Tuntutan kenaikan gaji sepertinya tidak pernah alpa di peringatan Hari Buruh. Hampir setiap tahun, tuntutan akan hal itu selalu menggema: “Tolak upah murah!” atau “Naikkan gaji buruh!” 

Tidak ada bosan-bosannya kata-kata demikian mereka teriakkan. Terutama kalau momentumnya memang datang, 1 Mei, bergeloralah semua teriakan-teriakan seperti itu.

Saya tak memungkiri diri kalau juga pernah berlaku begitu. Tetapi itu dulu, saat saya masih menyandang status “mahasiswa unyu-unyu”. Sekarang sudah tidak lagi. Telah saya tinggalkan warisan zaman batu ini.

Sombong? Terserah kalian mau menilainya bagaimana. Yang jelas, dan tentu saja ini bagi saya, frasa “tolak upah murah” atau “naikkan gaji buruh” bukan tuntutan yang patut. Itu tak lebih dari sekadar upaya yang banal.

Begini, saudara-saudara. Masalah gaji ini sebenarnya sangat sederhana. Yang mewah-mewah hanyalah tafsirannya. Persis makna hidup ala Pramoedya, begitulah wujudnya.

Kita harus pahami, gaji atau upah kerja itu sejatinya ditentukan oleh si bos. Sebagai penguasa tempat kerja, tentu terserah si bos mau kasih berapa untuk upah kerja buruhnya. Memuaskan dua belah pihak atau tidak, semua tergantung dari kebijakan si bos.

Kalau kamu tidak setuju dengan ketetapan si bos, ya jangan kerja di tempatnya, dong. Cari tempat kerja yang lain. Dunia toh tak selebar jidatmu. Masih banyak tempat lain yang bisa kamu jelajahi. Tidak perlu terlalu khawatir.

Jika sudah bekerja dan mendapat gaji yang dirasa kurang, misalnya, maka solusi terbaiknya adalah bicara langsung ke bosmu. Tidak harus menunggu May Day untuk menuntutnya; tidak harus ke jalanan secara beramai-ramai hanya untuk memenuhi hasrat. Tinggal temui bosmu, masalah kelar—disetujui atau tidak.

Kelar? Ya. Kalau si bos tidak mau menaikkan gaji sesuai tuntutan, itu artinya bahwa masalah kenaikan gaji bukan sesuatu yang harus dituntut lagi. Perkara selesai di sini.

Saya juga seorang buruh. Tetapi saya mungkin adalah buruh yang tahu batas bahwa menaikkan atau menurunkan gaji itu adalah hak seorang bos, bukan saya. Saya tidak punya hak untuk mengatur si bos sampai sejauh itu.

Kalau saya tidak suka atau tidak setuju dengan gaji yang ditetapkan, maka hanya ada dua jalan untuk saya bisa lakukan: memilih bertahan atau keluar dari perusahaan. Gampang gak pake ribet, kan? 

Hanya orang bodoh yang memilih bertahan atau bekerja di perusahaan yang tidak sesuai selera.

Bagaimana kalau tidak ada perusahaan yang sesuai selera? Oh, jangan sekali-kali bertanya seperti itu. Justru bertanyalah pada diri sendiri: “memangnya siapa saya? Saya yang bekerja di tempat orang, kok saya yang ngatur-ngatur?"

Memilih keluar dari perusahaan yang tidak sesuai selera adalah langkah yang tepat. Dengan begitu, kita bisa menciptakan lapangan kerja sesuai kebutuhan, minimal untuk diri sendiri dululah.

Kalau tidak mampu? Itu sih derita masing-masing. Ketidakmampuan individu jangan pernah jadi dalih. Sangat tidak baik untuk kesehatan jantung dan hatimu.

Hanya saja, kalau soalnya adalah dicurangi, misalnya diperas diam-diam dalam pekerjaan, maka tidak ada kata lain memang kecuali LAWAN!