Suwardi Endraswara adalah seorang pria yang lahir di Kulonprogo, 03 April 1964. Belajar sastra dan budaya Jawa di IKIP Yogyakarta tahun 1989. Sejak itu, dipercaya menjadi staf pengajar di almamaternya, yang sekarang menjadi program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, FBS UNY. Program S2 ditempuhnya di fakultas Ilmu Budaya UGM.

Begitu biografi singkat penulis yang kubaca di belakang buku yang berjudul, Metodologi Penelitian Kebudayaan. 

Masih dari belakang buku Metodologi Penelitian Kebudayaan, pada paragraf pertama tertulis: Ilmu-ilmu humaniora di Indonesia telah berkembang dengan subur, terutama di lingkungan perguruan tinggi dan di sejumlah LSM yang tertarik pada pusaran budaya. Kebudayaan yang telah berkembang menjadi beberapa cabang menghendaki pengkajian dan penelitian yang lebih mendalam agar dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia itu sendiri.

Di paragraf kedua tertulis: melalui pemahaman metodologi yang jelas, penelitian kebudayaan akan mencapai hasil yang menggembirakan. Buku Metodologi Penelitian Kebudayaan ini mencoba sedikit menuntun para peneliti kebudayaan agar tidak berjalan dalam kegelapan. Buku ini membahas mulai dari problematika penelitian kebudayaan, telaah budaya etnografi dan folklor, interaksionisme simbolik, dan masih banyak lagi. 

Setelah membaca ini, aku merasa jalanan yang aku lalui yang ingin menjadi peneliti menjadi terang benderang, buku ini akan menuntunku. Walau aku terlambat memiliki buku yang kubeli awal Juli 2019 dan telah cetak keempatnya: Februari 2017. Sejak cetak awalnya, April 2013. 

Kata penulisnya dalam catatan penulis, 

"... sejak saya sering terlibat dalam penelitian kecil-kecilan sampai penelitian yang agak besar tentang budaya. Pada saat itu hingga sekarang, boleh dikatakan saya belum menemukan buku metodologi penelitian kebudayaan. Keadaan ini mengusik pikiran saya untuk mencari dan menyusun buku ini."

Lanjut di catatan penulis, 

"Sedikit perlu saya tegaskan bahwa kebanyakan awam sering menamakan metode penelitian dan ada yang merancukan dengan metodologi. Karena itu, dua hal ini saling terjalin, maka perlu diperjelas. 

Metodologi penelitian kebudayaan yang dimaksud di sini menyangkut ihwal metode, landasan pikir, dan sejumlah ilmu-ilmu pembedah kebudayaan. Sedangkan metode lebih sempit lagi telah operasional ke langkah-langkah nyata penelitian kebudayaan itu sendiri. Jadi, metodologi dipandang lebih luas dan mencakup metode penelitian kebudayaan."

Aku pikir, buku ini memang penting sekali aku baca untuk memanduku meneliti dan menulis penelitian bertema budaya. Penerbit buku, Gadjah Mada University Press (Anggota IKAPI). Buku yang padat punya 255 halaman.

Aku membaca daftar isi, mulai dari: 

1. Problematik penelitian kebudayaan. 

2. Epistemologi penelitian kebudayaan.

3. Paradigma penelitian kebudayaan.

4. Model telaah budaya: etnografi dan folklor.

5. Model telaah budaya: interaksionisme simbolik, grounded theory, dan cross cultural studies.

6. Model telaah budaya: studi kasus, analisis konten, dan life history.

7. Teori-teori klasik penelitian kebudayaan.

8. Teori-teori modern penelitian kebudayaan.

9. Teori postmodernisme dan postkolonial penelitian kebudayaan.

10. Ragam penelitian kebudayaan: religi dan ritual.

11. Ragam penelitian kebudayaan: budaya politik, budaya psikologi, dan kebijakan budaya.

12. Aplikasi metode penelitian kebudayaan.

Lampiran: contoh proposal penelitian kebudayaan.

Daftar isi dan indeks.

Wow, komplet! Apalagi contoh proposal penelitian kebudayaan itu dari tulisan penulis buku itu sendiri, bapak Suwardi Endraswara yang berjudul Mistik kejawen di hotel Natour Garuda Yogyakarta.

Di dalam proposal itu berisi: latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan penelitian sebelumnya, landasan teori, dan metode penelitian.

Buku (antara) "Ah, teori!" dan "Ini praktiknya!"

Kajian buku ini sangat terstruktur dan kaya akan teori. Dengan buku ini, tidak ada lagi kata-kata, "Ah, teori." (meniru iklan). Namun buku ini memberikan kalimat jawaban, "Ini praktiknya." (meniru iklan, lagi).

Maksudnya, buku yang berisi teori-teori penelitian dan model telaah penelitian berisi banyak teori yang "gampang" untuk diaplikasikan.

Walau kini model penulisan penelitian kebudayaan sudah lebih banyak berkembang dengan cara penulisan yang berbeda-beda. Apalagi kata seorang kawan, terkadang (penulisan penelitian) keluar dari pakemnya

Namun buku ini tetap wajib baca karena akan sangat mengarahkan ke sistematika penulisan budaya dan landasan teori-teori yang dibutuhkan yang berhubungan dengan penelitian kebudayaan.

Seperti saat ini, aku sedang meneliti penelitian kebudayaan, yaitu kajian tentang mantra. Mantra yang terbagi dua ranah, lisan dan tulisan. Untuk mantra yang menjadi landasan teoriku adalah teori hermeneutik. 

Mengapa (harus) hermeneutik? Karena menurut isi buku, bahwa pemaknaan budaya saat ini memang cenderung ke arah penafsiran. Penafsiran budaya cenderung memandang fenomena budaya sebagai sebuah teks. Teks tersebut dapat ditafsirkan sekehendak peneliti. 

Oleh sebab itu, dalam banyak hal, pemahaman budaya justru dekat ke arah kemanusiaan dibanding ilmu alam.  Dari paham ini, belakangan muncul gerakan tafsir kebudayaan yang mulai dikembangkan Geertz. 

Tafsir kebudayaan merupakan langkah atau penerapan model hermeneutik terhadap kebudayaan. Secara harafiah, hermeneutik berarti "cara membaca" fenomena budaya. 

Namun, makna ini berkembang ke arah pemahaman dan atau penafsiran terhadap budaya. Dalam kaitan ini, penelitian budaya dituntut untuk membaca lebih jernih terhadap fenomena budaya yang dihadapi (halaman 123).

Kan' jelas, kan? Harus aku baca baik-baik bukunya agar aku mendapatkan teorinya. Anyway, terima kasih Pak Suwardi Endraswara atas buku yang keren ini. 

So, must read! Karena buku ini menuntun kita, bagi yang sedang melakukan penelitian kebudayaan agar tidak berjalan dalam kegelapan. Tapi, kalau aku berjalan sendirian meneliti bagaimana, dong? Maukah kau menemaniku minimal membaca buku ini bersama-sama?