Tak terasa, hari raya Idul Fitri kurang 350 hari lagi. Rasanya baru kemarin kita merayalakan hari raya, beneran. Rasanya masih kemaren kita modus minta maaf kepada mantan seraya mengharap balikan,

Eh, ane udah hijrah akhi, (move on versi Syariah dan bersertifikat halal dari Kecamatan). 

Ngomong-ngomong, hari raya kali ini serasa berbeda dengan tahun kemarin, mungkin bukan saya aja yang merasakannya, kalian pastinya jugakan. 

Iya, selain beda tahun dan beda tanggal tentunya, hari raya kali ini begitu berbeda dengan kemarin lantaran ane udah hijrah (move on). Dari cinta yang salah, menuju cinta yang semoga ndak salah.

Jadi, please ya uhkti jangan buat ane hijrah lagi dari ini, sebab Iktilaf li ummati Rahmatun, tetapi keseringan Khilaf itu bukan rahmat, tapi doyan. 

Ya, memang Idul Fitri menjadi momentum kita kembali ke fitri, bukan Wulan, apalagi Supri. Dan terkadang banyak dari kita yang memanfaatkan Idul Fitri menjadi moment yang begitu berharga, 

Salah satunya adalah menjadi ajang silaturahmi berbasis modus ke orangtua pacar, calon icikiwir, mantan belahan hati, guru, dinas pendidikan, bapak camat, duta besar hingga banser.

Namun, ada yang lebih hebat lagi dalam memanfaatkan momen Idul Fitri ini, ia memanfaatkanya menjadi ajang silaturahmi bila resepsi, mengantungkan status single menuju double, dari sendiri menjadi kami, dan dari jomblo menjadi ....ah, sudah pusing saya nyari kata yang sesuai.

Memang, hari Idul Fitri merupakan hari layak dijadikan hari mantenan, alasannya sih, ndak perlu repot-repot mikir, selain masih banyak THR (turahan Hari Raya), mereka juga bertabaruk kepada pernikahan Nabi dengan Sayidah Aisyah.

Seorang wanita yang begitu cerdas, termasuk periwayat hadis perempuan terbanyak, dan di juluki Khumaira (yang berpipi kemerah-merahan) oleh Nabi, tapi dijuluki Siti oleh orang Jawa, makanya banyak yang menyebutnya Siti Aisyah, dan karena pean-pean iki sek dolor karo aku, tak kandani ya. 

Siti kui asline kepanjangan saking Sayidati, lah wong Jowo kui pinter, timbang kesuen nyeluk, celuk wae siti. Enak to dadi Jowo.

Dan saking banyaknya undangan nikahan, alhamdulillah saya memutuskan untuk tidak masak seminggu, sebab "berkat" begitu banyak dan bertumpah ruah, apalagi jadwal sudah penuh untuk ikut rewang di nikahan saudara dan tetangga,

Alhasil saya sudah sepakat untuk menunda program diet yang sudah saya niatkan hampir tiga tahun yang lalu. Tapi, bukan itu masalah terbesar. Masalah terbesar adalah pendengaran. Ya masalah telinga yang bisa panas hanya karena ikut nimbrung di nikahan. 

Sebab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Syaihuna Meme, dari Saikhuddunya, al alim bil ilmihi, riwayat facebook wa google, melalui jalur google map dan riwayat lain melalui google earth.

Menyatakan bahwa "barangnya siapa, eh. Barang siapa yang sendirian di bulan Syawal, sedangkan dia jomblo berkarat, ditinggal nikah atau ditikung teman, dan jika ia bersabar atas pertanyaan "kapan kawin? kapan nyusu eh, nyusul " dari saudaranya, maka surgalah balasan yang setimpal baginya, Hadas Kecil riwayat Facebook. Ingat, ini hanya maqolah (ungkapan). 

Itu hanya sawal saja, apalagi ketika Sawal berbarengan dengan nikahan, kalo dilihat dari ilah-nya (problem yang dapat dijadikan alasan untuk mengQiaskan Hukum), maka ia wajib mendapatkan surga Combo.

Sebab durasi pertanyaan ketika di bulan Sawal plus nikahan, semakin insentif, padahal pertanyaan itu sangat tidak layak didengungkan kepada jomblo, baik jomblo radikal, jomblo moderat hingga jomblo liberal.

Hingga saking seringnya sampai dia sudah hafal "makrifat" weruh sak durungu winarah, ketika ada saudara yang "ngerentek" di dalam hatinya ingin bertanya kepada dia kapan kawin. Ia langung menjawab, "stooppp!!!"

Namun, ada beberapa jawaban yang layak dipertimbangkan bagi kalian para jomblo militan, yakni pertama, cukup senyumin, meskipun dalam hati ngomong "Asu". Inget, ini jawaban seorang jomblo radikal.

Kedua, jika ada yang bertanya kapan nyusul, jawab dengan santai, "lo, pak lek winggi sektas wafat, peyan kapan nyusul?" kalo ini Jomblo Moderat. 

Ketiga, yang paling aman, jawab dengan santai, "Maap saya berkembang biak dengan membelah diri. Jomblo liberal memang banyak akal.

Dan terakhir, saya mengucapkan selamat menempuh hidup baru bagi yang menikah tahun ini. Semoga jadi langgeng, selanggeng Adam dan Hawa, dan toko langgeng. Dan diberi keturunan layaknya keturunan Nabi Ibrahim.

Yang keturunannya menjadi Nabi dan Rasul, tapi saya tidak mendoakan supaya anak anda menjadi Nabi dan Rasul lo, sebab tidak ada Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad. Mosok saya mendoakan untuk jadi Nabi dan Rasul palsu, hasil nembak. Inget cukup SIM saja yang nembak, Nabi, Rasul, Habib jangan.