Siapa sangka teman perempuan saya lebih mengingat pernikahan Pangeran Harry dengan Meghan Markle dari pada hari kelahiran saya. Di hari yang sama, teman-teman saya merayakan ulang tahun seorang revolusioner dari Vietnam, Ho Chi Minh, bukan memberikan ucapan “selamat” kepada saya. Tidak apa, saya mencoba memahami perilaku ini.

Jika kepala adalah kota maka ingatan tak lain bangunan yang berdiri mengisinya. Ingatan kolekif dan kejadian besar layaknya bangunan agung yang alamatnya mudah dihafal. Angka-angka, kemerdekaan, dan kejadian memilukan atau memalukan, misalnya. Tapi beberapa dari sebagian besar bangunan adalah rumah kecil terlupakan, rapuh dan mudah roboh, yang pada akhirnya tergusur tergantikan bangunan yang lebih mutakhir.

Freud pernah menyebut, lupa adalah bentuk aktivitas psikis tidak sadar. Ia memberikan contoh dengan mengisahkan seorang murid yang lupa mengeposkan surat. Dalam kejadian tersebut , Freud merefleksikan lupa yang dialami murid itu karena surat tersebut berisi sesuatu yang berat baginya. Sesuatu yang sebenarnya tidak ia inginkan. Sehingga, tanpa disadari, ia akan melupakan kapan waktunya mengirim/mengeposkan surat tersebut. Mungkin lupa memang selalu memiliki maksud politis tersendiri.

Namun, bagaimanapun kota ingatan memang tidak terlalu luas, bahkan kadang berlamat dan beralamat sangat rumit. Dari sinilah manusia berupaya menemukan alat atau metode pengarsipan guna mengabadikan ingatan tersebut—atau paling tidak menciptakan peta. Mencegah lupa muncul sebagai alasan purba yang diulang-ulang. Alat tersebut tidak dimasukkan dalam kepala, tapi di luarnya, melalui tulisan, antar-lisan, gambar, atau apa saja. Dalam hal ini salah satu alat itu adalah buku.

Pada mulanya memang sebuah catatan masa tertentu. Bentuk penanda denyut jaman, politik, hukum, sosial, dan dialektika sejarah yang tercipta dari narasi serta tradisi tulis menulis. Sebuah perjalanan panjang, barangkali, dari prasasti batu; daun lontar dan serat kayu; hingga tradisi literer yang bertransformasi tidak hanya pada lembar kertas dan buku-buku. Namun, sama halnya dengan kota dalam kepala, ingatan tertulis seringkali dihancurkan demi suatau kepentingan.

Sebagai wadah bagi ingatan, buku adalah kesatuan rasional yang mengobjektifikasi ingatan melalui media cetak maupun tidak. Barangkali sebuah usaha mnemonik. Atau perlambangan wawasan yang berakhir pada metafor: “jendela dunia”. Buku bisa berwujud apa saja. Tapi seperti tertulis di paragraf sebelum ini, seringkali buku dihancurkan demi suatu kepentingan tertentu. Perihal penghancuran buku dapat dipinjam dari ingatan Fernando Baez yang tercatat dan diterjemahkan dalam buku Penghancuran Buku dari Masa ke Masa.

Sejak peradaban Sumeria, sekitar 5.300 tahun lalu, di antara sungai Efrat dan Tigiris, hancurnya catatan atau prasasti sudah terjadi. Penghancuran saat itu bukan saja karena bencana alam, tapi perang yang berujung pada alasan destruktif terhadap teks-teks. Selain itu pemusnahan besar-besaran ada pada episode Alexandria. Dan melompat jauh, pada abad 13, di mana Dante Aligheiri hidup, tepatnya tahun 1318 risalahnya yang berjudul De Monarchia dibakar di Lombardi. Tidak berhenti di situ, kebrutalan ini terus terjadi hingga abad-abad selanjutnya.

Tercatat, revolusi besar dan lahirnya Uni Soviet, di awal pemerintahan, memang terjadi pemulihan kebebasan pers sebagai bentuk keterputusan dengan pemerintahan sebelumnya. Tetapi, negeri yang tercipta berkat penggulingan Tsar Nicolas Romanof ini punya riwayat tak kalah buruk. Pada masa Lenin, istrinya, Nadezhda Krupskaya, menyapu bersih perpustakaan dari karya mengenai tsarisme dan kapitalisme. Aparatus sensor juga digalakkan untuk mencegah penyebarannya. Pun pada periode Stalin, banyak penulis yang dikirim ke Gulag atau kamp-kamp kerja paksa, yang salah satunya adalah Isac Babel, pengarang cerita pendek.

Di negeri ini demikian. Dalam esai Muhidin M. Dahlan, berjudul Refleksi Buku 2007: Tahun Pembakaran Total menyebutkan, 14.960 eksemplar buku sejarah dari 13 penerbit habis menjadi senyawa karbon. Adegan yang layaknya upacara agung ini terjadi pada 19 Juni 2007, dihadiri aparatur negara: TNI, polisi, hingga pegawai kejaksaan,  

Terbaru terjadi di Pare, Kediri. Aparat yang terdiri dari komando Distrik Militer (Kodim) daerah setempat menyita ratusan buku yang dianggap bernapaskan komunisme. Penyitaan sumber literasi milik sipil ini dilakukan secara represif oleh pihak militer. Tindakan konyol yang berdalih pelanggaran TAP MPR Nomor XXV/MPRS/1966 Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI, memang tak terhitung jumlahnya di negeri ini.

