Maaf, kata yang harus terucap di awal sebagai pembuka.
Karena langkahku ini benar atau salah, aku buta.
Kuharap kau mengerti, apa arti gerimis malam ini.
Bukan hanya gerimis air, tapi gerimis perasaan hati.

Mengapa hujan selalu dikaitkan dengan perasaan?
Mengapa hujan mengandung kenangan?
Dan mengapa setiap kali hujan aku menuliskan sebuah tulisan?
Aku tak dapat menjawab, aku sudah menari dalam angan.

Terbakar dalam api, yang menghabiskan setiap pohon di hutan.
Kau buatku merindu, terbunuh, dan terbakar dalam perasaan.
Semakin bingung tak tahu arah jalan.
Hanya dapat melihat bulan.

Hai bunga, kau terlanjur ada dalam tulisan.
Kau terlanjur ada dalam bayangan.
Kau terlanjur ada dalam angan.
Kau terlanjur ada dalam kerinduan sang bulan.

Sekarang, mungkin kau jadi bunga orang lain.
Biarlah bulan menari di atas api untuk menunggumu, bunga.
Jikalau orang lain itu menyakitimu, bulan akan marah.
Tapi kemarahannya tak kan berarti apa-apa bagi kau bunga.
Karena bunga tak butuh api kemarahan, cukup air yang buat kau merekah.

Kopi malam ini, semakin buat bulan menari-nari.
Cahayanya menyinari, tulisannya pun semakin menjadi-jadi.
Instrumen suara hewan malam, jadikan malam semakin berwarna, berirama mencari arti.
Tapi, ombak cemburu masih menghantam hatinya.

Mengapa bulan begitu menaruh hati pada bunga?
Air dan api, pun tak ada yang tahu jawabannya.
Hanya bulan sendiri yang tahu, dan ia sampaikan pada udara.
Bunga terlalu indah, menghargai sajak bulan dengan senyumnya.
Bulan hanyut dalam mimpi, bukan opini, persepsi, ataupun fakta.

Bunga, maafkan bulan.
Yang terlanjur jatuh cinta padamu.
Bulan kan menunggu kedatanganmu.
Bulan siap memberikan kenyaman di setiap waktu.
Setidaknya, bulan bisa buat bunga tersenyum bahagia.
Dan bulan memohon, tetaplah tersenyum, tetaplah merekah bunga.
Semoga.