“Harusnya gaji buruh itu sudah cukup sebenarnya buat makan, yang bikin gak cukup itu ngikutin gaya hidup, kurang bersyukur, buruh kok nuntut kenaikan gaji terus.” Kira-kira itulah yang ditulis teman saya di display messenger bbm.

Saya kira sangat banyak di antara teman kita yang mempunyai pemikiran seperti ini. Menganggap jika buruh demo yang dituntut adalah kenaikan gaji. Mereka juga menganggap bahwa buruh biasanya kurang bersyukur karena selalu minta lebih tanpa memikirkan pengusaha.

Bagi saya ini adalah kedangkalan berpikir dan berbahaya. Teman-teman saya sendiri kebanyakan memang rata-rata tergolong bukan dari kelas bawah tapi kelas menengah. Saya  tidak tahu mengapa mereka bisa menilai buruh seperti ini.

Ibu saya pernah bekerja menjadi buruh di perusahan, tapi setelah anak pertama lahir (saya) ibu saya memutuskan untuk keluar dari perushaan yang sudah dikerjai selama beberapa tahun itu. Bapak saya juga bukan buruh di perusahaan.

Waktu lajang dulu memang pernah bekerja menjadi buruh tetapi setelah mengalami masalah dalam hati bapak saya karena sering kalinya bapak tidak bisa mengikuti salat Jumat karena ketatnya aturan, akhirnya bapak saya memutuskan untuk keluar dari perusahaanya dan bekerja menjadi petani.

Anak muda yang dibesarkan dari keluarga berkecukupan tentu mudah sekali ketika mengatakan orang miskin yang mengeluhkan kebutuhan pokok naik adalah orang yang kurang bersyukur karena mereka kelas menengah ini dari kecil sudah dituruti kemauanya dan tidak pernah tahu harga harga kebutuhan pokok, ketimbang anak muda yang dibesarkan dan tumbuh dari keluarga yang dari kecil tahu bagaimana susahnya cari uang.

Tentu bukan berarti semua yang dari kecil hidupnya bercukupan hidupnya apatis kepada masyarakat kelas bawah, jika mereka mau bersosialisasi dengan kelas bawah.

Dalam hal buruh pun dipandang begitu, mereka—saya menyebutnya kelas menengah ngehek, buruh sering dianggap sebagai kumpulan pemalas yang kalau demo hanya menuntut kenaikan upah.

Kita tentu juga sering mendengar dari kelas menengah ngehek ini kalau kenaikan setiap tahun UMK selama ini sebenarnya hanya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup buruh tanpa mempedulikan bagaimana nasib pengusaha. Saya tidak tahu apakah memang mereka kelas menengah ngehek ini tahu mekanisme penetapan UMK atau mereka sebenarnya tidak tahu tapi mereka hanya membenci dan tidak suka saja terhadap buruh. 

Jika mereka tahu dan paham, saya rasa tentu kelas menengah ngehek ini tidak mudah membenci buruh. Harusnya mereka tahu jika UMK itu didapatkan dari musyawarah yang melibatkan tripartit (pengusaha, serikat buruh/pekerja, dan pemerintah) dan juga akademisi, bukan hanya dari pihak buruh.

Harusnya mereka juga paham bahwa kenaikan UMK mempertimbangkan  beberapa faktor yaitu kebutuhan hidup layak (KHL), tingkat ekonomi daerah, tingkat inflasi, daya beli masyarakat, dan kemampuan industri. Jadi jika UMK dengan nominal yang sudah ditetapkan dianggap terlalu tinggi dan menyiksa pengusaha itu jelas salah, karena penetapan UMK merupakan hasil kesepakatan pengusaha dan buruh.

Tentu lucu sekali jika mereka yang tidak suka terhadap buruh ini menganggap bahwa kenaikan UMK hanya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup, padahal kenyataanya kenaikan UMK itu hasil kesepakatan dari pengusaha, perwakilan buruh, dan pemerintah.

Kita juga sering mendengar bahwa buruh itu hobinya kredit dan boros, katanya buktinya mereka pernah melihat buruh pada saat unjuk rasa menggunakan motor Ninja 4T. Bagi saya ini juga kepicikan berpikir.

Coba kita pikir kembali berapa sih yang turun ke jalan yang berdemo menggunakan motor baru, mengendarai Ninja 4T, apakah 50%, 30% dari masa yang demo atau cuma 1-2 orang saja dan berapa banyak dari buruh yang sebenarnya tidak ikut berdemo dan masih bekerja dan tidak diperbolehkan untuk berdemo oleh perusahaan?

Kalau cuma 1-2 mereka kelas menengah ngehek ini anggap sudah mewakili semua buruh, dan dengan cara berpikir yang sama seperti itu tentu jangan marah jika misalkan agamamu Islam dan ada yang menganggap kalau perilaku teroris di sebagian negara yang mengatasnamakan Islam itu sudah mewakili dari umat Islam dari seluruh dunia.

Jika mereka juga paham tentang mekanisme penentuan KHL kebutuhan hidup layak untuk penetapan UMK harusnya mereka juga tahu jika KHL itu didapatkan dari survei kebutuhan dari seorang lajang, berapa kebutuhanya sehingga dikatakan layak, mulai dari tempat tinggal, kebutuhan makanan sehari-hari, kesehatan, dan pendidikan.

Kalaupun mereka tahu ini, masa ya masih punya pikiran bahwa gaji buruh itu sudah lebih dari cukup meskipun buruh itu sudah berkeluarga. Dan bagi kalian yang masih sibuk membenci buruh, tolonglah tak perlu ceramahi untuk hidup hemat, untuk banyak bersyukur dan menambah beban mereka. Mereka sudah sangat bisa kok untuk bersyukur, dan hidup hemat tanpa kalian ceramahi.