Desa tertinggal, itulah predikat yang harus disandang Desa Delima sejak 2011 hingga 2016. Salah satu sebabnya, karena mayoritas warga desa memilih keluar daerah untuk mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan hidup. 

Desa Delima ingin keluar dari keterpurukan. Akhirnya pemerintah desa bersama tokoh masyarakat mengambil langkah dengan berusaha membuat lapangan pekerjaan.

Cara tersebut dilakukan lewat kerja sama dengan anak perusahaan APP Sinar Mas, yakni PT Wirakarya Sakti, melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) pada 2017.

Program DMPA diawali dengan musyawarah secara partisipatif yang disebut Focus Group Discussion (FGD) untuk menggali potensi yang ada di desa dengan melibatkan pemerintah desa, penyuluh, tokoh masyarakat, pemuda, dan kelompok-kelompok calon penerima manfaat.

Dari hasil FGD itulah disepakati jenis usaha yang akan dijalankan, yaitu pembuatan pupuk kompos, pembesaran ikan lele, peternakan Sapi Bali, dan budi daya hortikulktura.

Dari beberapa usaha tersebut, PT Wirakarya Sakti memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan setiap unit usaha yang dijalankan kelompok masyarakat. Bantuan diberikan secara hibah kepada desa melalui BUMDes Karya Bersama sebagai pengelola.

Kemudian BUMDes mencatatnya sebagai aset yang nantinya akan dikembangkan, setelah kelompok mengembalikan modal beserta bunga sebesar 10 persen dari hasil usaha sesuai perjanjian yang disepakati bersama.

10 persen dari hasil yang diberikan oleh kelompok, kemudian BUMDes mengalokasikan dana itu untuk pengembangan modal usaha, biaya operasional, dan gaji pengurus BUMDes.

Dari semua unit usaha yang dijalankan, tahun 2017, BUMDes sudah mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 80 orang. 

Dalam perjalanannya, BUMDes makin banyak menarik minat warga untuk kembali dan bekerja di desanya sendiri. Sehingga pada tahun 2018, penyerapan tenaga kerja meningkat menjadi 151 orang.

Dari unit usaha pupuk kompos, para pekerja harian mendapat gaji mulai dari Rp80.000 sampai Rp100.000 per hari, tergantung jenis pekerjaan. Jika dalam satu bulan mereka bekerja secara penuh, maka penghasilan warga berkisar antara Rp2,4 juta sampai Rp3 juta per bulan. 

PT Wirakarya Sakti juga berkomitmen untuk membantu pemasaran dengan membeli produk pupuk kompos untuk kegiatan penanaman tanaman akasia dan ekaliptus. Pupuk dijual dengan harga Rp1.135 per kilogram.

Akasia dan ekaliptus adalah jenis tanaman kehutanan yang dibudidayakan oleh PT Wirakarya Sakti sebagai bahan baku utama dalam pembuatan kertas dan tisu. 

Tidak tanggung-tanggung, pada tahun 2018, pupuk kompos yang diproduksi mencapai 2.350 ton, yang terbagi dalam dua kali kontrak: pada bulan Maret sampai Mei sebanyak 350 ton dan pada bulan Juni sampai Desember sebanyak 2.000 ton.

Usaha pembesaran ikan lele yang dikelola oleh kelompok wanita tani tersebut tidak hanya dijual berupa ikan segar, tetapi diolah menjadi produk yang bernilai jual lebih tinggi, yaitu dengan mengolahnya menjadi menjadi Abon Lele.

Usaha peternakan Sapi Bali juga telah berkembang. Dari total bantuan awal sebanyak 70 ekor, kini menjadi 200 ekor dan telah bergulir kepada masyarakat lain.

Di bidang usaha hortikultura, dengan areal seluas 0,5 hektare, kelompok tani berhasil mengembangkan budi daya tanaman kacang panjang, terong, dan cabe Rrawit. 

BUMDes menerapkan sistem bergulir untuk setiap unit usahanya, seperti yang dianjurkan oleh perusahaan. Hal itu bertujuan memberi kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat yang membutuhkan dan peningkatan ekonomi masyarakat dapat merata.

“Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil.” Demikian slogan yang sering kita dengar ini ternyata benar-benar dirasakan oleh BUMDes Karya Bersama. 

Hasil usaha pada tahun 2018 telah mencapai Rp690 juta lebih. Dari angka tersebut, ia mampu menyumbang pendapatan desa sebesar 20 persen atau lebih dari Rp138 juta.

Prestasi yang telah diraih adalah menjadi salah satu BUMDes terbaik tingkat Nasional pada tahun 2018. Tidak hanya itu, atas keberhasilan BUMDes menjalankan programnya, Direktur BUMDes pernah menjadi narasumber di sebuah acara yang diselenggarakan di Provinsi Jambi.

Desa Delima yang yang berada di wilayah Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat itu juga sering dikunjungi desa lain yang ingin belajar tentang pengelolaan BUMDes, baik desa dari kabupaten lain maupun desa dari provinsi lain.

Saat ini BUMDes sedang bersiap untuk menghadiri sebuah acara bergengsi di Cina.

Kini, Karya Bersama berupaya terus mengembangkan usahanya. Terbukti telah membuka BUMDes Mart di Desa Delima dan Desa Purwodadi pada awal bulan Januari 2019 dan telah menyerap tenaga kerja sebanyak 7 orang.

Hanya dalam kurun waktu satu bulan, usaha tersebut telah mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 28 juta.

Tahun 2019 ini, BUMDes menargetkan dapat menyumbang pendapatan desa sebesar Rp150 juta. Dari sisi usaha, BUMDes juga berencana menjadikan Delima sebagai desa wisata.

Adanya tempat wisata, maka beberapa peluang usaha akan tercipta. Misalnya, masyarakat bisa berjualan dan dapat memberdayakan para pemuda desa sebagai pengelola tempat wisata.  

Tidak hanya itu, BUMDes juga berencana membangun UKM yang melibatkan ibu-ibu rumah tangga dan para pemuda sehingga dapat menambah daya tarik bagi desa Delima, agar semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke desa ini.

BUMDes Karya Bersama berkomitmen terus mengembangkan usaha sesuai potensi di desa dan berupaya agar seluruh masyarakat dapat menikmati hasil kerja sama antara pemerintah desa, BUMDes Karya Bersama, dan PT Wirakarya Sakti, sehingga masyarakat berjaya di desanya sendiri.