan terjadinya keterbatasan jumlah dokter, perawat, dan ruang perawatan dan tindakan. Maka jangan kaget kalau selama ini kita akan sering mendengar betapa lambatnya penanganan pasien BPJS hingga menumpuknya pasien dalam satu kamar.

Hal tersebut akan berbeda bila pasien menggunakan fasilitas umum yang mengharuskan mereka membayar dengan nominal yang sudah ditentukan rumah sakit. Dana segar pun langsung mengalir ke pundi-pundi keuangan RS. Berbeda halnya dengan pasien kartu BPJS, yang pembayarannya tentu saja menunggu kiriman dari lembaga BPJS setelah pelayanan kesehatan dilakukan.

Dalam situasi tersebut yang dikorbankan adalah pelayanan publik, meski pasien yang —bagian dari publik turut membayar iuran yang dibayarkan ke negara melalui wadah bernama BPJS. Meski turut membayarkan iuran BPJS, Rusdi misalnya, mendapatkan perlakukan kasar persuasif. Dalam perbincangan yang menegangkan dengan seorang dokter, Rusdi dihujani tudingan pingin mati!

Kalimat “Elu pingin mati?” secara etika sesungguhnya tidak pantas keluar dari mulut seorang dokter, sekali pun itu berlatar belakang dari militer. Sejak kecil, saya mencitrakan dokter sebagai seorang malaikat di dunia karena perannya yang dapat menyembuhkan dengan memberikan obat-obat mujarab. Selain juga karena suara dan pembawaannya yang ramah dan lembut.

Kenangan saya tentang dokter pun langsung buyar seketika membaca atau bahkan membayangkan perbincangan itu terdengar oleh pasien dengan penyakit berat, yang seharusnya perlu mendapatkan dukungan moril.

Geram. Begitulah yang dirasakan Rusdi, barangkali juga pembaca sekalian bila dihadapkan dengan kondisi demikian. Kegeraman itu, setidaknya kalimat “Elu pingin mati?” dituliskan oleh Rusdi sebanyak empat kali, dua kali di antaranya keluar langsung dari mulut sang dokter.

Kalimat tersebut memang tidak etis keluar dari mulut seorang dokter. Tapi kisah tersebut juga dapat dibayangkan bagaimana beban kerja seorang dokter yang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien BPJS.

Seorang dokter spesialis misalnya. Baru dapat menangani operasi seorang pasien setelah satu sampai dua bulan sejak ia terdaftar dalam antrean. Dengan jarak durasi waktu selama itu, sesungguhnya menunjukan negara kita sesungguhnya mengalami defisit dokter —khususnya dokter spesialis.

Defisit tersebut sangat terasa sekali saat dua tahun terakhir kita dihantam badai pandemi Covid-19. Rasio dokter —termasuk tenaga kesehatan seperti perawat tidak seimbang dengan jumlah penduduk kita. Terlebih saat bersamaan dilanda pandemi yang membuat masyarakat dalam waktu bersamaan terinfeksi virus.

Kolaps. Begitulah yang terjadi. Rumah sakit terbebani jumlah pasien yang membeludak. Pasien terlantar, dirawat di ruang seadanya karena jumlah pasien di luar batas tampung atau Bed Occupation Rate (BOR).

Profesi Rusdi sebagai seorang jurnalis, membuat buku ini terasa dekat secara emosional. Ia secara runut dan detail menulisnya meski dalam keterbatasannya. Loyalitas Rusdi tentang kepenulisan memang tidak diragukan.

Catatan ini seperti mewakili suara nurani pasien BPJS yang selama ini lebih memilih bungkam, atau paling tidak hanya bercerita kepada saudara atau tetangga tentang buruknya pelayanan kesehatan menggunakan BPJS.

Walau negara (barang kali) tengah berupaya memberikan layanan kesehatan terbaik untuk rakyatnya melalui skema iuran BPJS. Nyatanya, niat terbaik juga belum tentu baik juga untuk rakyatnya. Rusdi memberikan gambaran itu dalam buku catatannya.

                                                                                                                                                       

Judul: Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit

Penulis: Rusdi Mathari

Penyunting: Prima Sulistya

Penerbit: Mojok

Tahun Terbit: Cetakan keempat Juni 2021

Halaman: 78 hlm