Entah tulisan ini termasuk tulisan genre apa? Cerpen, essai atau artikel ecek-ecek lainnya. Tapi intinya pada kesempatan ini saya akan sedikit membagi pengalaman tentang perjuangan melanglang buana untuk mencari buku bekas berkualitas di seantero pojokan Jakarta.

Jaringan buku bekas di Jakarta boleh dibilang paling ramai dibandingkan dengan jaringan di kota lainnya seperti di Jogja atau Surabaya. Saya bukan seorang penjual, hanya mahasiswa miskin yang suka main-main ke toko-toko buku bekas. 

Minimal dari ketiga kota itu, saya lebih merasa disambut oleh buku-buku tua nan kharismatik ketika menjajal toko-toko yang ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Tentu ada perbedaannya, namun dari ketersediaan buku bekas yang ada, jaringan buku bekas di Jakarta boleh dicoba. Masalah harga? Itu beda lagi.

Bagi saya pribadi, buku bekas memiliki daya tariknya sendiri. Pancaran karomah dan spirit yang diperlihatkan buku-buku ini sungguh menawan dan bikin ketagihan. Buku bekas yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah buku-buku terbitan tua yang mayoritas tidak diterbitkan kembali saat ini. 

Alasannya bukan sebatas karena harga murah atau ketidakmampuan untuk membeli buku baru. Bahkan memang pada kenyataannya, buku bekas yang ada, terutama judul-judul tertentu, cukup mampu menghancur leburkan jatah makan sebulan saya.

Bukan hanya itu, buku bekas sejatinya menyimpan memori kesejarahan yang cukup panjang hingga bisa utuh sampai saat ini. Selain kualitas kertas dan lem perekatnya, buku-buku jaman dahulu juga menyuguhkan parodi masa lalu yang terekam langsung lewat aroma tintanya. Dan saya pribadi lebih menyukai buku tua yang tak lagi rapi; memiliki banyak retak pada kertasnya, ada noda-noda atau bekas-bekas tanda bahwa buku ini sudah melalui beberapa masa.

Ini bukti bahwa buku tersebut sudah mengembara; berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu rumah ke rumah lainnya. Jangankan mulai membuka halaman dan membacanya, membayangkan decak-decak kertasnya saja sudah seperti menonton sebuah drama laga. Dan entah mengapa, bagi saya, buku-buku semacam ini memberikan satu pengalaman spiritual yang mampu menghubungkan saya dengan masa lalu.

Dari sekian banyak perburuan yang saya lakukan, buku-buku beraromakan pesantren adalah perburuan yang mungkin layak untuk diceritakan. Dan dari sekian banyak buku tua beraromakan pesantren tersebut, buku “Berangkat Dari Pesantren” karangan Kiai Saifuddin Zuhri menyimpan kenangan tersendiri. Berikut kisahnya:

April 2013 - Perburuan pertama yang tak kunjung mendapatkan hasil.  Dengan klimaks yang sudah tidak bisa ditahan lagi, fotocopy menjadi solusi satu-satunya, sementara. Saya cari buku aslinya di perpustakaan lalu saya gandakan. Untungnya, kini fotocopy sudah mapan dan canggih. 

Orang yang tidak teliti akan sulit membedakan mana buku asli, mana yang fotocopy. Eng ing eng... Ini dia buku “Berangkat Dari Pesantren” pertama saya. Jantan nian bukunya, bersampul cokelat sebagaimana aslinya. Agar nilai historisnya masih terjaga, saya pesan dengan kertas kuning. Lihat! Tidak ada beda dengan aslinya.

Oktober 2013 - Waktu pun berjalan hingga tiba di setitik menit tahun 2013. Ada yang berbisik kepada saya samar-samar. Ia menyuruh saya bermain sebentar ke sebuah toko buku sekedar ngadem, karena berjalan kaki sejarak kampus-asrama yang cukup membuat saya berkeringat, ya liat-liat juga. Tidak ada niatan membeli sama sekali!