Sebuah DNA jagal buku dan ketakutan lacur yang berkeliaran di kalangan militer. Bentuk paranoia yang menggeliat ini berdampak besar pada keberlanjutan ide, pemikiran, dan sejarah terkait. Apa lagi dalam kasus ini adalah komunisme yang di negeri ini lekat kaitannya dengan Partai Komunis Indonesia dan tragedi 65. Mereka mengabadikan hantu-hantu komunis dengan menyita buku-bukunya, membangkitkan kisah palsu, dan menggoda masyarakat dengan kesetiaan yang bodoh.

Seperti dan memang tidak ada bedanya dengan gerombolan fasis, Nazi di perang dunia. Pasca Paul von Hindenberg mengangkat Adolf Hitler sebagai kanselir, intimidasi terhadap serikat buruh, Yahudi, dan partai pesaingnya menggila dan berjalan sistematis. Salah satunya dengan menghancurkan berkas-berkas mereka. Kantor-kantor Partai Komunis diserang dan perpustakaan mereka dihancurkan. Pun arsip-arsip yang tersimpan di gedung parlemen Jerman, dibakar pada 27 Februari waktu itu.

Pada seruan Heil! selanjutnya yang dipimpin Joseph Goebbels, Nazi mengepulkan asap dari 25.000 buku yang bertentangan paham dengan mereka. Menurut Baez, waktu itu, Martin Heiddeger bersama mahasiswanya pun ikut membakar buku, yaitu karya Edmun Husserl. Pengendalian ini merembet jauh pada pembredelan banyak surat kabar. Salah satunya berujung pada pengeksekusian Julius Fuchik dan lahirnya karya monumental yang penuh kepiluan berjudul Notes from the Gallows.

Lantas apa bedanya antara revolusi yang berhasrat menghabisi era intelektualisme Yahudi di Jerman dengan pendendalian buku berbau marxisma-leninisma di Indonesia?

Di Indonesia, apa yang coba dilakukan tentara dengan memunculkan hantu komunisme untuk membenarkan tindakan mereka adalah tindakan mengerikan yang tidak berbeda dengan dua keganasan Nazi di atas. Secara dangkal kita bisa menganggapnya sebagai paranoia akan paham yang berbeda. Tapi sangat tidak memungkiri adanya keuntungan politis yang diraup beberapa pihak berkepentingan. Sebab, sosok yang terlanjur dicap heroik—tentara—oleh masyarakat dengan tindakan seceroboh apapun akan tetap dibela, bahkan dimanfaatkan secara politis guna kestabilan elektabilitasnya.

Lalu, apa enaknya hidup di negara yang menunggangi demokrasi tapi mengekang kebebasan semacam itu?

Saya membayangkan, buku-buku yang dibakar diganti dengan dihanguskannya tank-tank, mobil panser, dan mesin garuk. Mungkin itu sebuah langkah yang lebih baik dan cukup imbang. Kembali ke pembahasan. Di negeri Tuan Garuda ini, mungkin pengendalian terhadap buku merupakan buah bom waktu. Melalui Penetapan Presiden No. 4 Tahun 1963, pemerintah diperkenankan mengontrol barang yang dianggap mengganggu ketertiban umum. Ini yang dimanfaatkan Soekarno untuk melawan orang-orang kontra-revolusi dan rezim selanjutnya untuk menguatkan anti-anti-an yang lain. Budaya totalitarian. Perihal pengendalian buku, mereka memang susah di bedakan.

Saya mencoba memisahkannya dengan menganggap penghancuran adalah bentuk naluri. Jika pernyataan ini benar, pemanfaatan naluri guna pembebasan manusia dan alam lebih bermanfaat dari pada penghancuran buku. Ya, artinya, beberapa kombatan antagonis jauh lebih terhormat dari orang brengsek meski penuh tetek bengek lencana di dadanya. Negasi terhadap pemikiran merupakan tindakan sah. Tapi bagaimana dengan pengendalian dan bentuk kontrol yang berakhir pada pembatasan yang dungu?

Kota dalam kepala kembali mencatat apa yang telah ia baca. Tidak, bukan sesuatu yang lebih mengerikan ketimbang tank, nuklir, pabrik dengan jam kerja seperti jaman perbudakan, dan krematorium anjing liar. Bensin di tangan beberapa aparat akan lebih mengerikan dari tiga dinamit di pusat listrik pabrik pembotolan Coca-Cola. Beberapa pasang telinga dan mata mungkin gatal ketika mengetahui ketidakseragaman cara berpikir ini, baik bentuk ideologi atau gagasan remeh-temeh seperti pemilihan anggota dewan.

Namun, paling tidak saya masih bisa bersukur, ketika tetangga saya bertengkar akibat berdebat mengenai tanggal lahir anak mereka, tidak ada satu pun dari mereka yang membakar kepala lainnya. Sekian.