Ada kalanya mempelajari sejarah menjadi sesuatu yang terasa hambar. Orang yang mengajari kita juga menerangkan dengan cara yang membosankan.  Buku-buku sejarah yang kita baca pun kadang-kadang tidaklah mudah dimengerti karena bahasa yang digunakan terlalu akademis. 

Pada kondisi seperti inilah, peran novel sejarah dibutuhkan. Kehadirannya dapat memulihkan semangat belajar sejarah. Bukan hanya itu, novel sejarah juga membuat kita semakin mensyukuri nikmatnya kemerdekaan, karena ia menyadarkan kita betapa sulitnya bangsa Indonesia ketika negeri ini masih belum mendapatkan kedaulatannya sendiri.

Salah satu novel sejarah yang saya pilih untuk memahami sejarah bangsa Indonesia adalah seri pertama dari Tetralogi Buru, yaitu Bumi Manusia.  Novel ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer selama masih di dalam penjara. 

Bagi saya, novel yang memiliki latar masa politik etis di Indonesia dengan spesifikasi latar tempat di Surabaya ini dapat memberi gambaran yang baik mengenai kondisi kehidupan sosial masyarakat Hindia Belanda—yang sekarang menjadi masyarakat Indonesia—di bawah kendali kolonialisme Belanda.

Novel ini diceritakan dari sudut pandang Minke, sang tokoh utama.  Minke adalah siswa HBS cabang Surabaya dan juga anak priyayi Jawa.  Ia merantau ke Surabaya demi melanjutkan pendidikan.

Suatu hari, teman Minke, Robert Suurhof, membawa Minke ke rumah seorang perempuan bernama Annelies Mellema. Annelies adalah anak yang lahir dari rahim Nyai Ontosoroh, yang bernama asli Sanikem, seorang pribumi yang menjadi gundik dari pria Belanda. 

Annelies dan Minke menjadi kian akrab setelah Minke semakin sering bertandang ke rumah Nyai Ontosoroh. Keakraban tersebut kemudian menimbulkan ikatan cinta di antara mereka. 

Nyai Ontosoroh sendiri tidak keberatan apabila Minke dan Annelies menikah, yang penting pernikahan berlangsung atas keinginan yang murni dari ke dua mempelai. Maka dimulailah kisah antara Minke dan Annelies, dan Nyai Ontosoroh.

Konflik di dalam novel ini rumit, entah itu konflik batin atau konflik keluarga. Banyak pertentangan dalam kehidupan Minke, terlebih saat ia makin sering berkunjung bahkan menginap di rumah Nyai Ontosoroh. Ada masa ia dihadapkan pada pertentangan: ingin mengikuti kata hati atau tradisi. 

Ia ingin selalu berada dekat dengan keluarga Mellema sebab ia memang begitu mencintai Annelies. Akan tetapi, kultur dan paradigma masyarakat pada saat itu tidak berpihak pada nyai-nyai. Para nyai dianggap memiliki citra buruk karena berstatus perempuan simpanan. 

Tinggal bersama seorang nyai akhirnya memang memicu kekhawatiran bagi ayah Minke.

Apa tidak kau pikirkan bahaya mengerami nyai? Kalau tuannya jadi mata gelap dan kau ditembak mati, mungkin dihajar dengan parang, atau pedang, atau pisau dapur, atau dicekik ... bagaimana akan jadinya? Koran-koran itu akan mengumumkan siapa kau, siapa orangtuamu. Malu apa bakal kau timpakan pada orangtuamu? Kalau kau tak pernah berpikir sampai ke situ.... (Bumi Manusia, halaman 185)

Minke selalu berusaha mengikuti kata hatinya dengan melawan tradisi yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Tentu butuh keberanian yang besar untuk dapat melawan kerasnya tradisi. 

Minke memiliki nyali besar yang ditopang dengan keteguhan hatinya, sehingga ia mampu melawan tradisi dan bertahan. Ia tetap tinggal di rumah Nyai Ontosoroh dan mencintai Annelies seperti Annelies mencintainya.

Kisah percintaan Minke dan Annelies juga menarik untuk disimak. Bagian ini juga mendapat porsi besar dan memang menjadi konflik utama dalam novel ini. Dalam proses ini, Annelies digambarkan memiliki ketergantungan terhadap Minke. 

Saat mereka sempat terpisah karena Minke harus menemui orangtuanya, Annelies mengalami kegalauan yang luar biasa dan menyebabkannya jatuh sakit. Minke sendiri juga mencintai Annelies, bahkan ikut merawat Annelies ketika ia sakit, padahal Minke juga belum benar-benar sembuh dari penyakit yang ia derita. 

Kisah percintaan yang terbangun antara Minke dan Annelies bukanlah cerita yang murahan. Kisah percintaan ini berjalan apa adanya dan jujur, sehingga romantisme mereka justru menjadi salah satu kekuatan utama dalam novel ini.

Dari novel ini pula kita dapat menyadari satu hal penting: hukum menjadi tidak berarti jika di dalamnya tidak ada keadilan. Tanpa disertai keadilan, hukum hanya menguntungkan salah satu pihak. Hal ini terlihat dalam konflik status anak yang lahir bukan dari pernikahan resmi. 

Bila sang ayah mengakuinya sebagai anak, maka ia bukan anak ibunya. Bila sang anak tidak diakui oleh sang ayah, maka ia dapat menjadi anak ibunya saja. Hal ini akan menimbulkan masalah jika sang anak memiliki ikatan batin yang erat terhadap ibunya. Jika sang ayah mengakuinya sebagai anak, maka ia bisa terpisah dari sang ibu.

Pada akhirnya, novel ini menyadarkan kita terhadap satu hal. Meskipun akses ke jalur pendidikan sudah semakin mudah, semua tidak ada artinya apabila hukum masih berpihak kepada kaum yang berkuasa. Hal ini masih relevan hingga sekarang. 

Walaupun sekarang ini sudah semakin banyak orang Indonesia yang menjadi sarjana bahkan doktor, tetapi jika hukum masih berpihak pada golongan tertentu, maka negara akan terasa seperti orang yang berjalan pincang. Novel ini juga akan menyadarkan kita betapa manisnya cinta sekalipun dalam menjalaninya, masalah akan selalu ada.