“Uang lagi pas-pasan, tidak kurang tidak lebih, masih banyak keperluan yang harus dipenuhi,” begitu pikir saya. Sampai di toko tersebut, nostalgia perburuan saya terpacu kembali setelah melihat terbitan baru “Berangkat Dari Pesantren” yang diterbitkan oleh salah satu penerbit Yogyakarta. 

Bah, sikat! Lah, katanya ada kebutuhan? Tenang, kebutuhan-kebutuhan itu bisa dulu disingkirkan. Tanpa disadari dan tanpa direncanakan, buku “Berangkat Dari Pesantren” edisi baru ada di rak saya.

Dalam dunia sihir (Harry Potter) ada aforisma bahwa “tongkat sihirlah yang memilih penyihirnya”. Saya juga punya keyakinan serupa soal buku bekas tua bahwa “buku tualah yang memilih pembacanya”.

Keyakinan ini tidak mengarah pada makna ekonomis atau kesanggupan membeli, akan tetapi lebih pada faktor emosi-spiritual yang berkaitan dengan unsur kepantasan. Mengapa? Karena buktinya, ketika kantong saya tebal, saya telusuri hingga ujung Jakarta, “Berangkat Dari Pesantren” tak berhasil saya dapatkan. Justru fotocopiannya, yang pasti lebih murah secara harga. Pada tahap perburuan kedua, dengan uang ala kadarnya saya berhasil mendapat edisi terbarunya?

Perburuan saya anggap belum selesai. Saya terbukti masih ketagihan dengan yang lama-lama. Dalam rentan waktu setahun, perburuan masih saya lakukan. Buku “Berangkat Dari Pesantren” seperti biasa, sembunyi diam-diam, sama sekali tak menampakkan ujung hidungnya. Tapi saya sadar, ini tentang kepantasan. Membaca buku sekeramat itu tentu perlu proses, jangankan membaca, membelinya juga butuh kesabaran sufi yang tak rendah.

Mulai saat itu saya paham mengapa di pesantren dulu seluruh santri tidak bisa mengikuti pengajian “al-Hikam”. Hanya santri-santri yang cukup tua dan punya pengalamanlah yang diperbolehkan ikut dan mendalami kitab tasawwuf tersebut. Coba, apalagi kalau bukan masalah kepantasan? Masalah kadar kekuatan spiritual dan kestabilan emosi? Meski dipaksakan ikut, pasti tidur ngiler plus gak paham.

Desember 2014 – Di sebuah toko buku bekas, secercah sinar “pesantren” membentur kepala dan menyodok masuk ke dalam mata saya. Itukah permata yang selama ini mengganggu saya? Benar-benar gagah. Buku tua pesantren yang asli memang memiliki kharismanya tersendiri. Lama saya tak berkedip. Pantulan matahari di liukan pinggulnya memukul-mukul pipi saya. Cantiknya...

Tanpa pikir lama, tanpa peduli dengan harga dan lembaran uang pinjaman di dompet saya, saya timang buku tua itu tinggi-tinggi. Saya cium aroma khas kitab kuning yang sering saya rasakan dulu. Makan? Ah dengan melihatmu aku sudah sudah merasa kenyang kok..

***

Di tengah rezim penerbitan kapitalistik dan maraknya dunia tulis menulis yang honoristik, saya menganggap buku bekas sebagai sebuah perlambang bahwa peradaban yang dibangun dari dunia tulis-menulis adalah peradaban yang didasarkan pada keikhlasan, peradaban yang didasarkan pada semangat untuk menggerakkan perubahan. 

Menulis adalah totalitas, dan buku-buku bekas tua itu menunjukkan pada saya bagaimana totalitas benar-benar mengabadikan sebuah karya dan penulisnya. Buku yang melahirkan banyak buku.