Dalam teori Veblen, realitas tercipta atas dua dasar selain produksi kapitalis, yakni konsumsi dan waktu senggang untuk pamer. Nilai sebuah realitas tercipta melalui kedua dasar tersebut. 

Jika kita mengonsumsi barang mahal, maka kita akan disebut orang kaya. Sedangkan, waktu senggang itu berasal dari waktu luang yang dimiliki oleh sebuah jabatan. Jika kita seorang manajer, maka waktu luang kita akan banyak. 

Dan kata manajer itu identik dengan posisi kekayaan. Itu pun jika kita mengkajinya lebih dalam, tidak akan lepas dari dasar pertama: di manakah kita menghabiskan (pamer) waktu senggang kita? Mall, taman hiburan, atau di tempat mewah lainnya? 

Sedangkan kata buruh dalam segi posisi produksi sangat minim waktu dimilikinya. Itu disebabkan waktu buruh lebih banyak bekerja dibandingkan dengan para atasannya.

Di manakah logikanya buruh anak? 

Tidak sedikit yang melawan dan menolak mempekerjakan anak. Dan mereka tentunya memikirkan batasan umur mereka. Toh, hanya dengan umur, kita tahu jenjang usia manusia, dari anak-anak, remaja, sampai manula.

Pikiran di atas mungkin pemikiran logis, sekaligus psikologis, tetapi pada kenyataannya berbeda, semenjak tidak setiap anak memiliki orang tua yang sama. Dalam artian, mereka memiliki latar pekerjaan yang berbeda. 

Selain itu, penghasilan mereka juga menandai kurangnya perhatian mereka terhadap batasan usia tersebut. Mungkin akan terlihat manusiawi jika semua orang adalah manajer atau seorang atasan. Namun, tidak akan terlihat manusiawi jika kita hanya memiliki pekerjaan yang tidak sama sekali seperti seorang atasan, atau bahkan terlihat buruk jika tidak ada pekerjaan sama sekali. Teori ini akan terlihat konyol semenjak terlalu idealis. 

Namun, ini patut diperhatikan. Batasan umur menandakan hak seorang anak. Dan hak seorang anak itu adalah waktu bermain. 

Seorang buruh anak mungkin tidak punya waktu luang semenjak dia seorang buruh. Belum lagi jika dia bersekolah. Waktu luangnya akan dihabiskan di dua tempat itu. 

Anak yang menjadi buruh mungkin karena mereka memiliki keterpurukan ekonomi. Dan itu disebabkan pekerjaan orang tuanya. Mereka yang bekerja di jalanan membutuhkan bantuan tangan terdekat dan itu datang dari keluarganya. Maka pilihan bersekolah pun terganggu. 

Di sekolah, anak-anak masih dapat bermain di waktu istirahat. Di sekolah, anak-anak masih bisa menjalankan haknya; sedangkan bagi seorang buruh anak, sekolah itu hanyalah buang-buang waktu belaka. 

Namun, ada teori menarik tentang persoalan bermain. Kita tahu bahwa anak-anak seharusnya memiliki waktu bermain. Ketika seorang anak menjadi buruh, maka waktu bermainnya pun makin tidak jelas. Ini bisa memicu penyakit mental. 

Pernah terdapat kasus seorang remaja membakar rumahnya karena orang tuanya tak bisa membelikan sebuah handphone. Ini jelas mencerminkan teori tersebut. 

Lantas, mengapa dia ingin memiliki sebuah handphone tersebut? Mungkin karena dia kurang bermain semasa dia masih anak-anak. 

Selain itu, teori Veblen ikut ambil andil dalam bagian ini. Teorinya tentang konsumsi untuk pamer mewarnai kasus ini. Jika ada seseorang memperlihatkan sebuah handphone canggih, maka tidak menutup kemungkinan salah satu temannya akan mengikutinya.

Di lain kasus, ada seorang anak yang malah membunuh orang tuanya di suatu daerah. Ini jelas sudah menghasilkan kelainan jiwa. Namun, anehnya, justru kasus seperti ini dengan mudah kita abaikan. 

Pengabaian kita juga merupakan hal yang menarik untuk dikaji. Apakah kasus seperti ini diabaikan karena kurang menarik sehingga kita tak bisa menikmatinya? 

Apakah menikmati sama dengan bermain? Apakah kita sebagai pembaca tulisan ini menemukan tulisan itu sebagai suatu kenikmatan? Ataukah kita membaca karena kondisi ekonomi kita? 

Tidak sedikit anak-anak yang sudah beranjak dewasa tidak memiliki masa indah sewaktu kecil, atau tidak memiliki waktu bermain. Sehingga, mereka yang dewasa bekerja di kantornya masing-masing justru menganggap pekerjaan itu sebagai permainan. Kata lainnya, mereka ingin menikmati. Ini memicu penyakit mental. 

Seharusnya mereka yang dewasa bisa membedakan mana yang untuk pekerjaan dan kapan waktunya bermain. Jika tidak, kasus psikopat (pengidap penyakit mental) akan terus bermunculan. 

Baru-baru ini terjadi di suatu daerah, seorang dosen doktor membunuh rekan kerjanya. Apakah mungkin karena dia ini tidak membedakan mana yang untuk kerja dan mana untuk bermain? 

Buruh anak memang tak bisa dimungkiri keberadaannya. Dan itu terjadi karena tak meratanya pekerjaan orang tua mereka, atau keterbelakangan ekonomi. Ini bisa saja memicu penyakit mental. Itu disebabkan karena tidak adanya waktu lagi bagi mereka untuk bermain. Ada yang ingin menjaga hak anak-anak ini melalui batasan umur. 

Namun, kenyataannya berkata lain. Kasus-kasus penyakit mental selalu saja bermunculan. Kejadian seorang remaja yang membakar rumahnya hanya karena orang tuanya tak mampu membelikan sebuah handphone. Ataukah kasus seorang anak yang membunuh orang tuanya. 

Dan tidak sedikit dari kita tak memiliki masa indah semasa kecil, sehingga seketika kita dewasa kita lebih suka bekerja sambil bermain. Mungkinkah Anda juga salah satunya?